Tetangga Oh Tetangga (Bagian Kedua)

Masih berbicara tentang tetangga, saya pernah juga mempunyai pengalaman yang kurang menyenangkan. Ceritanya waktu itu saya menjadi bahan perbincangan tetangga. Dan jujur sedikit  terganggu juga dengan hal itu.
Sehari-harinya saya adalah seorang karyawati. Bekerja selama lima hari merupakan aktivitas yang harus saya lakukan, dan tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Alhasil setiap hari saya pun harus menitipkan anak semata wayang, kepada saudara ipar di rumahnya.
Kebiasaan itulah yang akhirnya membentuk image di mata tetangga, bahwa setiap hari anak saya diasuh oleh semua orang yang ada di rumah adik ipar. Termasuk ibu mertua. Dan saya tidak pernah mengasuh anak sendiri. Itulah pemahaman yang ada di semua kepala tetangga.
Pada malam kemerdekaan beberapa bulan  lalu, sudah menjadi agenda rutin di lingkungan warga, untuk mengadakan malam renungan dan doa bersama. Waktu itu saya merasa cukup lelah dengan kondisi pekerjaan kantor serta perjalanannya. Sehingga memutuskan untuk tidak menghadiri acara tersebut, dan beristirahat di rumah.
Tetapi karena merasa sungkan dan tidak enak hati, saya berusaha untuk menghadirinya. Di acara tersebut saya duduk di bagian belakang. Anak-anak beserta anggota keluarga lain sudah datang terlebih dahulu, dan menempati tempat duduk di depan, karena sangat ingin menikmati acara dari dekat. 
Sepulang acara tersebut, ibu mertua bercerita bahwa ada tetangga yang bersikap kurang menyenangkan. Si tetangga berkata kepada adik ipar “Annisa kok masih membuntuti kamu terus sih? Itu lho ibunya sendiri ada di belakang. Kok tidak sama ibunya? Apa ibunya keberatan mengurus anaknya sendiri?”
Ya ampun. Seketika itu juga telinga  terasa panas. Dalam hati saya berkata “Ini tetangga kenapa ya? Kok seenaknya saja ikut campur urusan orang lain. Padahal dia tidak tahu betul kondisi rumah yang sebenarnya. Sepulang kantor saya masih berusaha mengurus anak sendiri. Saya tidak pernah mau tahu dengan urusan keluarganya. Kok jadi dia dengan seenaknya ikut campur urusan orang lain?” Dan banyak lagi gerutuan yang ada di hati ini.
Entahlah. Pada awalnya saya tak bisa menerima perlakuan tetangga tersebut. Biar bagaimanapun saya adalah manusia,  yang terkadang merasa tidak nyaman, dengan perilaku kurang menyenangkan dari orang lain.
Tetapi setelah saya berpikir kembali, tetangga juga merupakan manusia,  yang memiliki sifat dan karakter berbeda. Bisa jadi ia khilaf, atau memang sudah merupakan sifatnya, yang selalu ingin mencampuri urusan keluarga lain. 
Namun sejatinya perlukah kita menanggapinya secara berlebihan? Perlukah larut dalam permainannya,  serta membiarkannya bersorak ketika mengetahui,  kita bersedih dan marah dengan perlakuannya?
Saya rasa kita seharusnya bersikap tenang,  dan tak perlu terpengaruh. Bukankah kita memenuhi kebutuhan keluarga dengan hasil kerja keras sendiri? Kita pasti selalu berusaha,  untuk tidak  mencoba meminta-minta bantuan pada tetangga. 
Biarkanlah ia bersikap kurang baik. Hal paling penting adalah, hanya kita sendiri yang mengetahui kondisi keluarga. Kita sendirilah yang paling paham niat baik untuk keluarga. Tugas kita hanyalah tetap bersikap baik, dan membantu orang lain yang membutuhkan. Termasuk tetangga. Agar hati tenang, dan pahala kebaikan tetap mengalir, sebagai bekal kehidupan di akhirat nanti. 

1 thought on “Tetangga Oh Tetangga (Bagian Kedua)”

  1. Aku juga pernah mengalami diomongin tetangga, meski dalam konteks berbeda. Sempat kesel tapi akhirnya kucuekin aja. Capek kalo omongan tetangga harus diladeni semua. Yang penting kita tetap baik ke mereja. Ya kan mbak Ning? 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *