Uncategorized

Tak Ingin Menjadi Ibu

Beberapa hari yang lalu aku dipertemukan kembali dengan seorang teman. Teman semasa duduk di bangku sekolah. Seorang teman yang sudah tidak pernah bertemu kembali sejak tiga puluh tahun yang silam. Kami dipertemukan kembali berkat kecanggihan teknologi saat ini. Yang bisa menghubungkan dan mempertemukan kembali dengan teman, sahabat ataupun kerabat yang sempat terputus ikatan tali silaturahim.
Pertemuan diawali dengan saling menyapa dan saling menanyakan kabar. Bertanya tentang tempat tinggal, pekerjaan, serta kesibukan diluar pekerjaan. Dan sejurus kemudian obrolan kami mengarah pada pembicaraan seputar keluarga.
Si teman bertanya “Suami kamu bekerja dimana?”. Aku jawab “Suamiku kerja di intansi pemerintahan dikota ini”. Kemudian ia bertanya “Anak kamu berapa?”. Aku jawab lagi pertanyaannya “Baru satu..itu yang fotonya ada di profil media sosialku”. Ia berkata “Anak kamu cantik..”.Aku bersyukur dalam hati. Setelah itu aku balik bertanya kepada si teman “Anak kamu sendiri berapa? Pasti banyak ya..? hehehehe…”. Aku bertanya sambil sedikit tertawa karena teringat setiap teman sekolahku dulu  yang aku temui lagi sekarang ini ternyata mereka punya banyak anak.
Si teman berkata sambil tertawa “Aku mengimbangi teman-teman saja..”. Hmmm , aku mulai tidak paham dengan maksud perkataannya. Tak lama kemudian sebelum aku melontarkan pertanyaan yang menggambarkan ketidakpahamanku ia berkata “No child..” Sejenak aku terdiam. Aku mulai merasa bersalah dengan pertanyaanku. Dalam hati aku menyesal mengapa aku tidak berhati-hati dalam berkata-kata. Aku sangat takut jika perkataanku membuatnya sedih. Karena mungkin sudah berpuluh-puluh tahun lamanya ia telah menikah namun belum diberi kepercayaan untuk menerima amanah seorang anak.
Segera aku berusaha memperbaiki keadaaan. Kukeluarkan kata-kata untuk menghibur hatinya. Kuberi sekedar kata-kata pembangkit semangat. Aku yakinkan kepadanya kalau pada waktunya nanti ia pasti akan diberi kepercayaan untuk merawat seorang anak.
Namun aku cukup terkejut dengan ucapannya. Ia berkata “Kalau aku memang tidak ingin punya anak..Kalau nanti aku diberi keturunan aku dan suami malah bingung..” Tak bisa kupercaya dengan apa yang baru saja aku dengarkan. Ternyata aku telah salah menduganya.
Pada awalnya aku berpikir kalau sampai dengan saat ini ia belum mempunyai keturunan hal itu dikarenakan faktor medis ataupun non medis yang bisa menyebabkan belum adanya anugerah seorang keturunan itu. Tetapi ternyata ia dan suaminya telah berniat dari awal untuk tidak ingin memiliki seorang keturunan. Dengan satu alasan yang kukira tidak masuk akal. Hanya karena tidak ingin kebingungan dalam mengurus seorang anak. Tidak ingin disibukkan dalam mengurus anak yang sudah pasti membutuhkan waktu, tenaga, pikiran dan kesabaran yang luar biasa dari ayah ibunya.
Selama ini aku beranggapan bahwa setiap wanita pasti mendambakan seorang keturunan, ingin merasakan kebahagiaan menikmati perannya sebagai seorang ibu. Karena selama ini aku selalu bertemu dengan beberapa wanita yang belum mempunyai keturunan dan sangat mendambakannya. Tak disangka pada hari ini justru aku telah bertemu dengan seorang wanita yang sangat tidak menginginkan seorang anak. Tentunya dengan alasan pembenarannya sendiri.
Setiap manusia mempunyai pilihan hidupnya masing-masing. Termasuk masalah keturunan. Bagiku menjadi seorang ibu adalah nikmat yang paling indah dalam hidup ini. Dan tidak semua wanita terpilih untuk mendapat kesempatan itu. Entah karena Sang Maha Kuasa belum mengijinkannya atau hal itu dikarenakan pilihan hidupnya sendiri. Temanku, apapun pilihan hatimu dan keputusan yang kau buat  untuk tidak menginginkan kehadiran seorang anak, mudah-mudahan keputusan itu telah kaupikirkan dengan kemantapan hati dan tidak menjadi sesuatu yang kau sesali di kemudian hari.
Sekali lagi aku pandangi putri mungil yang tertidur disampingku. Dalam hati aku berkata “Putriku, Ibu bersyukur Yang Maha Kuasa telah menitipkanmu padaku…Semoga Ibu bisa menjagamu dan menjadi ibu yang terbaik untukmu..” Semoga………

Saya ibu rumah tangga yang ingin bercerita, berkisah dan belajar lewat sebuah tulisan.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *