Dimanakah Letak Kelembutan dan Kekuatan Terbesar yang Sesungguhnya?
Malam itu saya menyaksikan sebuah tayangan televisi. Program yang bercerita tentang suka duka penegak hukum,  dalam memelihara ketertiban di masyarakat.  Awal program  terlihat biasa-biasa saja. Namun beberapa menit kemudian, kisah berikutnya menjadi sesuatu yang paling menarik di hati saya.
Diceritakan sekelompok polisi menyusun rencana, untuk  menangkap komplotan  pencuri motor yang sangat  meresahkan masyarakat. Dimulai dengan penggerebekan salah satu pelaku,  dalam rumahnya  di gang yang sempit, sampai akhirnya pencarian berlanjut  di tempat kedua, dan disinilah  polisi berhasil menangkap ketua kelompok komplotan  tersebut.
Dengan tubuh penuh tato dan wajah tak berdosa,  akhirnya si pelaku berhasil  ditaklukkan polisi. Namun sejurus kemudian saya melihat  di balik tubuh polisi,  ada seorang wanita lanjut usia, yang diketahui sebagai orangtua pelaku, keluar dari kamar tidur  dengan wajah penuh tanda tanya.
Polisi berusaha  memberi penjelasan,  bahwa anak mereka adalah target pencarian  karena  perbuatannya selaku komplotan pencuri motor. Ketika hendak membawa si pelaku ke kantor polisi,  sang ibu mencegahnya.  Wanita lanjut usia itu, meminta tolong  untuk memakaikan baju pada anaknya, karena tak ingin sang anak kedinginan. Sang ibu menghadapi kejadian tersebut tanpa menangis.
Diam-diam air mata saya menetes. Saya tak bisa membayangkan betapa sakitnya hati ibu tersebut, melihat sang anak tumbuh menjadi seorang penjahat,  yang selalu menyakiti hati orang lain. Betapa hancur hatinya, ketika mengetahui sang anak yang sedari kecil dirawatnya,  dengan harapan menjadi orang yang berguna, ternyata telah berubah menjadi monster yang meresahkan. Namun betapa luar biasanya keteguhan hatinya,  yang mampu menutupi sakit hati dan menunjukkan bahwa ia dalam keadaan baik-baik saja. 
Setiap ibu yang melahirkan anaknya ke dunia,  termasuk saya, sejatinya sejak dalam kandungan selalu berdoa agar anaknya tumbuh sehat, cerdas, bermanfaat dan berakhlak baik. Apapun rela ia lakukan agar sang anak menjadi kebanggannya. Seorang ibu rela berkorban materi, tenaga, waktu, bahkan impian terbesarnya,   hanya untuk keberhasilan sang anak. Selalu menumpahkan air mata di saat sang anak berbahagia atau sedang dalam masalah. Bahkan rasa sakit yang mendera fisiknya pun,  tak pernah ia hiraukan, hanya demi bisa menemani dan mendengarkan semua celoteh anak.
Bagaimana dengan sang anak? Tak banyak anak yang mampu menyayangi  ibunya  dengan baik. Jangankan merawatnya, mendengarkan perkataan orangtuanya pun tak mau. Terlebih di zaman sekarang ini. Jika diamati seorang anak terlampau sering membantah orangtua, tak menghormatinya, berbicara dengan  kata-kata kasar, mengabaikan nasehatnya, bahkan menelantarkannya ketika kesuksesan telah diraihnya. Dan lagi-lagi orangtua menerima semua perlakuan anaknya, tetap tersenyum, dan sangat kuat menahan rasa sakit di hatinya. Rasa sayangnya pada sang anak tak pernah luntur sedikitpun dari hatinya.
Dalam hati saya berusaha mengingat kembali, seberapa besar kasih sayang yang sudah  tercurah untuk orangtua. Sudah sepadankah, masih kurang, atau berlebih? Dan pada akhirnya setelah  benar-benar diberikan kepercayaan untuk menjadi orangtua, saya telah menemukan jawabannya.
Betapa sebagai seorang ibu, saya setiap hari harus melakukan aktivitas mengurus, merawat dan memperhatikan anak sepanjang hari. Belum lagi ditambah dengan aktivitas saya sebagai karyawan. Dan seringnya pula harus rela mengorbankan waktu, tenaga, kesenangan dan membiarkan impian pergi demi anak tercinta. Tetapi anehnya semua itu saya lakukan dengan ikhlas, bersyukur dan sangat bahagia.
Dari sanalah akhirnya saya menyadari bahwa kasih sayang orangtua akan terus tercurah kepada anak selagi  masih ada di dunia ini. Bahwa apapun yang telah anak berikan kepada orangtua, selamanya  tak akan sepadan jika diperhitungkan dengan rasa cinta orangtua semasa hidupnya.
Dalam hati saya kembali terdiam. Betapa sampai dengan detik ini, saya masih merasa bersedih, karena  sudah  tak dapat lagi secara nyata, memberikan rasa bakti pada orangtua yang telah berpulang  kepadaNya beberapa tahun yang lalu. Tetapi setidaknya saya masih bisa berharap.  Semoga doa yang terpanjatkan setiap saat, akan membuat kedua orangtua saya,  mendapat tempat yang indah di sisiNya. Sebagai balasan telah mendidik titipan amanahNya dengan ikhlas sepanjang usia. 

Sahabat, orangtua adalah kelembutan dan kekuatan terbesar di dunia ini. Sayangi dan jangan sia-siakan, selama mereka masih mampu menemani hidup kita. Ketahuilah bahwa selalu ada doa terbaik dan sangat luar biasa,  yang selalu terucap demi kebahagiaan hidup anak-anaknya.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *