Uncategorized

Supervisor, Langkah Awal  menjadi Seorang Pemimpin

Di unit kerja kantor kami terdapat sembilan orang supervisor yang masing-masing membawahi enam sampai dengan tujuh orang agen. Tugas mereka selain mencari produksi dan memberikan pelayanan kepada konsumen, juga diwajibkan untuk menambah jumlah agen,  dan membinanya sampai berhasil.
Selayaknya manusia yang memiliki beragam karakter, begitupun para supervisor tersebut. Masing-masing memiliki watak, kemampuan, dan sifat yang terkadang membuat saya harus pandai bersikap. Agar mereka semua nyaman bekerja sama dengan kami.
Dari semua supervisor itu, ada satu orang yang cukup unik. Sebetulnya ia berkarakter ulet dan pantang menyerah. Tiap bulan ia selalu mencapai hasil yang bagus dalam pekerjaannya. Namun ada satu yang menjadi kekurangannya. Ia sering mementingkan diri sendiri, dan sering lepas tangan terhadap semua agennya.
Seperti siang itu. Ia berkata bahwa salah satu agennya memperoleh satu nasabah, dengan jumlah nominal tabungan yang cukup besar, untuk ditabung di perusahaan kami. Agen tersebut  tergolong orang baru, sehingga otomatis masih membutuhkan bimbingan dalam beradaptasi, dan melakukan pekerjaannya. 
Si supervisor unik ini pada awalnya menemani si agen menghadap saya, untuk menyerahkan aplikasi nasabahnya tersebut. Setelah saya periksa, aplikasi yang ia serahkan masih memiliki banyak kesalahan. Namun saya memakluminya karena ia masih dalam tahap belajar. Saya berharap si supervisor bisa membimbingnya memperbaiki kesalahannya.
Tetapi tiba-tiba saja si supervisor ini melangkah pergi dan sambil lalu berkata “Mbak, tolong dia diurus ya. Aku mau pergi ke nasabah yang lain dulu.” Saya terkejut. Namun saya langsung memanggilnya, dan meminta bantuannya untuk membimbing terlebih dahulu si agen ini, sebelum ia melangkah keluar kantor.
Pelan-pelan saya mencoba memberi masukan kepada si supervisor. Saya katakan bahwa tidak mudah mendapatkan bawahan yang sangat rajin dan pantang menyerah seperti si agen tadi. Sehingga alangkah baiknya jika si supervisor itu merawat agen tersebut agar betah, bersemangat dan berhasil dalam pekerjaannya.
Menjadi seorang pemimpin adalah pekerjaan yang tak mudah. Jangankan dalam lingkup besar. Dalam lingkup kecil seperti kelas pun,  sangat sulit bagi seseorang untuk memimpin teman-temannya. Sebab sebagai seorang pemimpin atau ketua kelas, ia harus memiliki keteladanan,  yang nantinya akan menjadi panutan teman-temannya.
Begitupun dalam bekerja. Ada seseorang yang memang ditunjuk oleh perusahaan untuk memimpin suatu unit kerja. Tentunya jika ia memiliki kompetensi dan kemampuan untuk memimpin,  entah dalam skala kecil maupun besar. Dan biasanya diawali dari skala kecil dengan posisi sebagai supervisor.
Dari langkah awal sebagai supervisor inilah, ia akan belajar bagaimana mengatur anak buah dalam jumlah kecil, serta dengan tanggung jawab sesuai yang menjadi tugasnya selama ini. Ia juga harus banyak belajar, bagaimana merawat anak buahnya, membimbingnya, hingga mampu berdiri sendiri,  dan suatu saat bisa dilepas untuk mengikuti jejaknya sebagai supervisor.
Namun ada beberapa orang yang tak berhasil dalam hal ini. Mungkin ada yang memang memiliki sifat yang egois, tak ingin anak buahnya lebih berhasil dari dirinya, atau memang tak memiliki kemampuan bagaimana menjadi pemimpin yang baik.
Entahlah, bisa jadi menjadi seorang pemimpin tak terlepas dari bakat kepemimpinan yang ada pada dirinya. Tapi setidaknya dengan menjadi seorang supervisor, itu adalah langkah awal,  belajar menjadi pemimpin dalam lingkup yang lebih besar. Jika memang berhasrat kuat dan siap mental,  dengan segala konsekuensi untuk  menjadi seorang pemimpin. 
Nah, siap menjadi pemimpin?

Saya ibu rumah tangga yang ingin bercerita, berkisah dan belajar lewat sebuah tulisan.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *