Uncategorized

Adik Kecilku

Tiga hari lalu adik kecilku bertambah usia. Terlahir di tahun 1978 melalui proses melahirkan normal. Memiliki berat badan lahir 4,75 kilogram pada saat itu, memang membuat ibu kami sangat susah payah melahirkannya.
Sempat teringat cerita ibu  pada saat melahirkan adik. Tubuh adik yang besar di dalam, membuatnya sulit keluar dari tubuh ibu. Kepalanya sudah tampak,  namun bahunya tak bisa keluar. Di zaman dahulu masih belum mengenal yang namanya operasi Caesar seperti sekarang. Sehingga semua tergantung pada kepandaian sang bidan.
Waktu itu sang bidan berkata kepada ayah dan ibu, jika ini adalah proses melahirkan yang sangat beresiko. Bidan memberi pandangan bahwa ayah dan ibu harus siap,  jika adik tidak bisa diselamatkan, karena ia berpendapat bahwa menyelamatkan ibu menjadi prioritasnya. Tetapi ayah meminta bidan untuk berusaha menyelamatkan keduanya.
Setelah melalui proses melahirkan yang cukup panjang, akhirnya adik kecilku dengan jenis kelamin laki-laki,  terlahir ke dunia dengan selamat. Ibu bidan yang baik hati itu sempat pingsan,  karena kelelahan membantu proses persalinan. Adik kecilku sendiri yang  bobotnya cukup besar, membuatnya terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Bahkan suami sang bidan yang pada awalnya kurang menyukai anak kecil, seketika itu juga merasa gemas dengan adikku.
Terlahir dengan proses persalinan yang sangat sulit, membuat adikku tidak bisa jauh-jauh dari ibu. Di dalam pikirannya sudah terbentuk pola,  bahwa ia berbagi nyawa dengan ibu saat lahir ke dunia. Itulah yang membuatnya selalu membantu, berkeluh-kesah, bercerita, dan berbagi kebahagiaan, dan ingin selalu dekat dengan ibu. Itulah yang terjadi pada saat ia sudah menginjak usia dewasa.
Tak hanya dengan ibu. Ia juga termasuk orang yang sangat dekat denganku. Dari kecil kami selalu bersama. Jarang sekali terlihat kami berdua bertengkar. Karena selalu bersama, lucunya kami memiliki kebiasaan dan barang yang sama.  Kami memiliki satu tujuan yang sama ketika bersekolah,  hingga  melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bahkan kami pun bekerja di satu perusahaan yang sama, meski berbeda bidang pekerjaan.
Akhirnya banyak teman yang menyarankannya untuk menikah mendahului aku. Dengan alasan, siapa tahu setelah itu aku yang menyusulnya menikah. Memang saat itu adik kecilku telah membina hubungan dengan seorang gadis, dalam waktu hampir sebelas tahun. Daripada menjadi fitnah aku memaksanya untuk segera menikah. Aku yakinkan kembali kepadanya tentang keikhlasanku.  Dan benarlah. Setahun setelah ia menikah, aku akhirnya menyusulnya.
Setelah bertahun-tahun bersama, beberapa bulan lalu adikku ini mendapatkan tugas dari perusahaan untuk bekerja di ibukota.  Sedih sekali membayangkannya jauh dari aku. Tetapi aku ikhlas melepasnya. Aku hanya berpikiran semoga kepindahannya ini membuatnya semakin maju dan berkembang.
Tiga hari lalu ia bertambah usia. Tak banyak yang aku harapkan selain ia selalu sehat, beroleh rezeki yang berkah dan berbahagia bersama keluarga kecilnya. Dan semoga ia selalu mengingat perjalanan hidupnya bersama ayah, ibu, kakak dan semua saudara yang sangat menyayanginya.
Selamat ulang tahun adikku. Kakakmu ini akan selalu menyayangi dan merindukanmu. Semoga Allah SWT melindungimu kapan saja dan dimanapun. Wish you all the best, my little brother.

Saya ibu rumah tangga yang ingin bercerita, berkisah dan belajar lewat sebuah tulisan.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *