Si Bawang Putih yang Tak Lagi Putih

                             Sumber gambar : www.google.com
Alkisah di sebuah kota kecil yang indah dan damai, hiduplah  satu keluarga bahagia dan berkecukupan. Beranggotakan  ayah, ibu, dan putri semata wayang mereka yang  bernama Bawang Putih. Bawang Putih adalah seorang putri yang sangat cantik. Tak hanya cantik. Ia juga seorang yang baik hati, ramah, dan suka membantu siapa pun yang membutuhkan. Maka tak heran jika orang-orang di lingkungan sekitar sangat menyukainya. 
Tak jauh dari rumah mereka, ada pula sebuah keluarga kecil,  yang hanya beranggotakan seorang ibu dan anak gadisnya. Gadis tersebut bernama Bawang Merah. Berusia sama dengan Bawang Putih. Hanya saja si Bawang Merah  ini mempunyai sifat, yang sangat bertolak belakang dengan si Bawang Putih. Ia adalah seorang yang berpengarai buruk. Mungkin perangai ini ia warisi dari sang ibu yang juga memiliki sifat buruk. Kehidupan keluarga mereka pun serba kesulitan, karena di masa lalu pernah berfoya-foya dengan kekayaan.
Bertahun-tahun si Bawang Putih dan keluarganya hidup dalam kebahagiaan. Hingga suatu saat kebahagiaan itu terenggut dari mereka. Sang ibu dipanggil oleh Yang Mahakuasa. Alhasil sang ayah dan Bawang Putih mulai menjalani kehidupan baru, tanpa kehadiran sang ibu yang sangat mereka cintai. 
Berita wafatnya ibu si Bawang Putih, akhirnya terdengar juga oleh ibu si Bawang Merah. Akal jahat pun merasuk dalam hatinya. Si ibu ini mulai berpikir, seandainya saja ia bisa menikah dengan ayah si Bawang Putih, tentulah kehidupan keluarganya tidak sesulit ini. Maka jadilah ia memikirkan bagaimana cara untuk mendekati keluarga si Bawang Putih.  Akhirnya si ibu menemukan cara itu.
Esoknya si Bawang Merah bersama ibunya berkunjung ke rumah si Bawang Putih. Kunjungan itu berlangsung terus menerus, hingga ayah si Bawang Putih  merasa bahagia. Apalagi selama berkunjung tersebut, si Bawang Merah dan ibunya  menunjukkan sikap yang sangat baik. Hingga pada akhirnya ayah si Bawang Putih luluh hatinya karena  mendapatkan perhatian mereka berdua. Tak lama kemudian ayah si Bawang Putih dan si Bawang Merah menikah.
Namun tanpa disangka, setelah menikah si Bawang Merah  dan ibunya menunjukkan perubahan sikap. Sifat asli mulai mereka tampakkan. Setiap hari mereka memperlakukan si Bawang Putih dengan tidak baik. Dipaksa bekerja mencari nafkah setiap hari. Sehabis bekerja pun masih harus membersihkan rumah. Hasil kerja kerasnya selalu dirampas oleh si Bawang Merah dan ibunya. Belum lagi ditambah dengan kata-kata kasar yang harus ia dengar setiap saat. 
Bawang Putih selalu mencoba bersabar menghadapi kenyataan ini. Sekuat tenaga ia mencoba bertahan untuk bersabar. Namun ada kalanya kesabaran dalam dirinya mulai habis. Ia mulai tidak tahan mendapatkan perlakuan buruk dari saudara tirinya. Sering ia dengar ajakan setan dalam hatinya,  untuk membalas semua perlakukan buruk si Bawang Merah dan ibunya. Lagi-lagi ia mencoba menahan diri untuk tidak membalasnya.
Beberapa tahun kemudian, ketika si Bawang Merah dan Bawang Putih beranjak dewasa,  kota kecil mereka kedatangan satu keluarga baru,  yang baru saja pindah dari daerah  lain. Keluarga baru ini sangat kaya dan terpandang. Dan sesuai tradisi yang ada selama ini, mereka mulai  berkenalan dan bersilaturahmi dengan tetangga sekitarnya. Termasuk kepada keluarga si Bawang Merah dan Bawang Putih. 
Ternyata keluarga ini memiliki satu anak laki-laki bernama Bawang Bombay yang sangat tampan. Ketampanannya sanggup meruntuhkan hati wanita yang memandangnya. Si Bawang Putih dan Bawang Merah juga terpesona olehnya. Mereka pun mulai merasakan jatuh cinta padanya. 
Namun ternyata si Bawang Bombay ini, hanya terpesona pada si Bawang Putih. Terkagum-kagum dengan wajah cantiknya. Disamping tutur katanya yang lembut dan ramah. Ia pun juga mulai jatuh cinta pada si Bawang Putih. Alhasil ia perlahan-lahan mulai mendekati si Bawang Putih dan mencoba mengenalnya lebih dekat. Alangkah bahagianya si Bawang Putih,  mendapatkan cintanya tak bertepuk sebelah tangan. 
Melihat fakta yang menunjukkan,  bahwa si Bawang Bombay menaruh hati pada si Bawang Putih, Bawang Merah pun mulai panas hati. Ia tak rela jika si Bawang Bombay jatuh dalam pelukan si Bawang Putih. Ia  ingin si Bawang Bombay hanya mencintainya. Mulailah ia menyusun rencana untuk merebut si Bawang Bombay dari Bawang  Putih. 
Esok harinya si Bawang Merah mengajak Bawang Bombay berjalan-jalan ke taman. Sebenarnya Bawang Bombay sudah menolaknya dengan halus, karena telah berjanji pada si Bawang Putih untuk mengunjunginya. Namun dengan liciknya si Bawang Merah mempengaruhinya. Ia berkata bahwa akan bunuh diri, jika Bawang Bombay menolak  ajakannya. Bawang Bombay akhirnya tak bisa menolaknya lagi, karena takut si Bawang Merah benar-benar melaksanakan niatnya itu. 
Bahagia tak terhingga si Bawang Merah ketika akhirnya mengetahui, bahwa Bawang Bombay akhirnya menuruti permintaannya. Ia pun mulai bersiap-siap, berdandan secantik-cantiknya. Tak lupa ia mengundang Bawang Putih untuk datang juga ke taman. Tentunya dengan dalih bahwa di taman ada pertunjukan seni yang menarik. 
Beberapa saat kemudian berangkatlah si Bawang Merah dan Bawang Bombay ke taman. Selama perjalanan dan berada di taman,  si Bawang Merah tak henti-hentinya merayu.   Mencoba menarik perhatiannya agar Bawang Bombay jatuh cinta padanya. Ia juga menebar fitnah, bahwa Bawang Putih bukanlah wanita baik-baik,  karena  sering menjalin hubungan dengan banyak laki-laki. Termasuk ketika bersama dengan si Bawang Bombay.
Pada awalnya Bawang Bombay tidak percaya dengan semua kata-kata si Bawang Merah. Namun Bawang Merah terus mempengaruhinya,  sehingga pelan-pelan mulai tergoda dan  mempercayainya. Bahkan sudah luluh hatinya,  dan perlahan sikapnya terlihat mulai bisa menerima keberadaan  si Bawang Merah. Sejurus kemudian si Bawang Putih datang ke taman,  dan mendapati pria yang dicintainya tengah menghabiskan waktu,  dan bermesraan dengan saudaranya si Bawang Merah. 
Terkejut ia melihat pemandangan yang ada di hadapannya.
Tak terasa air matanya mulai mengalir deras. Sakit hatinya melihat semua ini. Tak pernah dibayangkannya  ternyata si Bawang Merah merebut semua yang menjadi miliknya. Bahkan mengambil kekasih hati yang sangat dicintainya.
Sungguh ia tak ingin melihat semua ini. 
Perlahan tanpa ingin mengganggu dua orang yang telah menyakiti hatinya itu, si Bawang Putih membalikkan badannya,  dan berjalan kembali menuju rumahnya. Sesampainya, ia menangis sejadi-jadinya. Selama ini ia selalu bersabar menghadapi kejahatan si Bawang Merah. Berusaha bertahan untuk tidak pernah membalasnya. Namun apa hasilnya? Lagi-lagi si Bawang Merah menyakitinya seperti sebelumnya. 
Ia sangat mencintai si Bawang Bombay. Setiap hari ia berharap Bawang Bombay menjadi pria yang akan mendampingi hidupnya kelak. Tetapi hatinya yang terlampau sakit telah memburamkan akal sehatnya, ketika mengetahui kekasihnya itu tak lagi mencintainya,  dan lebih memilih saudara tirinya.
Akal sehat dan hati nuraninya pun mulai tertutup awan tebal. Awan kemarahan yang menjurus pada keinginannya untuk membalas dendam. Bisikan setan pun sedikit demi sedikit mulai ia dengarkan. Sampai pada akhirnya ia memutuskan harus mengakhiri semua ini. 
Esok harinya tanpa sengaja si Bawang Putih mengetahui,  bahwa si Bawang Merah dan Bawang Bombay akan melakukan perjalanan ke luar kota untuk berlibur. Ia pun mulai berpikir, sepertinya ini saatnya untuk bertindak. 
Diam-diam ia mengamati mobil yang ada di depan rumah. Tanpa bersuara ia mendekati mobil itu. Perlahan mengendap dan memutus tali remnya. Dan si Bawang Putih pun tersenyum puas. 
Sore itu hujan turun dengan derasnya. Sambil menyeruput segelas teh hangat, Bawang Putih menyaksikan televisi, yang menayangkan berita tentang  kecelakaan mengerikan,  dan  merenggut nyawa dua orang manusia. Ia pun tersenyum puas. 
Akhirnya pembalasan dendamnya terbayarkan sudah.
Hatinya sudah terkotori oleh perbuatan jahat yang selama ini berusaha ia hindari. Dan kini si Bawang Putih itu tak lagi putih.

3 thoughts on “Si Bawang Putih yang Tak Lagi Putih”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *