Degradasi Hati

Beberapa waktu lalu saya bekerja di perusahaan sebagai seorang auditor. Memeriksa laporan keuangan perusahaan,  sudah menjadi tugas dan tanggung jawab. Tak jarang saya harus keluar kota meninggalkan keluarga demi tugas ini. 
Menjalani pekerjaan sebagai auditor tidaklah mudah. Saya harus memiliki keberanian,  untuk mengungkapkan yang salah. Ada kalanya harus berselisih paham dengan pihak yang diperiksa,  demi mendapatkan kebenaran.
Alhasil semua perasaan berbaur dalam hati. Antara senang ketika mendapatkan fakta yang benar. Juga sedih jika ada pihak  yang harus dipersalahkan. Tak jarang pula merasa superior, karena sudah bukan rahasia lagi jika seorang auditor itu ditakuti. Padahal wajah saya ini sama sekali tidak menakutkan. Hehe.
Enam bulan lalu semuanya berubah. Keputusan perusahaan yang terbaru mengisyaratkan, untuk mengurangi beberapa orang auditor. Dan tanpa terduga, saya termasuk dalam kelompok tersebut. Terdegradasi dari seorang auditor,  dan menempatkan saya pada unit kerja di kantor cabang. Hanya sebagai staf administrasi biasa pula.
Kecewa? Tentu. Sedih? Iya. Malu? Apalagi. Terlebih ketika saya ingat lagi masa-masa menjadi auditor,  dan kini hanya sebagai staf administrasi biasa saja. Ibaratnya dulu semua orang menurut pada saya, dan kini harus mengalami situasi sebaliknya.
Tetapi, alhamdulilah saya bisa menyikapi hal ini. Berusaha sedapat mungkin untuk tetap bekerja sebaik-baiknya,  dan tidak terpengaruh dengan kondisi degradasi ini. Jujur awalnya sempat kurang nyaman karena beberapa teman bersorak. Namun saya tetap berpikir bahwa itu semua tiada artinya,  dibandingkan rasa syukur masih diberikan kesempatan bekerja.
Memang saat ini bisa dibilang saya mengalami degradasi. Degradasi hanya karena jabatan. Tetapi hati saya sama sekali tidak merasakan degradasi. Jika iya, maka sudah tentu saya akan bersedih terus sepanjang hari, mengutuk atau memprotes keras keputusan perusahaan, dan bisa jadi tidak ingin bekerja lagi.
Tidak, saya tidak melakukannya. Bagi saya jabatan hanyalah sebuah titipan. Perantara bagi seorang manusia untuk mendapatkan peningkatan rezeki. Tetapi apalah gunanya jabatan tinggi , namun tidak bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Pemberi Rezeki. Semuanya akan sia-sia saja.
Pada akhirnya saya belajar, bahwa kehidupan manusia selalu berubah setiap saat. Kita tidak akan tahu kapan saatnya berada di atas,  atau terjungkal ke bawah. Namun satu hal yang harus disadari. Jangan pernah merasa bangga diri atau memperbesar kesombongan. Karena seorang manusia sesungguhnya tak pantas menyombongkan diri. Kesempurnaan hanya milik Allah SWT semata.

1 thought on “Degradasi Hati”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *