Berdzikirlah, Maka Semua Akan Baik-baik Saja

                                                Sumber gambar : google.com


Tiga hari yang lalu saya sangat terkejut mendengar  bahwa suami mengalami kecelakaan motor. Di satu jalan yang selalu beliau lewati ada satu genangan oli motor,  yang menyebabkan empat motor bertabrakan beruntun. Punggung suami pun mengalami sedikit cedera,  akibat terjatuh dalam posisi duduk dan menahan motor.
Karena takut  cedera tersebut semakin parah, akhirnya saya membawa suami ke tempat tetangga,  yang kebetulan memiliki keahlian memijat. Saya pun menunggu proses pemijatan itu  dengan sabar. Sejurus kemudian suami keluar dari ruangan bersama si tetangga. Dan tak lama kami pun terlibat perbincangan yang seru. 
Dari perbincangan tersebut saya tertarik dengan salah satu ucapan si tetangga. Beliau berkata “Mbak, aku itu setiap kali naik motor, selalu berdzikir dan pasrah. Insya Allah hati tenang, selamat,  dan tidak terjadi apa-apa.” Saya pun mengangguk-angguk mendengar kata-katanya. 
Jujur dalam hati saya sepakat dengan pernyataannya. Teringat kembali  beberapa waktu   lalu saya mengalami suatu kejadian yang cukup mengerikan. Ceritanya saya berboncengan motor dengan seorang teman, melewati  jalan raya yang sangat ramai. Berbagai kendaraan ukuran kecil sampai besar, semua tumpah ruah di jalan tersebut. Dikemudikan dengan sangat cepat oleh pengemudinya. Seolah-olah masing-masing ingin berebut segera sampai di tempat tujuan.
Namun tanpa terduga tiba-tiba motor yang kami kendarai mengenai sebuah paku dan memecahkan ban. Motor pun oleng dan kami hampir terjatuh di tengah jalan,  yang ramai oleh kendaraan besar seperti truk, bus dan kendaraan pribadi. Kami pun sudah tidak bisa berpikir,  apa yang terjadi setelah itu. Kami hanya bisa memejamkan mata,  dan membayangkan,  di belakang  ada sebuah truk besar yang siap menyambar tubuh kami. 
Tetapi setelah tersadar, kami akhirnya menemukan fakta,  bahwa kami sudah berada di pinggir jalan. Dan kami baik-baik saja. tanpa ada sedikit luka pun di tubuh kami. Kami masih bernafas dan bisa berjalan. Sejurus kemudian kamu bersyukur tiada henti, dan memuja kebesaranNya. Betapa tidak. Jika hari itu telah ditentukan sebagai takdir terburuk,  tentu kami sudah celaka. Tak dapat bertemu lagi dengan keluarga tercinta,  dan tak bisa melakukan apa-apa. 
Pada saat menunggu si bapak penambal ban yang baik hati memperbaiki motor kami, saya duduk termenung merenungkan kejadian yang baru saja terjadi. Saya masih bertanya-tanya, mengapa kami dalam kondisi baik-baik saja. Akhirnya saya baru menyadari,  bahwa sepanjang perjalanan tadi saya tak henti berdzikir dalam hati. Semasa kecil ayah saya pernah berkata,  bahwa setiap saat kita harus selalu berdzikir. Di mana saja dan kapan saja. Dan itulah yang selalu saya lakukan hingga saat ini. Syukur alhamdulillah. Saya yakin dan percaya,  itulah yang menjadi penyelamat dalam setiap perbuatan yang kita lakukan. 
Perbincangan dengan si tetangga pun akhirnya berakhir. Saya dan suami  pamit mohon diri. Sambil mengucapkan terimakasih  atas segala bantuannya. Terlebih atas ilmu yang telah beliau berikan. Bahwa setiap saat berdzikirlah, maka semua akan berjalan baik-baik saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *