Dulu dan Sekarang
Enam tahun yang lalu, sebelum diizinkan memiliki keturunan, saya memutuskan memilih  berkarir di bagian internal audit perusahaan. Sebuah profesi yang menuntut  selalu bepergian ke berbagai daerah, membutuhkan fisik dan mental baja, serta merasakan dahsyatnya pergolakan batin,  antara bertugas atau meninggalkan keluarga.
Enam tahun yang lalu, sebelum diizinkan memiliki keturunan,  yang saya pikirkan hanya bagaimana caranya dapat berkarir di sana dan menjalaninya. Terbersit dalam pikiran menjadi seorang auditor itu enak. Bisa berjalan-jalan gratis (dibiayai perusahaan),  ke daerah yang belum pernah dikunjungi, melakukan wisata kuliner (ini yang paling saya suka), bertemu dengan orang-orang baru, dari berbagai daerah di Indonesia, senangnya mempelajari bahasa dan budaya selain suku Jawa, berburu oleh-oleh cantik dan masih banyak lainnya. 
Namun bagaimana dengan sekarang? Saya telah memiliki seorang gadis kecil yang manis. Malaikat kecil  yang  sangat saya nantikan dalam hidup ini. Tak pernah terbayangkan sebelumnya,  ia akan hadir dalam kehidupan pernikahan kami. Sungguh kehadirannya mampu  merubah pola pikir dan keseharian kami.
Pada awalnya sering berjalan-jalan berdua bebas sesuka hati, kini hanya dilakukan jika cuaca sedang cerah. Hanya karena satu alasan. Takut putri kecil kami sakit. Melakukan wisata kuliner pun sudah jarang. Apalagi menonton bioskop. Berangkat ke kantor yang biasanya langsung berangkat, kali ini harus mengajaknya berkeliling terlebih dahulu. Pulang kantor pun harus rela untuk mengajaknya bermain, di saat kantuk dan lelah melanda. Sekali lagi hanya karena satu alasan, demi anak.
Lalu bagaimana dengan aktivitas sebagai internal auditor? Dalam hal ini saya pun  harus rela  mengubur dalam-dalam,  semua keinginan yang terbayangkan sebelumnya. Kini setiap akan ditugaskan berangkat keluar kota, harus ikhlas ketika tidak diijinkan suami. Dengan satu alasan, demi anak.
Pada saat itulah untuk pertama kalinya,   saya juga merasakan rasa iri yang teramat dalam,  kepada teman-teman yang berkesempatan menjalankan tugas mulia itu. Untuk pertama kalinya saya bersedih, membayangkan  betapa bahagianya mereka,  ketika  bercerita tentang pemandangan indah di luar sana. Juga menelan ludah,  pada saat mereka berkisah,  lezatnya masakan khas daerah yang baru dikunjungi. Dan betapa saya juga ingin,  memiliki rezeki tambahan seperti yang mereka terima, hasil dari kerja keras selama bertugas.
Ya, saat ini saya terlihat kurang mensyukuri hidup. Saya telah  melupakan, bahwa ada banyak hal dalam hidup, yang patut untuk disyukuri. Memiliki pasangan hidup yang sabar, putri kecil yang manis, kesehatan jasmani dan rohani, kesempatan mendapatkan rezeki yang berkah, serta kehidupan bahagia yang belum tentu dirasakan orang lain.
Dulu dan sekarang sejatinya terus menerus berubah sepanjang waktu. Tiada yang abadi selain perubahan. Seiring dengan perjalanan waktu, seyogyanya rasa syukur pun harus selalu bertambah, karena nikmat Sang Maha Kuasa tak akan pernah berhenti menghujani kehidupan.
Antara dulu dan sekarang……Bagaimana kisahmu, sahabat?

1 thought on “”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *