Uncategorized

Merasakan Sensasi Protes Anak

Saya mempunyai putri kecil berusia hampir empat tahun. Putri semata wayang yang sudah mulai mengerti kondisi sekitarnya. Bahkan sudah berani memprotes, ketika ayah bundanya tak ada di sampingnya.
Saya adalah seorang karyawati,  yang sudah tentu lima hari dalam seminggu penuh harus bekerja di kantor. Begitupun dengan suami,  yang jauh lebih lama menghabiskan waktu di tempat kerjanya.
Sedangkan si anak sendiri, dalam seminggu tiga hari ia harus  bersekolah. Pada saat ia bersekolah, suasana masih dapat dikendalikan. Namun ketika tiba saatnya libur, mulailah protes ala anak-anak keluar dari mulut mungilnya. Seperti biasa ia akan berujar “Ayah sama Bunda kerja lagi, kerja lagi! Aku sendirian!”
Awalnya saya hanya  tersenyum dan menikmati. Protes tersebut terdengar lucu di telinga. Apalagi ia ungkapkan dengan ucapan yang tidak jelas. Hehe. Namun setelah beberapa lama hal itu terjadi, saya mulai berpikir. Ada rasa dimana saya mulai terganggu dengan protes ini.
Terganggu bukan dalam arti tidak senang ketika anak memprotes. Tetapi mulai bertanya-tanya dalam hati. Apakah iya,  saya sedemikian sibuknya sehingga melalaikannya? Sehingga ia merasa sendirian? Protes inilah yang membuat saya bekerja keras untuk melakukan koreksi diri.
Terlebih pada saat ada acara sekolah yang mengharuskan orangtua menemani. Tetapi alangkah sedihnya hati ini, ketika  saat itu, saya harus menggantikan tugas teman yang sedang cuti. Alhasil tidak bisa menemaninya dalam acara tersebut. Sekali lagi perasaan bersalah mulai menghantui,  dan siap mengaduk hati.
Begitulah. Tetapi anehnya pada saat orangtuanya berada di rumah, putri kecil saya ini terlihat sangat manja, dan selalu mencari perhatian. Terkesan agak rewel. Semua permintaannya harus dikabulkan. Jika tidak akan menangis sejadi-jadinya atau cemberut seharian. Mungkin ini sebagai pelampiasannya,  akibat hampir seminggu lamanya merasa sendirian.
Memang sebagai ibu rumah tangga sekaligus pekerja, hal ini tidaklah mudah. Betapa setiap hari, saya harus mulai  membiasakan diri menerima semua protesnya. Menyaksikannya bermain seorang diri,  atau membayangkannya tidak bisa mencurahkan isi hati, jika ada yang menyakitinya, sungguh membuat saya bersedih.
Namun sekali lagi, tetap harus ada solusi untuk menghadapi permasalahan ini. Paling tidak,  saya harus bisa merelakan waktu istirahat sepulang kantor untuk memperhatikannya. Ikhlas melepaskan gadget dan teknologinya,  untuk mendengar cerita dan keluh kesahnya,  serta menemani bermain hingga tiba waktu untuk terlelap.
Ya, saya harus bisa melakukan hal ini. Setidaknya sampai tiba waktu bagi saya nanti, untuk berani mengambil satu keputusan besar dalam hidup. Ketika saya benar-benar berani memutuskan,   lebih memilih dan mendahulukan kepentingannya,  dibandingkan kebahagiaan diri sendiri dalam mencari penghasilan.

Saya ibu rumah tangga yang ingin bercerita, berkisah dan belajar lewat sebuah tulisan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *