Uncategorized

Takdir Manusia Antara Diuji dan di Ujung

Dulu saya mempunyai sahabat baik. Sepasang suami isteri yang ramah, lembut,  dan baik hati. Persahabatannya sangat luar biasa. Pandai berbaur dengan siapapun termasuk yang berusia muda. Kami saling mengenal saat dipertemukan dalam satu komunitas olahraga. Dari sepasang suami isteri ini saya belajar banyak hal. Terutama tentang bagaimana menjadi orangtua yang baik,  dan selalu rukun dalam membina rumah tangga. 
Sang suami berprofesi sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi swasta. Kecintaannya  akan belajar,  membawanya mencapai gelar tertinggi dalam bidang akademik. Sedangkan sang isteri hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa, dan sehari-harinya mengurus dua putra putri  yang sudah menginjak dewasa.
Seminggu dua kali kami bertemu dan berolahraga bersama. Keduanya terlihat sehat dan bahagia. Sampai suatu saat saya melihat sang isteri mulai mengeluh kesakitan. Ternyata baru saya sadari,  jika beliau telah menderita penyakit kanker rahim sejak lama. Hanya saja beliau masih berjuang untuk tetap sehat. Dalam hati saya merasa sedih. Penyakit yang diderita beliau,  sama dengan penyakit yang merenggut nyawa ibu saya beberapa tahun silam. 
Beberapa waktu berlalu. Mereka berdua mulai jarang menampakkan diri di komunitas olahraga kami. Setelah bertanya sana sini, akhirnya saya mengetahui bahwa sang isteri telah dirawat di sebuah rumah sakit. Menunggu waktu operasi,  untuk membuang penyakit ganas yang bersarang di tubuhnya. 
Atas dasar pertemanan yang sudah seperti keluarga, saya menemaninya menjalani masa-masa berat itu. Dua hari kemudian sang isteri dijadwalkan operasi. Saya pun masih ada di sana, memberi semangat dan mendoakannya. Waktu terasa begitu lama berlalu. Sang isteri pun telah selesai menjalani operasinya. Tak henti saya mengucap syukur padaNya atas kelancaran proses operasi tersebut. 
Di ujung selasar rumah sakit itu, saya diam-diam menangis. Teringat kembali perjuangan mendiang ibu,  untuk bisa sembuh dari penyakit mematikan ini. Diam-diam terdengar langkah mendekati,  dan tangan lembut menyentuh pundak. Terdengar suara lembut sang suami “Mbak, jangan bersedih. Takdir manusia  memang seperti itu. Manusia itu kalau tidak diuji ya di ujung.”
Tercekat saya mendengar kalimat itu. Kalimat yang bermakna sangat dalam tentang takdir manusia.  Merenung cukup lama. Mengingat kembali perjalanan hidup saya. Saya pun mulai mengamati satu per satu sosok yang lalu lalang. Mereka adalah manusia-manusia yang sedang diuji oleh PenciptaNya. Termasuk saya. Dan mereka tidak mengetahui ujung dari perjalanan hidupnya. Termasuk saya.
Seminggu kemudian terdengar berita duka itu. Teman baik saya telah kembali kepadaNya. Meninggalkan keluarga tercintanya termasuk saya sahabat baiknya. Tak kuasa lagi rasanya meneteskan air mata. Sang teman yang penuh cinta itu,  telah pergi meninggalkan kenangan indah,  di hati orang-orang yang mencintainya.
Akhirnya ia telah sampai pada ujung perjalanannya sebagai manusia. Yaitu kembali kepadaNya dengan membawa semua amal baiknya.

Saya ibu rumah tangga yang ingin bercerita, berkisah dan belajar lewat sebuah tulisan.

5 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *