Apakah Keadilan Itu?
Suatu sore saya menyaksikan acara televisi,  tentang ajang pencarian bakat menyanyi dengan peserta anak-anak. Semakin seru saja acara tersebut. Mengingat jumlah pesertanya yang semakin berkurang, dan sebentar lagi akan memasuki babak final untuk mencari siapa yang terbaik.
Beberapa saat kemudian berdasarkan hasil pengamatan, akhirnya saya berkesimpulan dan yakin,  jika  si A ini akan berlanjut ke babak selanjutnya. Pilihan saya pun tak bertepuk sebelah tangan,  ketika ternyata para juri, juga memiliki pendapat yang sama. Ya ampun, diam-diam ternyata saya juga berbakat menjadi juri. Hehe.
Setelah itu pembawa acara mengumumkan,  perolehan polling sementara pilihan pemirsa terhadap penampilan peserta. Terbukti bahwa si A tersebut,  rating pollingnya melebihi peserta lainnya. Sesaat kemudian tampillah si B sebagai  peserta kedua,   yang menurut saya penampilannya kurang memuaskan. Lagi-lagi para juri pun  sependapat dengan saya. Yakinlah saya bahwa si B ini akan pulang.
Namun, alangkah terkejutnya saya ketika fakta yang terjadi, si A dinyatakan pulang,  dan kalah dalam kompetisi tersebut. Sedangkan si B  yang tampil kurang memuaskan tadi, justru  berhasil lolos ke babak selanjutnya, dengan perolehan polling tertinggi di antara peserta lainnya.
Saya pun berpikir mengapa ini terjadi dan mulai menyadarinya. Mungkin hal ini,  akibat adanya pengumuman perolehan polling sementara,  yang pada awalnya menempatkan si B di posisi paling bawah. Namun karena ia lebih dikenal banyak orang dibanding peserta lain, entah  karena ketampanannya atau hal lain, sehingga membuat semua penggemarnya berlomba-lomba mengirimkan polling,  yang terbukti mampu menyelamatkannya,  dari kegagalan  menembus babak berikutnya. 
Apakah si A kecewa? Apakah dalam hal ini ia mendapat keadilan? Saya yakin si A  pasti kecewa. Ia juga pasti merasakan adanya ketidak adilan. Dalam hati pasti muncul suara-suara yang membuatnya sedih. “Tadi saya sudah berusaha. Juri juga berkata,  bahwa penampilan saya sangat bagus. Tapi mengapa saya harus pulang? Sungguh ini tak adil!”
Lalu apa akibatnya? Jika si A yang masih sangat muda ini, tak mendapatkan motivasi akibat kekalahannya, maka sudah pasti ia akan terpuruk, depresi, putus asa, tidak mau mencoba lagi,  dan banyak sekali bentuk demotivasi lain,  yang akan dialaminya. Dan sungguh sangat disayangkan,  jika dalam usia yang masih terbilang muda itu, ia sudah mengalami demotivasi, sedangkan perjalanan hidupnya,  masih sangat panjang untuk ditempuh.
Ada kalanya saya juga menyaksikan ketidak adilan di luar cerita si A tadi. Betapa saya miris mendengar seorang nenek, mendapat hukuman yang sangat berat,  akibat mencuri sepotong singkong,  yang ingin ia berikan kepada cucunya untuk dimakan. Sungguh perbuatan yang ia lakukan,  bukan karena  memiliki sifat sebagai pencuri. Ia hanya ingin agar sang cucu tidak merasakan kelaparan seperti dirinya.
Nah, mungkin selama ini kita pernah  merasakan ketidak adilan dalam hidup. Merasa sudah berusaha bekerja  dengan jujur, namun promosi jabatan belum diberikan. Merasa sudah banyak membantu sesama, tetapi rezeki belum juga menghampiri. Merasa sudah melakukan banyak ikhtiar untuk mendapatkan anak, tetapi belum juga diberi kepercayaan  memiliki keturunan. Merasa sudah memantaskan diri, namun jodoh pun tak kunjung datang dan entah perasaan apa lagi. Mayoritas dari kita akan langsung menghakimi,  dan menganggap bahwa Allah sungguh tak adil. Allah tak sayang lagi, karena tidak ada satu keinginan pun dari kita yang terkabul.
Namun, apakah kita pernah berpikir bahwa ternyata,  tak terkabulnya doa  adalah sesuatu yang terbaik untuk saat ini? Bayangkan saja apa yang akan terjadi, jika kita mendapat promosi jabatan di saat tidak siap mengemban amanah. Atau mendapat rezeki nomplok tapi akibat kurang ilmu,  akhirnya terkuras habis dalam sekejap. Diberi keturunan namun ternyata tak siap dengan kerepotannya, justru akan berpotensi salah dalam mendidik anak.  Atau asal menerima saja calon pendamping yang datang,  tanpa terlebih dahulu meminta petunjukNya. Tentunya hal ini akan berdampak sangat tidak baik,  bagi kehidupan kedepannya.
Nah, jika sudah begitu,  apakah masih menganggap,  bahwa Allah telah berlaku tidak adil atas  kehidupan kita? Tentunya jika kita menyadari,  bahwa apapun yang terjadi pada hari ini,  adalah yang terbaik menurut Allah, sudah pasti kita akan berkata,   bahwa sungguh Allah Maha Adil atas semua ini. Bahwa adil menurut Allah adalah, jika setiap manusia menerima apa yang sesungguhnya ia  butuhkan. Bukan sesuatu yang ia  inginkan.
Jadi, menurut sahabat seperti apakah keadilan  itu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *