Haruskah Sabar Berbatas ?

Apa yang dimaksud dengan sabar itu? Bagaimana rasanya? Sabar itu adalah ketika tubuh dapat menahan rasa sakit dari penyakit yang sedang diderita. Sabar itu adalah ketika jiwa dapat menerima segala sesuatu yang telah digariskan. Sabar itu adalah ketika hati tidak memberontak terhadap sesuatu yang sudah diidamkan sejak lama namun ternyata yang didapatkan tidak sesuai dengan harapan. Sabar itu adalah ketika niat baik yang diutarakan ternyata hal itu adalah sesuatu yang sama sekali tidak diinginkan.
Tentunya masih banyak penggambaran yang indah tentang sabar itu. Dan setiap orangpun pasti pernah berhadapan dengan kejadian yang akhirnya membuatnya berjuang keras untuk mengenali rasa sabar itu.
Namun tidak semua orang berhasil melakukannya. Ada yang berkata jikalau dirinya telah bersabar namun bibirnya masih menyiratkan suatu kekecewaan. Adapula yang bersusah payah menggenggam kesabaran  dengan cara menumpahkan air mata. Sungguh ternyata berkenalan dengan rasa sabar itu tidak semudah yang dibayangkan.
Tetapi ada pula beberapa manusia yang telah diberi petunjuk olehNya untuk menjadi jalan kesabaran bagi manusia yang lain. Sering dijumpai orang-orang yang mempertahankan kehidupan serba kekurangannya dengan masih menampakkan senyum dibibirnya. Masih ada beberapa manusia yang diuji dengan penyakit namun ternyata memiliki keteguhan hati untuk menerima penyakitnya.
Di suatu berita tergambar sesosok anak manusia yang mengorbankan masa kanak-kanaknya demi menjaga dan menyayangi keluarganya yang diuji dengan penyakit. Pernah terlintas pula didepan mata seorang ibu yang menggendong anaknya yang lumpuh meskipun anak itu sudah bukan tergolong anak-anak lagi. Sungguh gambaran yang indah tentang kesabaran. Jika membayangkan hal itu pasti terlintas suatu tanya bagaimana mereka menjalani hari-hari dengan ujian sebesar itu? Bagaimana bisa mereka bertahan dengan kesabarannya?
Banyak orang berkata kalau kesabaran ada batasnya. Dan ketika kita telah sampai pada batasnya timbul berbagai perilaku yang akhirnya kita tidak bisa mempertahankan kesabaran kita. Timbullah amarah,kekecewaan dan semua perilaku kurang baik. Dan dengan mudahnya berdalih kalau kita telah sampai pada batas kesabaran.
Padahal seharusnya kesabaran itu harus selalu tersedia di hati kita. Sehingga ketika ujian hidup datang kita dengan mudah menghadapinya. Dan pernahkah kita berpikir jikalau belajar untuk bersabar itu sebenarnya sangat mudah. Kuncinya hanya satu. Serahkan semuanya kepada Sang pemberi ujian. Karena pada saat memberi ujian hidup, Dia juga telah menyiapkan jalan keluarnya. Di balik kesulitan ada kemudahan.
Kita harus meyakini jika Yang Maha Kuasa adalah satu-satunya tempat bersandar ketika kita lelah menghadapi ujianNya. Dan hanya Dia sebaik-baiknya tempat berlindung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *