Berapa Assetmu?


Suatu hari seorang teman berkisah. Ia marah besar dan kecewa dengan sepupu iparnya. Awalnya  pada saat bertemu, mereka berdua hanya saling menanyakan kabar. Tiba-tiba sepupu tersebut bertanya,  tentang kondisi rumah si teman di kampung halaman. Si teman dengan santainya menjawab, bahwa rumah masa kecilnya itu sudah lama dijual,  karena orangtuanya telah  meninggal dunia beberapa waktu lalu.
Namun tiba-tiba sepupu ini bertanya lagi kepada si teman, apakah ia mempunyai asset lagi di kampung halaman,  selain  rumah tersebut, ataukah hanya itu yang tersisa.  Jujur teman saya terkejut mendengarnya. Mengapa si sepupu ini bertanya tentang asset yang dimilikinya? Apa maksudnya? Apa kepentingannya dengan pertanyaan itu? Apakah ingin mengetahui seberapa kayakah si teman? Atau ingin menghinanya? Menurut si teman sungguh ini bukan satu pertanyaan yang pantas untuk dipertanyakan. 
Akhirnya karena si teman sudah semakin marahnya  ia menjawab,  bahwa selain rumah, ada lagi asset yang masih dimilikinya. Yaitu makam kedua orangtuanya. Akhirnya si sepupu tadi terdiam mendengar perkataan si teman. 
Asset adalah kekayaan atau harta benda yang dimiliki oleh seseorang. Biasanya didapatkan dari hasil kerja keras, menabung,  atau merupakan harta warisan orangtua. Dengan asset ini seseorang dapat memenuhi semua kebutuhannya. Katakanlah jika  memiliki sebuah rumah, maka ia dapat mempergunakannya untuk mendapatkan penghasilan,  misalnya dengan menyewakannya kepada orang lain. 
Tetapi selain asset dari hasil kerja keras, menabung,   atau harta warisan orangtua,  ada pula yang diperoleh dari jalan  tidak benar. Sebagai  contoh asset yang didapat dari korupsi,  atau mengambil yang bukan haknya. Dan orang yang terbiasa mendapatkan asset dengan cara seperti ini, seringnya merasa terlena dan selalu tidak puas. Alhasil ada keinginan untuk terus menambah jumlah asset,  tanpa peduli cara yang digunakannya benar atau tidak.
Fakta yang  terjadi selama ini, asset yang dimiliki seseorang,  sering dijadikan sebagai tolok ukur kedudukan dan kehormatannya. Dalam arti semakin banyak assetnya, maka semakin terhormat pula kedudukannya dalam masyarakat. Tanpa melihat bagaimana caranya  mendapatkan asset  tersebut.  
Padahal sebenarnya tidaklah demikian. Banyaknya harta atau asset tidaklah menjamin  kehormatan seseorang. Apalah artinya memiliki banyak kekayaan, jika semuanya didapat dari cara yang tidak halal. Lantas menyombongkan diri, bahkan menghina orang lain. Terlebih  jika sedetik pun tidak berusaha  mengingat,  bahwa harta tersebut harus dibersihkan,  dengan cara digunakan di jalan Allah SWT
Boleh-boleh saja mengumpulkan asset sebanyak-banyaknya. Hanya saja gunakan cara yang bersih, jangan lupakan kondisi masyarakat sekitar, dan hindari menyombongkannya. Karena kebahagiaan dalam hidup ini, sejatinya tidak bisa diukur dengan uang. Melainkan seberapa besar keberkahan  dari setiap harta yang ada. 
Jadi, masihkah menilai asset sebagai ukuran kehormatan seseorang?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *