Uncategorized


Dzikir Menyelamatkanku Dari Celaka
Mengingat Allah,  atau dalam agama Islam disebut berdzikir,  dimanapun, kapanpun dan dalam situasi apapun,  adalah suatu hal yang sangat sulit dilakukan.  Terkadang berdzikir hanya dilakukan pada saat bersedih hati dan gundah gulana. Namun pada saat senang dan bahagia berdzikir sering kali terlewatkan.
Itu pula yang terjadi padaku. Berdzikir hanya kulakukan pada saat hatiku resah. Sampai suatu saat aku tersadar bahwa berdzikirpun bisa menyelamatkan dari mara bahaya.
Dulu pada saat aku masih bersekolah,  ayahku pernah memberi satu nasehat tentang berdzikir. Nasehat sederhana namun dampaknya luar biasa kurasakan dalam hidupku. Nasehat itu adalah setiap kali aku pergi dan pulang sekolah,  harus berdzikir selama di perjalanan.
Nasehat itu kulakukan sampai dengan saat ini. Namun akibat atau  hasil dari nasehat itu,  belum kurasakan sepenuhnya. Hingga tiba saatnya  aku betul-betul mengalami kejadian yang menyadarkanku, akan kedahsyatan dari berdzikir.
Pada hari itu ayahanda dari seorang teman baik telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Aku dan teman-temanku yang lain memutuskan,  untuk bertakziah ke rumah si teman,  dengan mengendarai motor berboncengan. Rumah si teman berada sangat jauh dari kantor kami, melewati jalan besar yang dilalui banyak kendaraan besar seperti truk, bis dan mobil pribadi. Tentunya ada yang tertib berlalulintas dan ada pula yang tidak.
Jalan yang kami lewati pun banyak yang berlubang,  dan tentunya sangat berbahaya bagi pengguna jalan. Ditambah lagi dengan cara berkendara pengguna jalan yang kebut-kebutan. Seperti tidak ingat kalau maut pun bisa menjemput pada saat berkendara.
Sejak berangkat dari kantor aku menumpang motor teman perempuanku. Untuk teman yang satu ini aku sudah hafal caranya mengendarai motor. Ia pasti mengendarainya dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Seperti biasa sebelum dan selama perjalanan,  aku berdoa dan berdzikir memohon perlindungan kepada Allah selama dalam perjalanan. Akhirnya perjalanan kami sampai di tempat tujuan dengan selamat. Syukur dan terimakasih aku panjatkan kepada Allah atas perlindungan Nya.
Selepas adzan maghrib,  tibalah waktu bagi kami untuk pulang ke rumah. Dan perjalanan pulang ini pun aku lakukan tanpa lupa untuk berdzikir. Sesaat perjalanan kami lancar-lancar saja. Hingga kami sampai di suatu persimpangan traffic light.
Setelah traffic light berwarna hijau, teman perempuanku langsung tancap gas. Ia pacu motornya dalam kecepatan yang sangat tinggi. Dan tanpa aku duga sebelumnya, tiba-tiba motor berjalan oleng. Saat itu posisi kami masih di tengah-tengah jalan besar.
Temanku berteriak karena panik dan ketakutan. Lama sekali motornya oleng di tengah jalan tanpa bisa ia kendalikan. Aku pun juga tidak bisa berkata-kata. Bahkan berteriak pun rasanya sulit. Dalam pikiran kami  yang tersirat saat itu adalah,  maut pasti akan menjemput karena di belakang kami, banyak kendaraan besar yang bukan tidak mungkin akan menabrak dan menyambar kami.
Namun setelah beberapa saat temanku berhasil menguasai dirinya,  mengendalikan rasa takutnya serta membawa motornya berhenti di tepi jalan. Kami gemetar, kepala serasa berputar-putar dan jantung kami berdebar keras.
Sejenak kita terdiam. Sampai kita betul-betul tersadar kalau kita masih selamat dari celaka. Sesaat seperti kami tidak mempercayai,  bahwa Allah masih menyelamatkan kami. Sekali lagi kami berucap syukur yang tak terhingga kepadaNya.
Sejurus kemudian kami mencari tukang tambal ban. Sambil menunggu tukang ban memperbaiki ban motor temanku, aku memandangi kendaraan yang melintas didepanku. Aku ingat-ingat kembali kejadian yang baru saja aku alami. Sambil kubayangkan seandainya tadi,  Allah telah menetapkan bahwa takdirku buruk pasti aku sudah celaka.
Namun ternyata Allah berkata lain. Entah karena Allah tidak menggariskan takdir yang buruk untukku pada hari itu, ataukah karena Allah masih memberi kesempatan padaku untuk memperbaiki diri. Satu hal yang kuyakini, aku masih diselamatkan oleh Allah,  karena aku masih berusaha mengingatNya lewat berdzikir.
Pengalaman ini merupakan pelajaran yang terbaik untukku. Maut bisa menjemput kapan saja, dimana saja dan dalam keadaan apapun. Pertanyaannya siapkah kita untuk menghadapinya? Sejenak aku terdiam. Sekilas hati ini mengingatkan. Mungkin mulai saat ini aku harus mulai membiasakan diri untuk mengingatNya.

Saya ibu rumah tangga yang ingin bercerita, berkisah dan belajar lewat sebuah tulisan.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *