Jangan Pernah Mencoba Bermain Dengan Waktu

Mencoba bermain dengan waktu adalah salah satu cerita kehidupan yang  tidak akan pernah saya lupakan. Betapa bermain dengan waktu dirasakan sebagai suatu pelajaran berharga yang mampu membuat hidup menjadi tidak bermanfaat, sia-sia, menyebabkan ketertinggalan bahkan malapetaka.

Entah bagaimana awalnya akhir-akhir ini saya menjadi tertarik dengan  game online. Permainan yang sebetulnya mudah, tidak menguras pikiran namun bisa membawa efek ketagihan. Sejak sering memainkan game online saya seperti menjadi orang yang ketergantungan terhadap sesuatu. Pagi, siang, sore, malam, tengah malam, dini hari, setiap membuka dan menutup mata selalu memainkan game onlineitu. Rasanya seperti sudah tidak bisa dikendalikan lagi.

Namun pada hari itu saya merasakan akibatnya. Saya adalah seorang karyawan suatu perusahaan yang mempunyai aktivitas bekerja dimulai pada absen pagi pukul setengah delapan  dan diakhiri dengan absen sore pukul setengah lima. Sedangkan di rumah saya adalah ibu rumah tangga dengan seorang putri kecil yang otomatis saya mempunyai peran ganda sebagai ibu pekerja dan ibu rumah tangga.

Pada hari itu seperti biasa saya bergantian dengan suami mempersiapkan segala hal untuk berangkat ke tempat kerja. Selagi suami bersiap-siap, saya menjaga si kecil yang masih tertidur di kamar atas sambil memainkan game online kesukaan. Setelah suami selesai bersiap-siap saya masih terus memainkan game online tersebut tanpa menghiraukan waktu yang terus berjalan. Pikiran meremehkan waktu telah menghampiri pikiran.

Beberapa lama kemudian akhirnya sayapun tersadar dan segera bersiap-siap. Setelah semua persiapan selesai dan tiba waktunya untuk berangkat, mulai timbul masalah. Si kecil tiba-tiba terbangun dan merengek seakan tidak mau ditinggalkan. Jadilah saya membujuknya dengan mengajaknya berjalan mengitari perumahan.

Tapi entah mengapa tiba-tiba saja sepatu yang biasa dipakai jadi lenyap, si kecil juga tidak segera beranjak sehingga saya harus mengajaknya dengan sedikit mengomel, masih mencari dimana letak keberadaan sepatu, jaket  dan banyak hal remeh lainnya yang bisa berpotensi mengakibatkan keterlamabatan absen pagi.

Akhirnya acara menenangkan si kecil telah selesai dan berangkatlah saya dan suami ke tempat kerja. Semuanya berlalu biasa-biasa saja sampai dengan kurang lebih tiga perempat perjalanan. Sambil bercerita dengan suami tiba-tiba saja mata ini melihat ke arah spion motor. Astaghfirullah, ternyata sedari tadi saya tidak memakai helm. Seketika rasa bersalah, malu dan segudang rasa penyesalan menyeruak dalam hati. Namun apa daya.  Menurut pepatah rasa sesal selalu ada di belakang. Jika rasa sesal ada di depan, kita pasti tidak akan melakukan kesalahan.

Tanpa memikirkan rasa penyesalan dan malu yang amat sangat akhirnya saya memutuskan meminta suami untuk berhenti di suatu tempat dan meminta tolong teman untuk menjemput demi menghindari hukuman dari pak polisi. Ketika berhenti di tempat itulah sembari menunggu teman saya merenung apa yang telah terjadi.

Sekilas saya mengalami kejadian yang sederhana. Hanya lupa mengenakan helm. Namun apa yang menjadi penyebabnya dan dampak apa yang ditimbulkan sungguh telah menyadarkan saya. Kejadian lupa memakai helm timbul dari masalah sebelumnya bahwa pada hari itu saya telah mencoba bermain dengan waktu. Meremehkan waktu yang terus berjalan, terlalu asyik dengan game online menyebabkan saya lupa segala-galanya.

Lupa dengan persiapan yang harus saya lakukan untuk menuju ke tempat tugas, lupa bahwa ada seorang anak kecil yang membutuhkan sedikit perhatian  sebelum orangtuanya mencari nafkah.  Lalu akibat dan konsekuensi apa yang harus saya hadapi? Saya telah merepotkan dan mengorbankan waktu seorang teman demi menjemput saya. Saya telah membuat suami merasa khawatir dan merasa bersalah yang harus meninggalkan istrinya di suatu tempat dikarenakan ia sendiripun harus menaati peraturan jam kerja.

Rasa bersalah juga menghampiri ketika teringat bahwa pada hari itu saya telah menghadiahkan omelan kepada putri kecil saya yang tidak bersalah, sayapun terlambat memulai aktivitas di tempat kerja, harus mengikhlaskan kehilangan tambahan penghasilan serta harus rela dianggap sebagai seseorang yang tidak disiplin dengan waktu.

Apalagi jika pada saat itu saya ditakdirkan bertemu dengan pak polisi, maka berhadapan dengan aparat hukum sudah pasti akan saya hadapi untk mrmpertanggungjawabkan perbuatan saya yang melanggar peraturan lalu lintas. Belum lagi jika terburu-buru dan tidak berhati-hati akan menyebabkan malapetaka di jalan.

Sekilas teringat kembali tiga ayat surat Al Ashr. “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”


Kejadian lupa membawa helm adalah bukti nyata. Saya telah mempermainkan waktu dan sungguh saya telah berada dalam kerugian yang besar. Demi masa. Rasanya saya sudah tidak ingin mencoba bermain dengan waktu lagi.

4 thoughts on “”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *