Uncategorized

Anakku, Maafkanlah Ayah Bundamu

Dengan lembut aku berkata kepada suami “Ayah, itu anaknya lagi cerita tuh. Mbok ya didengarkan. Handphonenya  diletakkan. Berhenti dulu main game onlinenya.” Tanpa menoleh suamiku berujar “Sebentar, Bunda. Tanggung nih. Ini lagi seru-serunya.” Dan sekali lagi aku hanya mengelus dada. Kupandang wajah putri semata wayangku,  dan kudengarkan celoteh riang dari mulut mungilnya. 
Entah bagaimana ceritanya, suamiku sangat menggemari game online yang sangat populer belakangan ini. Hampir  setiap saat di waktu luangnya,  selalu ia gunakan untuk melakukan permainan ini. Kegemarannya tersebut sering  membuatku stress dan marah-marah. Bayangkan saja. Demi mengikuti terus perkembangan permainan ini, ia sampai tidak merespon perkataan orang lain,  dan seolah tidak peduli apa yang sedang terjadi di sekitarnya. 
**
Pagi itu matahari bersinar cerah. Hari libur seperti ini,  biasanya aku habiskan dengan kegiatan membersihkan rumah. Setelah itu aku dan suami mengajak putri kami bermain di taman. Segera setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, aku menunaikan ibadah sholat dhuha. Aku lihat suamiku,  lagi-lagi asyik dengan handphone dan game onlinenya. Aku mencoba untuk menegurnya “Ayah, Bunda mau sholat dhuha dulu. Minta tolong ya, anaknya diawasi sebentar saja. Suamiku menjawab singkat tanpa menoleh “Iya, Nda.”
Maka mulailah aku mengerjakan ibadahku. Mencoba khusyuk untuk melakukannya. Tiba-tiba saja aku mendengar seseorang berteriak. Sepertinya dari luar. Dalam hati selama beribadah aku bertanya “Siapa yang berteriak? Lho,  kok ada suara tangis anak kecil?” Aku menjadi tidak fokus.  Sontak aku hentikan aktivitasku dan berlari keluar. Aku lihat putri kecilku menangis,  di dalam pelukan tetangga depan rumah. Kulihat kaki dan tangannya berdarah. Segera kupeluk tubuh mungilnya. 
Sejurus kemudian aku berteriak memanggil suamiku berkali-kali. Tak lama suami berlari menuju ke arahku, dan  sama-sama memeluk putri kecil kami yang menangis gemetar. Setelah merasa tenang, tetangga tersebut berkata “Ya ampun, Mbak. Putrinya hampir saja celaka.  Aku lihat ia tadi  lari keluar  rumah mengejar bolanya. Terus dari arah sana, ada mobil larinya kencang. Putrinya hampir saja tertabrak. Tadi begitu tahu, aku langsung gendong,  dan kita berdua terjatuh.”
Aku sedih mendengarnya. Aku merasa bersalah. Pada putriku juga Yang Mahakuasa. Bayangkan saja. Akibat ketidakpedulian aku dan suami, putriku hampir tertabrak, tetangga pun dibuat repot demi menyelamatkan nyawanya. Sambil menggendong putriku, tak lama kemudian  aku pun  meminta izin pada si tetangga,  untuk masuk kembali ke dalam rumah, setelah sebelumnya mengucapkan terimakasih yang tak terhingga  atas pertolongannya.
**
Di ruang tengah itu kami berdua berdiam diri. Masih terdengar isak tangis putri kecil kami. Rasa-rasanya kami tak bisa berkata-kata. Namun  pada akhirnya kuberanikan diriku bersuara. “Ayah, Bunda minta maaf, ya. Hari ini Bunda sudah melakukan kesalahan. Bunda tidak memperhatikan Annisa.” Suamiku terdiam. Tetapi kemudian terdengar suaranya lirih. “Ayah yang minta maaf, Bunda. Ayah yang bersalah. Seharusnya tadi Ayah memperhatikan kata-kata Bunda,  untuk menjaga Annisa.” Sejenak aku terdiam. Aku tahu pasti dalam hati kecilnya, suamiku ini sangat mencintai putrinya.
“Iya, Ayah. Sudahlah, dalam masalah ini kita sama-sama bersalah. Kita seharusnya bisa mengingat,  bahwa Annisa adalah anak titipan Allah,  yang harus kita jaga dengan baik. Seharusnya kita bersama-sama merawatnya, mengetahui tumbuh kembangnya, memahami keinginannya, dan memenuhi segala kebutuhannya. Kita juga harus sejalan untuk selalu menyayanginya dalam kondisi apapun, juga memberikannya ilmu pengetahuan yang baik. Karena semua itu akan dipertanyakan oleh pemiliknya suatu saat nanti. Bukan berlaku sebaliknya.”
Lagi-lagi kami terdiam. Kemudian suaraku memecah keheningan “Ayah, tolonglah. Mulai saat ini kita sama-sama berjanji untuk selalu memperhatikannya, tidak mengabaikannya. Dengarkanlah ceritanya, bermainlah bersamanya. Jangan mengalahkannya demi mengikuti perkembangan teknologi,  atau sebuah permainan,  tetapi  ujung-ujungnya hanya membuatnya sedih,  dan berpikir bahwa orangtuanya sudah tidak menyayanginya. Kita harus bersyukur bahwa Annisa masih diberikan kesempatan untuk hidup.  Jadi berikanlah cinta yang tulus ikhlas kepadanya.”
“Iya Bunda. Ayah menyesal. Sungguh-sungguh menyesal. Ayah juga bersyukur, Allah masih menyayangi kita,  dengan membiarkan Annisa tetap bersama di keluarga ini. Semoga Ayah selalu mengingat ini sampai kapanpun dan dimanapun.” Aku pun tersenyum dan berkata “Alhamdulillah.”
Tiba-tiba putri kecil kami mendekat, menggosok matanya,  sambil bergelayut manja di lengan suami. Suamiku langsung menggendongnya. Dan tak lama kemudian putri kecil kami tertidur lelap dalam gendongan sang ayah. Perlahan aku pandangi kedua orang yang sangat kucintai itu berlalu memasuki kamar. Dalam hati aku berkata “Putriku, maafkan kedua orangtuamu. Kami berdua masih belajar,  untuk menjadi orangtuamu yang terbaik. Ya Allah,  terimakasih atas peringatanmu. Jika Engkau tidak menyayangi, tentunya Engkau akan membiarkan kami terus menerus melakukan kesalahan. Bantulah kami menjadi orangtua yang selalu memperbaiki diri,  dalam mendidik titipan amanahMu. Aamiin.”

Saya ibu rumah tangga yang ingin bercerita, berkisah dan belajar lewat sebuah tulisan.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *