Salahkah dengan Pekerjaannya?

Saya menikah dengan seorang pria,  yang berpenghasilan sebagai pegawai di salah satu instansi pemerintahan. Banyak orang mengatakan bahwa saya sangat beruntung bisa menikah dengannya. Alasannya kehidupan ekonominya pasti terjamin dan katanya pasti kaya raya. Padahal belum tentu juga, tuh.
Saya hanya bisa tersenyum saja. Bagi saya semua itu tak terlepas dari takdir. Tak ada yang salah dengan ketentuanNya. Jika memang itu yang terjadi, semuanya pasti harus disyukuri. Tetap harus mengingat bahwa itu semua adalah titipan yang sewaktu-waktu bisa dicabut oleh pemiliknya.
Suatu ketika saya membaca status media sosial salah satu teman baik di masa sekolah. Dulu saya mengenalnya sebagai orang yang menyenangkan. Tetapi entah mengapa,  setelah bertemu kembali di dunia maya tanpa sengaja, saya merasa kurang nyaman. Masalahnya sekarang ia lebih banyak berbicara tentang keluhannya, dan menurut saya terlalu lebay dan berlebihan.
Dalam statusnya itu ia menulis ” Pegawai Pemerintahan sekarang hanya bisa makan gaji buta. Makan uang rakyat,  tanpa menghasilkan sesuatu yang bisa berguna bagi rakyat.” Sempat terkejut membaca status ini. Dan sedikit banyak tersinggung, karena tahu pasti bagaimana suami bekerja sehari-harinya. Sering tak mementingkan keluarganya demi pekerjaan, yang tiba-tiba saja menghendakinya ada di tempat tertentu.
Tanpa pikir panjang lagi segera saya memberi komentar di status tersebut. Saya berkata “Apa ada yang salah dengan pekerjaan sebagai pegawai pemerintahan? Suami saya juga bekerja di pemerintahan, lho.” Tanpa terduga si teman sedang online. Dan saya lihat ia menjawab “Tidak semua, kok.”
Dalam hati saya jengkel. “Eh, hanya begitu saja? Tanpa minta maaf atau berkata lainnya? Bukankah tidak hanya saya saja yang tersinggung? Orang lain pun yang berprofesi sama, bisa sakit hati karena membaca statusnya, yang tidak bermanfaat itu.” Akhirnya saya putuskan untuk tidak memperpanjang lagi obrolan dengannya, karena sudah tak bermanfaat.
Ditakdirkan memiliki satu pekerjaan adalah mutlak kekuasaan Allah SWT. Tentunya disertai dengan seberapa keras usaha kita,  dalam berusaha dan berdoa memohon padaNya. Jadi menurut saya sungguh tidak pantas kita menghujat orang lain dan pekerjaannya, karena semua sudah ditentukan oleh Yang Mahakuasa.
Tak hanya orang yang memiliki pekerjaan mapan saja. Bagi  yang berpenghasilan dari berjualan, menarik becak, sebagai pemungut sampah, petugas kebersihan, atau pekerjaan lain yang memiliki penghasilan,  tak sebesar pegawai pemerintahan dan  pengusaha,  juga semuanya tak ada yang salah. Tak pernah ada yang salah dengan ketentuanNya. Apapun pekerjaannya, Ia sudah pasti akan menjamin rezeki masing-masing orang, dari arah manapun yang Ia kehendaki.
Satu-satunya yang salah adalah perilaku manusia. Bagaimana cara ia mencari rezeki dari pekerjaan yang sudah diberikan untuknya. Jujurlah ia? Halalkah uang yang ia dapatkan? Apakah ia bekerja dengan segala cara,  untuk mendapatkan posisi jabatan yang lebih tinggi? Bahkan rela menyakiti orang lain? 
Ataukah ia bekerja dengan tulus ikhlas dan apa adanya? Bekerja hanya dengan niat memberikan rezeki halal bagi keluarga? Sehingga terus berusaha untuk jujur pada diri sendiri,  dan berupaya tidak tergiur godaan setan,  yang berpeluang menutup mata hatinya dari mencari rezeki  halal.
Tak ada yang salah dengan sebuah pekerjaan. Yang salah hanyalah perilaku manusia,  dalam hal bagaimana cara mencari rezekinya. Serta bagaimana ia memanfaatkan rezeki yang  didapatkannya. Karena seyogyanya apapun pekerjaannya, ia harus tetap bersyukur, dan selalu membelanjakan rezekinya di jalan Allah SWT. 

1 thought on “Salahkah dengan Pekerjaannya?”

  1. Betul, mbak Ning. Tidak ada yang salah dengan jenis pekerjaan, yang salah adalah perilaku manusia yang tidak mau memperbaiki diri. Memangnya salah jadi PNS? Duh … Saya kok jadi gemes bacanya. Tidak semua PNS berperilaku buruk. Masih banyak PNS yang bisa berprestasi.

    Salam ya buat temannya ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *