Dia Juga Butuh Perhatian

Saya mempunyai teman yang sering menjengkelkan. Berusia paruh baya,  dan aktif sebagai tenaga pemasaran di kantor kami. Entahlah. Setiap kali si teman datang kehebohan sering terjadi,  karena perbuatannya atau perkataannya.
Saya sendiri sudah maklum dengan semua ini. Dalam arti sangat mengerti sekali tentang sifat beliau , dan bagaimana harus memperlakukannya. Sehingga biasanya saya bersikap hanya berbicara jika ditanya, membantunya secepat mungkin,  dan tidak akan memulai pembicaraan sebelum beliau memulainya.
Di luar sikapnya yang kurang menyenangkan, ternyata beliau memiliki keahlian , yang semua orang belum tentu bisa melakukannya. Beliau ahli merajut, dan harus diakui hasilnya cukup bagus. Terbukti saya pernah membeli salah satu hasil karyanya. Dan keahliannya ini beberapa waktu yang lalu,  sempat membuat beliau diberi kesempatan oleh pemerintah setempat, untuk menggelar produk hasil karyanya.
Dua hari lalu beliau datang ke kantor seperti biasa dengan kagaduhannya. Setelah mengurus keperluannya, beliau terlihat terburu-buru hendak meninggalkan kantor. Sambil menunggu taksi yang hendak menjemputnya, beliau bercerita sedikit tentang pameran produk yang digelarnya.
Beliau bercerita dengan antusias dan semangat. Seolah-olah ingin mencurahkan segala kebahagiaannya. Hati saya pun mulai tersentuh mendengarnya, dan mulai berpikir apakah pantas mengabaikannya  yang sedang bersemangat saat ini.
Sedikit demi sedikit saya mulai mendengarkannya. Menanggapi ceritanya, dan juga bertanya tentang pamerannya. Terlihat  beliau sangat senang dan bahagia melihat saya memperhatikannya. Alhasil pembicaraan menjadi semakin seru. 
Tak lama kemudian taksi online pun datang. Bergegas mengambil tas dan perlengkapannya , beliau mohon pamit untuk menuju tempat pamerannya kembali. Sebelumnya beliau mengundang saya untuk datang ke stand pamerannya,  dan kalau bisa membeli produknya. Hehe.
Setelah beliau berlalu, saya merenung. Ternyata meskipun memiliki sifat  yang menjengkelkan, di balik itu beliau juga seorang manusia. Membutuhkan perhatian dari orang lain. Ingin ceritanya didengarkan, dan tidak ingin orang lain bersikap tak acuh padanya. 
Jadi ketika seseorang memiliki sifat yang menjengkelkan dan kurang menyenangkan, biarkanlah. Pada saat ia menyakiti hati, lupakan dan maafkanlah. Kewajiban kita hanya terus berbuat baik kepadanya. Tak peduli apakah nanti mendapatkan balasan yang sama ataukah tidak. Percayalah kebaikan yang kita tanam suatu saat akan berbuah. Entah kita nikmati sendiri. Ataukah dinikmati oleh keluarga dan anak cucu nanti.

1 thought on “Dia Juga Butuh Perhatian”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *