Uncategorized

Aidh Al Qarni, Sang Penulis Inspirasi

Beberapa tahun lalu, seorang teman   pernah membaca buku yang sangat bagus. Buku sederhana, namun mampu membius pembacanya, hingga terinspirasi oleh kalimat-kalimat di dalamnya. 
Mendengar kata buku jujur saya merasa kalap dan ingin juga memilikinya. Setelah menyusuri toko buku, akhirnya saya menemukannya. Buku itu berjudul “La Tahzan” atau “Jangan Bersedih.” Ditulis oleh seorang jenius bernama Aidh Al Qarni. Dan kebahagiaan saya semakin bertambah, ketika di hari ulang tahun, si teman menghadiahkan buku dari pengarang yang sama, dengan judul “Menjadi Wanita Paling Bahagia di Dunia.”
Setelah membaca kedua buku tersebut, saya merasa sangat terinspirasi. Sehingga akhirnya sampai sekarang, saya menjadikan Aidh Al Qarni sebagai penulis favorit. Nah,  siapakah Aidh Al Qarni ini? 
Aidh Al Qarni adalah seorang pria yang terlahir di desa Qarn, suatu daerah di  selatan Arab Saudi. Lahir di tahun 1379 H atau 1960 M, dimana nama beliau diambil dari desa kelahirannya.
Adapun jenjang pendidikan perguruan tinggi yang pernah ditempuhnya adalah, meraih gelar sarjana tahun 1404 H dari Fakultas Ushuluddin, di Universitas Imam Muhammad bin Sa’id al-Islamiyah. Berlanjut mendapatkan gelar magister hadist empat tahun kemudian. Tak hanya itu. Gelar doktor pun beliau peroleh di tahun 1422 H.
Latar belakang kehidupannya yang berasal dari keluarga ulama, membuat Aidh Al Qarni sangat dekat dengan aktivitas di masjid, seperti shalat berjamaah. Kegiatan membaca dan menulis pun tak pernah lepas dari kesehariannya.
Aidh Al Qarni adalah seseorang yang berani mengungkapkan kebenaran. Akibat keberaniannya ini, beliau harus masuk penjara, selama sepuluh bulan  di tahun 1966. Namun, hal itu sama sekali tak menyurutkan niatnya untuk menyuarakan kebenaran. Alhasil pada saat di penjara pun, menulis masih tetap menjadi kesibukannya.
Nilai plusnya sebagai seseorang yang menguasai hafalan Al-Qur’an, kitab Bulughul Maram, serta hadist, membuat beliau menjadi penulis produktif, serta penceramah terkenal.
Dari sekian banyak buku hasil karyanya, harus diakui La Tahzan menjadi yang paling fenomenal, dalam sejarah penerbitannya. Buku ini mampu terjual 120 eksemplar, dan sudah diterjemahkan dalam 29 bahasa. Di Indonesia juga menjadi buku terlaris sepanjang masa. Dan buku ini lahir dari perenungannya selama dalam penjara,  setelah merenungkan kejadian di sekitarnya.
Dalam buku La Tahzan ini beliau mengajak semua orang,  untuk selalu hidup bahagia. Menyingkirkan semua kesedihan agar hidup menjadi berkualitas, bermanfaat,  dan tidak sia-sia. Bahkan saya ingat satu ungkapan yang ada di dalam buku tersebut. “Hiduplah hanya untuk hari ini, karena hari kemarin sudah tidak ada, hari esok masih misteri.” 
Dari ungkapan tersebut, beliau mengingatkan, agar melakukan apapun yang terbaik dalam hidup, hanya di hari ini. Jangan pernah melihat masa lalu, karena sudah lewat, dan hindari mencari apa yang akan terjadi di masa depan. Sebab itulah sebenarnya,  penyebab hidup kita rumit dan tidak bahagia.
Namun, di  tanggal 1 Maret 2016, takdir mempertemukannya dengan maut. Beliau wafat di Filipina setelah ditembak oleh orang tak dikenal,   pada saat usai berceramah tentang eksistensi Syiah, di Mindanau Barat. Banyak dugaan bahwa negara Iran berada di balik peristiwa ini.
Itulah sekilas tentang Aidh Al Qarni. Penulis favorit yang saat ini tetap menginspirasi hidup saya. Semoga apapun yang beliau perbuat untuk setiap insan manusia, berbuah pahala kebaikan baginya. Meskipun hanya berupa tulisan.

Saya ibu rumah tangga yang ingin bercerita, berkisah dan belajar lewat sebuah tulisan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *