HSG, Ketakutan Terbesarku di Kala Ingin Hamil

                               Sumber gambar : google.co.id

Jujur harus saya akui,  jika saya adalah seorang penakut. Terlebih pada saat pemeriksaan kesehatan. Khususnya lagi,  pemeriksaan kesehatan dimana ada satu keharusan bagi seorang dokter,  untuk memasukkan tangannya, atau alat tertentu ke dalam (maaf) lubang-lubang yang ada di tubuh saya. Dan ternyata memang itulah yang harus saya alami,  ketika berkeinginan untuk memiliki keturunan.
Tanpa diduga sebelumnya, jika keinginan memiliki keturunan tidak berjalan semulus yang saya bayangkan. Umumnya dari beberapa orang di sekitar saya, bahwa hanya selang waktu sebentar setelah menikah, mereka langsung mengalami kehamilan dan mendapatkan keturunan. Namun hal itu tidak terjadi pada diri saya. Sehingga akhirnya saya harus melakukan serangkaian pemeriksaan,  untuk mengetahui bagaimana kondisi tubuh yang sebenarnya. 
Dan salah satu tes yang harus saya jalani adalah HSG,  atau bahasa kerennya Histerosalpingografi. Pemeriksaan rongga rahim  dengan cara memasukkan cairan kontras,  ke dalam saluran telur serta menggunakan sinar X. 
Ketika mengetahui bahwa saya harus melakukan pemeriksaan ini, jujur berbagai bayangan menyakitkan sudah ada dalam pikiran. Ditambah dengan seringnya saya  mendengarkan cerita dari teman-teman perempuan. Ada yang mengatakan tes ini menakutkan dan menyakitkan. Tetapi ada pula yang berkata sebaliknya, asalkan memiliki ketenangan hati dalam menjalaninya. 
Sayangnya ketakutan yang saya rasakan, jauh lebih besar sehingga mampu mengalahkan ketenangan yang susah payah saya bangun. Alhasil tes itu berakhir dengan kegagalan. Saya yang sudah terlanjur panik, melalui tes tersebut seorang diri tanpa ada yang menemani. Stress pun meningkat seiring dengan si dokter yang menangani tak mampu memanage emosi saya. Si dokter hanya bisa marah dan menyalahkan saya atas kegagalan tes pada hari itu. 
Sesungguhnya saya menyesal atas kejadian ini. Keesokan harinya mau tak mau saya harus mengulanginya kembali. Rasa takut kembali menghantui. Namun ternyata ketakutan saya tak terbukti. Di hari itu alhamdulilah pemeriksaan ditangani oleh dokter baru. Seorang dokter wanita paruh baya yang lembut, sabar, dan pandai sekali menstabilkan emosi saya. Alhamdulillah pemeriksaan pun berjalan lancar, dan hasilnya menyatakan bahwa saluran telur dalam kondisi sehat.
Tak hanya melakukan pemeriksaan saja. Tapi si dokter yang baik hati itu,  banyak memberikan nasehat seputar mendidik anak,  dan membina rumah tangga  bahagia dan penuh berkah. Sungguh, itu adalah salah satu pengalaman berharga dalam hidup saya. Dari pengalaman itu saya mendapatkan banyak pelajaran.
Seperti yang beliau sampaikan, bahwa hidup sepenuhnya harus diisi dengan kepasrahan, dan keikhlasan pada Sang Maha Kuasa. Tak perlu ada yang dikhawatirkan selama kita bersandar padaNya. Apapun yang terjadi semua atas izinNya. Ketakutan yang berlebihan hanya akan mendatangkan kegagalan demi kegagalan. 
Kala itu memang hasil pemeriksaan tidak serta merta membuat saya hamil. Dalam hati saya sudah berniat untuk tetap ikhlas dengan segala ketentuanNya. Saya hanya bisa berusaha yang terbaik. Dan alhamdulilah di puncak kepasrahan, tanpa saya perkirakan sebelumnya akhirnya dokter menyatakan saya positif hamil. Sungguh keberkahan luar biasa yang pernah terjadi dalam hidup saya. Alhamdulillah.

3 thoughts on “HSG, Ketakutan Terbesarku di Kala Ingin Hamil”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *