Uncategorized

Susahnya Mendidik Anak Perempuan

Pada saat putri kecil saya lahir, semua orang menyambutnya dengan gembira. Terlebih teman-teman di kantor. Menurut mereka bertambah lagi satu anggota keluarga baru yang berjenis kelamin perempuan. Maklumlah mayoritas anak-anak kami adalah perempuan.
Bagi saya, memiliki seorang anak perempuan sangat menyenangkan. Hal ini disebabkan banyak atribut lucu-lucu dan menggemaskan,  yang bisa dipakainya. Katakanlah seperti bandana, topi, jilbab, rok, pakaian, bahkan alas kakinya. Itulah sebabnya saya selalu lupa diri jika harus berbelanja pakaian,  atau atribut untuk anak kami. Hehe.
Namun tidak demikian halnya dengan teman saya di kantor. Ia memiliki dua prang putra yang sangat tampan. Ketika ditanya kapan ingin punya anak perempuan, ia menjawab “Enggak, Mbak. Mendidik anak perempuan itu susah.”
Terkejut juga mendengar penuturannya. Tetapi biarlah itu semua menjadi keputusannya. Lalu sebenarnya apa yang membuat si teman berkata demikian?
Sebenarnya mendidik seorang anak entah laki-laki atau perempuan sama saja. Pada dasarnya setiap orangtua pastilah menginginkan anaknya, menjadi manusia yang pandai, baik hati, bermanfaat bagi agama dan sesama. Hanya saja setiap orangtua memiliki seni masing-masing,  dalam menerapkan pola asuh pada anak. 
Tetapi tak bisa dipungkiri,  bahwa mendidik seorang anak perempuan memerlukan satu perhatian khusus, dibandingkan dengan anak laki-laki. Hal ini disebabkan :

  1. Peran dalam keluarga. Seorang anak perempuan nantinya akan tumbuh menjadi wanita dewasa, dimana sejalan dengan hal tersebut, ia akan memiliki peran yang cukup penting dalam keluarga. Ketika menikah ia bertugas mengatur semua kebutuhan dalam rumah tangga, juga mengurus suami dan anak. Tak hanya itu. Ia juga bertanggung jawab mengatur keuangan dan ekonomi keluarga. Sehingga jikalau ia tak mampu menjalankan tugasnya ini, maka kemungkinan besar rumah tangga yang dibinanya, tidak akan berjalan harmonis.
  2. Calon isteri dan ibu. Seorang perempuan akan menjadi calon isteri dan ibu di masa depan. Ketika menikah ia akan menjadi seorang isteri, dari pria pendamping hidupnya. Isteri yang mampu memberikan kedamaian pada keluarganya. Juga menjadi ibu dan guru bagi anak-anaknya. Ia akan menjadi seseorang, yang harus memberikan banyak ilmu kehidupan kepada anak-anaknya, sebagai sosok yang paling dekat dengan keluarga. Maka untuk itulah ia harus banyak belajar dari orangtua dan lingkungannya, tentang kehidupan dan semua hal yang bermanfaat.
  3. Perbedaan karakter. Yang menjadikan orangtua memiliki kesulitan tersendiri, dalam mendidik anak perempuannya adalah, perbedaan karakter yang mencolok dengan anak laki-laki. Karakternya yang lembut, menjadikan orangtua harus ekstra hati-hati dalam mendidiknya. Katakanlah jika ingin memberikan teguran atas kesalahannya,  atau ketika ia sedang menghadapi masalah. Disinilah orangtua harus pandai menyikapi, agar teguran dan nasehat bisa diberikan, namun anak masih dapat menerimanya, bahkan semakin mengeratkan hubungannya dengan orangtua.

Hmmm, akhirnya saya memahami apa yang menjadi penyebab si teman berbicara demikian. Tetapi semuanya kembali kepada pendapat masing-masing pihak. Yang jelas seorang anak entah laki-laki atau perempuan,  tetap menjadi kewajiban orangtua untuk membesarkan dan mendidiknya dengan baik, karena kelak akan dipertanggungjawabkan kepada pemiliknya.

Saya ibu rumah tangga yang ingin bercerita, berkisah dan belajar lewat sebuah tulisan.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *