Wujud Cinta
Zaman dahulu ketika saya masih muda,  serta dengan pengetahuan agama yang pas-pasan (dan sampai sekarang pun masih pas-pasan hehe), paling bahagia rasanya,  ketika pada saat bulan telah menunjukkan Februari. Sahabat tahu mengapa? Ya, karena bulan Februari  sangat terkenal dengan fenomena kasih sayangnya.
Pada waktu itu saya sempat terhanyut karenanya. Eits,  bukan dengan pacaran atau memadu kasih yang berlebihan, ya. Sekali lagi saya berkata jujur. Saat itu saya tidak punya pacar, memang tidak ingin berpacaran,  dan ayah juga melarangnya, karena tak ingin pelajaran sekolah terganggu. Selain itu agama sudah pasti melarangnya, dan saya sangat takut untuk melanggarnya.
Lalu apa yang membuat saya tertarik,  dengan euforia bulan kasih sayang? Sejatinya hanya karena film saja,  hehehe. Sungguh, di hari kasih sayang itu mayoritas semua stasiun televisi,  banyak menayangkan film-film cinta nan romantis. Film yang membuat saya berpikir. Oh,  romantis itu seperti ini. Cinta itu ternyata sangat indah dan membuat hati bahagia.
Hmmm, fenomena hari kasih sayang saat ini, pada faktanya semakin memprihatinkan. Betapa banyak pusat perbelanjaan yang seolah berlomba-lomba,  menunjang keberadaan hari kasih sayang ini, dengan menjual aneka bunga, coklat, boneka serta pernak-pernik lainnya. Lihat saja betapa banyak pula  anak-anak usia sekolah,  dan pasangan belum menikah,  yang terpengaruh dan ikut merayakannya. Terlebih yang paling membuat saya miris, hari kasih sayang membuat mereka dengan mudahnya,  mencurahkan kasih sayang dan mengorbankan kehormatan,   pada pasangan yang belum resmi menikahinya.
Namun seiring perjalanan waktu, di saat saya semakin dewasa (baca menua),  dan telah dipertemukan dengan pasangan hidup, saya baru menyadari bahwa cinta itu lebih dari sekedar romantisme. Cinta ternyata adalah ujian, perjuangan, pengorbanan, ketulusan,  dan keikhlasan untuk selalu bersama pasangan di sepanjang sisa usia.
Ketika menikah, kita telah memutuskan sendiri,  dengan siapa akan mengarungi bahtera rumah tangga. Pada waktu itu kita telah berjanji,  untuk menjalani hari-hari dengannya,  dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Termasuk siap untuk menerima seluruh keluarganya,  dengan segala perilakunya.
Tetapi ternyata tak selamanya perjalanan rumah tangga,  selalu terisi dengan hal-hal yang indah. Di sana ada pertengkaran, perdebatan, kemarahan, amarah, air mata. Betapa tidak? Ada kalanya pasangan diuji dengan sakit,  yang membutuhkan perjuangan serta  kesabaran seorang isteri. Diuji dengan kebangkrutan,  yang memerlukan  ketulusan dan keikhlasan isteri,  untuk tak terlalu menuntut pada suami.  Diuji dengan perubahan perilaku pasangan, yang dulu tak pernah terlihat di awal-awal pernikahan. Diuji dengan  campur tangan saudara yang terkesan ikut campur dalam urusan rumah tangga.  Bahkan diuji dengan hadirnya orang ketiga,  yang bila tak mampu menghadapinya,  berppotensi memporak porandakan mahligai pernikahan.
Dan jangan salah. Bagi pasangan yang belum menikah, cinta sejatinya juga merupakan ujian. Di manakah letak ujiannya? Yaitu ketika ia harus mampu mempertahankan harga diri dan kehormatan,   dari godaan untukmenyerahkannya,  pada pasangan yang belum resmi menghalalkan hubungannya dalam ikatan suci pernikahan.
Pada akhirnya saya punmulai menyadari,   bahwa tidak ada cinta yang paling abadi,  selain cinta Allah SWT kepada hambaNya, dan cinta Rasulullah SAW kepada umatnya. Terkadang tanpa kita sadari, Allah SWT selalu  mengabulkan semua permintaan kita, memberikan kebahagiaan, kesehatan, perlindungan dan rezeki yang berkah,  di saat kita tidak pernah sekali pun mengingatNya. Sedangkan Rasulullah SAW telah menuntun kita untuk mengenal kebesaranNya, menunjukkan jalan yang benar untuk meraih ridhoNya.

Nah, apakah arti cinta bagi sahabat?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *