Uncategorized

Yang Butuh Siapa?

Suatu hari seorang teman memasang wajah cemberut, dan itu berlangsung seharian. Ketika ditanyakan masalah apa yang membuatnya seperti itu, ia menjawab bahwa pada hari itu ia bertengkar dengan adiknya.
Setelah mendengarkan duduk permasalahannya, saya katakan kepadanya untuk mengalah,  dan mendatangi adiknya. Sebab jika semuanya merasa menang, pastilah permasalahan tidak akan selesai. Tetapi si teman membantah dengan berkata “Emoh! Lha Sopo Sing Butuh!” Yang artinya “Tidak Mau,  Sebenarnya Siapa yang Butuh?”
Nah, pernahkah teman-teman mendengar kata-kata seperti itu, ketika terjadi pertengkaran antar dua orang manusia? Pasti pernah. Pada intinya masing-masing ingin menunjukkan dirinya yang paling benar, sehingga wajib bagi si lawan bicara untuk tunduk padanya. Jika tidak, ia akan berkeras hati untuk tetap berpegang pada prinsip  yang menurutnya benar.
Padahal tidak selamanya prinsip atau perbuatan yang ia yakini selalu benar. Tetapi rasa ego yang cukup besarlah,  yang membuat seseorang gengsi untuk menyatakan kekalahannya. Sehingga sering terucap dari mulutnya kata-kata “Siapa Sebenarnya yang Butuh” sebagai alasan pembenaran.
Tetapi betulkah setelah  mengucapkan itu, ia sanggup untuk benar-benar tidak membutuhkan orang lain? Sanggupkah ia untuk hidup sendiri, tanpa ada manusia lain disekitarnya? Sanggupkah ia mengerjakan semua sendiri, tanpa bantuan orang lain?
Jika ada yang mengatakan sanggup, maka sudah pasti ia adalah manusia yang teramat sombong,  dan merasa paling segala-galanya di dunia ini. Padahal sejak masih dalam kandungan ibu hingga akhir hayat nanti, sesungguhnya tidak ada satu hal pun yang sanggup ia lakukan sendiri.
Ketika dalam kandungan kita dibesarkan dengan kasih sayang ibu, yang berjuang menjaga kita agar bisa selamat lahir ke dunia. Setelah lahir memasuki masa kanak-kanak, kita dirawat oleh orang tua. Pada masa sekolah kita bisa mendapatkan ilmu bermanfaat karena ajaran guru-guru.
Ketika dewasa dan sudah menikah, masih saja merepotkan orangtua, dengan menyuruhnya mengasuh anak-anak. Dalam hidup bertetangga, pada saat kesusahan, tetanggalah yang pertama kali datang. Saat sakit, saudara dan teman masih saja memperhatikan kondisi kita. Bahkan sampai akhir hayat, kita tak bisa lepas dari membutuhkan bantuan orang lain.
Jadi, mengapa hanya karena emosi dan tak bisa mengendalikan diri,  lantas berucap “Siapa yang Butuh?” atau “Aku Tidak Butuh Kamu!” Itu sama saja dengan menunjukkan sikap arogansi kita, yang sanggup membuat jalinan pertemanan tidak nyaman, bahkan berujung pada hancurnya persahabatan.
Yuk teman, sadarilah. Bahwa manusia adalah makhluk lemah. Masih membutuhkan kehadiran orang lain, untuk membantu kita tumbuh dan berproses menjadi lebih baik. Jangan sia-siakan persahabatan yang terjalin rapi,  hanya karena emosi, hingga keluar sebuah arogansi berbentuk ucapan “Siapa yang Butuh.”
Sebab sesungguhnya itu adalah perbuatan manusia sombong yang sama sekali tidak disukai. Tidak disukai oleh orang lain dan terlebih  oleh Sang Mahakuasa.

Saya ibu rumah tangga yang ingin bercerita, berkisah dan belajar lewat sebuah tulisan.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *