Kehilangan

Suatu hari saya mendengar dua berita kehilangan sekaligus. Sama-sama berasal dari dua orang sahabat baik. Sahabat pertama harus merelakan komputer dan laptop kesayangannya diambil oleh manusia keji. Dan sahabat kedua harus merelakan calon buah hatinya,  diambil oleh Sang Maha Kuasa.

Sahabat pertama menceritakan bagaimana proses kehilangan itu. Di saat kondisi rumah sepi,  hanya ada putra semata wayangnya dan  seorang asisten rumah tangga yang sudah tua, tiba-tiba saja si manusia kejam itu masuk ke dalam rumahnya. Meyakinkan bahwa ia adalah utusan sang sahabat untuk memperbaiki komputer dan laptopnya. Asisten rumah tangga yang tanpa curiga membiarkan saja perbuatannya, dan manusia itu pun bebas melangkah keluar rumah,  tanpa rasa takut dan bersalah.

Sahabat kedua seorang perempuan yang sedang menantikan calon buah hati yang pertama. Mendengarkan ceritanya setiap hari tentang kehamilannya,  sungguh membuat hati ini bahagia. Karena disitulah saya bisa mengingat kembali,  betapa saya dulu pernah berjuang untuk mengandung, dan melahirkan seorang anak. Dan tiba-tiba saja di hari itu ia berkisah,  bahwa sang calon buah hati sudah tidak terdeteksi lagi  detak jantungnya. Hati pun semakin miris mendengar curahan hatinya,  bahwa dokter harus mengambil tindakan untuk menggugurkannya.

Kehilangan. Saya rasa setiap orang pernah merasakan kehilangan. Kehilangan orangtua, anggota keluarga, kehilangan teman karena salah paham, kehilangan benda kesayangan. Ketika mengalami kehilangan, mayoritas manusia tak mampu menghadapinya. Ada yang menangis meratapi, bersedih hati sepanjang hari, tak bersemangat lagi menjalani hidup, merasa paling sial di dunia ini. Bahkan yang paling menakutkan adalah ingin mengakhiri hidupnya sendiri.

Ketika seseorang mengalami kehilangan, banyak orang disekelilingnya memberi nasehat. Jangan terlalu memikirkan kehilangan yang baru saja terjadi. Ingatlah  bahwa harta benda, anggota keluarga dan teman adalah titipan dariNya. Jangan disimpan dalam hati. Agar selalu ikhlas ketika mengalami kehilangan. Tetap bersyukur bahwa Yang Maha Kuasa masih melindungi,  dan pasti akan memberikan pengganti yang lebih baik. Itu pula yang selalu saya katakan pada semua teman yang mengalami kehilangan.

Bagi orang yang mengalami sendiri kehilangan tersebut  pasti berpikiran, mudah saja memberi nasehat seperti itu. Sangat mudah mengucapkannya. Namun bagaimana ketika mengalaminya sendiri? Jujur sampai dengan detik ini, saya pun ternyata hanya bisa berucap saja. Dan akhirnya merasakan sendiri bahwa  tak mudah untuk melewatinya,  ketika harus  kehilangan orangtua tercinta.

Hmmmm, mungkin benar adanya. Bahwa kehilangan harta benda atau sesama manusia,  adalah satu hal yang seharusnya bisa disikapi dengan baik. Dalam arti bersedih sewajarnya,  setelah itu bangkit untuk menjalani hidup yang sudah ada di depan mata. Berusaha tak  terlalu larut dalam kesedihan,  yang hanya semakin membuat mata dan hati buta. Berusaha menempatkan semua milik kita hanya sebagai titipan,  yang sewaktu-waktu dapat diambil olehNya dengan berbagai cara.  Agar ikhlas menghadapinya.

Namun pada suatu saat saya pernah mengalami suatu kehilangan yang sangat berbeda. Ya, saya pernah merasakan hilangnya keyakinan dan kepercayaan,  bahwa Allah SWT adalah Maha Segala-galanya dalam hidup ini. Saya pernah meragukanNya sebagai satu-satunya penolong,  dan pemberi solusi masalah yang terbaik. Saya pernah tidak percaya bahwa Ia adalah The Only One,   yang sanggup melindungi diri ini. Saya juga pernah mengabaikanNya bahwa Ia adalah The Only One yang selalu memberikan kebahagiaan,  dan karunia tak terhingga dalam hidup saya. Saya lupa bahwa saya banyak mengalami kejadian indah atas ijinNya. Dan juga mengalami hal menyedihkan,  karena kasih sayangNya yang begitu besar kepada saya.

Sehingga akhirnya saya sering menggerutu, menghujat, meremehkan, dan meragukanNya. Dan parahnya,  hal itu justru berujung pada kurang istiqomahnya saya dalam berbicara kepadaNya. Ibadah menjadi berantakan. Jarang merenungkan,  mengapa saya sering menjadi kurang mampu mengendalikan diri.  Lebih sering mengandalkan bantuan orang lain,  daripada mengandalkan pertolonganNya. Lebih senang mencari seseorang sebagai tempat mencurahkan isi hati, dibanding berkeluh kesah padaNya. Padahal sekali lagi,  Ia Maha Segalanya dalam hidup manusia.

 

Dari pelajaran itulah saya akhirnya menyimpulkan. Bahwa setiap orang boleh merasakan kehilangan. Jangan terlalu bersedih,  ketika harus kehilangan sesuatu yang hanya bersifat titipan. Tetapi bersedihlah dengan amat sangat,  ketika mendapatkan kenyataan,  bahwa kita telah kehilangan keyakinan dan kepercayaan kepadaNya. Karena ketika kita sudah benar-benar kehilanganNya, maka kehancuran dan perjalanan tak tentu arahlah,  yang akan selalu menemani hari-hari kita. Dan sanggupkah kita untuk menghadapinya? 

6 thoughts on “Kehilangan”

  1. Kehilangan mmg sakid tapi ternyata jika qta pandai bersyukur ternyata pesan yg indah yg Allah titipkan melalui rasa sakid tersebut..

    Kereen mak tulisanmu😍👍

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *