Uncategorized

MANAJEMEN MARAH

Suatu hari si teman baik berkeluh kesah. Ia bercerita jikalau semalam ia bertengkar dengan calon pasangan hidup nya. Penyebabnya sederhana. Hanya karena si calon pasangan hidup terlambat datang ke rumah si teman. Dan hal sederhana itulah yang membuat si teman marah.

Marah. Setiap orang pasti pernah marah. Marah adalah suatu hal yang manusiawi. Tetapi haruskah kita marah yang berlebihan untuk suatu hal yang sebenarnya bisa diselesaikan tanpa amarah?

Sebelum melampiaskan kemarahan, coba kita jawab dahulu pertanyaan-pertanyaan berikut ini :

Apakah ia sengaja membuat saya marah?
Dari contoh kemarahan si teman diatas, jika keterlambatan pasangan datang ke rumah si teman disebabkan karena faktor kemacetan di jalan atau orang tua sedang membutuhkan bantuannya maka sudah tentu ia tidak sengaja membuat si teman marah. Sehingga jika si teman meluapkan amarahnya karena sesuatu yang tidak disengaja oleh si calon pasangan hidupnya sudah tentu kemarahan nya menjadi tidak beralasan.

Ini sudah keberapa kalinya?
Sebelum meluapkan kemarahan coba diingat kembali apakah seseorang baru pertama kali membuat kita marah ataukah itu sudah berulang kali ia lakukan? Jika baru pertama kali nya membuat kita marah bisa jadi hal itu hanya karena khilaf semata. Dan yang pasti kemarahan kita tidak pada tempatnya. Namun jika ia sudah melakukan kesalahan berulang kali wajar jika kita menjadi marah. Akan tetapi kita tetap harus bisa mengendalikan kemarahan kita.

Apakah saya juga pernah melakukan hal yang sama?
Pertanyaan seperti ini perlu kita pertanyakan dalam hati kita. Sebagai pembelajaran bagi diri kita untuk selalu berpikir dan bertindak obyektif dalam hidup ini. Jangan sampai menimbulkan kesan yang tidak baik di hati orang lain kalau kita adalah orang yang egois. Yang hanya mementingkan perasaan kita saja. Tanpa pernah memikirkan perasaan orang lain.

Apakah saya hanya trauma?
Mungkin dalam hidup ini kita pernah mengalami kejadian yang sangat menyakitkan yang membuat kita menjadi trauma. Sehingga rasa marah seringkali timbul tanpa terkendali.  Namun  kita perlu merenungkan kembali apakah hal  yang menyakitkan itu dilakukan oleh orang yang sama dengan maksud yang sama. Jangan sampai kesalahan dilakukan oleh orang yang berbeda yang belum pernah membuat kita marah namun kita sudah marah secara berlebihan terhadap orang tersebut.

Inikah waktu yang tepat untuk marah?
Meluapkan kemarahan tanpa melihat waktu dan tempat selain merupakan suatu hal yang sia-sia juga bisa menimbulkan akibat lain yang bukan tidak mungkin justru menjerumuskan kita kepada kejadian yang tidak diinginkan. Seperti contoh melampiaskan amarah disaat kita masih mengemudikan kendaraan. Bukankah melampiaskan kemarahan pada saat masih mengemudikan kendaraan beresiko mencelakakan diri sendiri dan menimbulkan kesedihan bagi banyak orang.

Jika kita merasa akan marah apa yang sebaiknya kita lakukan?
Tarik napas dalam dan tenangkan pikiran. Ulangi terus menerus sampai kita sudah menguasai diri kita dari rasa marah.

Diam. Tak perlu berkata hal-hal yang justru memancing emosi kita.

Jika masih belum bisa mengendalikan amarah, carilah tempat yang lebih tenang. Situasi yang tenang bisa menstabilkan emosi kita.

Segera alihkan pikiran dan lakukan hal-hal yang menyenangkan.

Berdoa. Ketika rasa marah melanda, berdoalah memohon ketenangan dan dihindarkan dari amarah yang berlebihan. Berdoa akan menenangkan pikiran kita dan seringkali jalan keluar dari setiap masalah akan terpikirkan setelah berdoa.

Jadi mulai saat ini belajar kendalikan amarah ya..

Saya ibu rumah tangga yang ingin bercerita, berkisah dan belajar lewat sebuah tulisan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *