Uncategorized

Ikhlaskan Aku Pergi (Bagian Pertama)

Sang surya masih menggelayut manja, seolah tak mau menampakkan wujud indahnya. Namun Adrian sudah memulai perjalanannya menuju tempat tugas. Sembari berkonsentrasi mengemudikan mobil lawasnya, si dokter muda nan tampan  ini,  tak lupa mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Pria berhidung mancung dan berambut ikal ini berharap,  semoga hari ini dapat menyelamatkan nyawa dua orang manusia tanpa hambatan.
Namun seketika konsentrasinya terganggu tatkala telepon genggamnya berbunyi. Tanpa melihat ia langsung mengangkatnya. Dari seberang terdengar suara Shinta sang kekasih “Mas, kamu dimana sekarang? Jangan lupa pagi ini kamu sudah berjanji untuk menemaniku ke toko buku. Aku harus bisa dapatkan buku untuk referensi skripsiku!” 
Hmmm, Adrian sudah hafal sekali dengan nada suara kekasihnya, yang masih kekanakan dan manja ini. Itu tandanya ia harus bisa memenuhi janjinya tanpa alasan apapun. Dengan tenang Adrian menjawab “Sayang, mbok ya kasih salam dulu. Ingat lho, saling memberi salam itu berarti kita berdua sama-sama mendoakan.” Dari seberang kembali terdengar suara Shinta “Aduh iya ya. Assalamualaikum. Pokoknya nanti jangan lupa ya. Mas harus antarkan aku!”
Kembali Adrian menjawab salam Shinta dengan lembut “Waalaikumsalam. Iya, Dik. Mas tidak lupa. Tapi maafkan. Ini Mas sudah di perjalanan menuju rumah sakit. Ada pasien yang hendak melahirkan. Sepertinya rumit dan butuh perhatian ekstra. Jadi Mas tidak tahu. Nanti siang bisa menemani atau tidak.”
Dari seberang kembali terdengar suara “Lho, Mas ini bagaimana, sih? Kemarin kan sudah janji! Terus bagaimana caranya aku pergi?” Adrian menjawab kembali “Sayang, kan ada taksi. Atau minta antar adik Nita. Cobalah untuk mandiri, ya. Maaf  Mas terburu-buru. Nanti Mas telepon lagi, okey.” Segera Adrian menutup teleponnya karena ingin fokus mengemudikan mobilnya. Dan di seberang sana, Shinta tak terima dengan perlakuan Adrian yang tak menghiraukannya.
**
Adrian dan Shinta adalah dua orang yang bersahabat sejak kecil. Mereka tinggal di dua rumah yang saling berdekatan. Setiap hari bermain dan belajar  bersama. Usia Adrian yang baru saja memasuki kepala tiga, terpaut tujuh tahun lebih tua menjadikannya sosok kakak bagi Shinta. Adrian adalah anak tunggal dari orangtua yang bekerja sebagai buruh pabrik. Sedangkan Shinta adalah anak dari seorang pengusaha kaya di bidang pertambangan,  dan memiliki seorang adik perempuan.
Kehidupan Adrian yang biasa saja, membuatnya selalu bekerja keras jika menginginkan sesuatu. Ia berprinsip tak ingin terlalu merepotkan orangtua. Ia menyadari kondisi orangtua hanya cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sehingga jika ingin mendapatkan sesuatu, ia harus berusaha sendiri. Itulah sebabnya demi keinginannya menjadi seorang dokter, ia berjuang mendapatkan beasiswa, agar beban orangtuanya sedikit ringan. Keuletannya dalam belajar dan menempuh pendidikan kedokteran, membuatnya lulus dengan nilai memuaskan, dan segera melanjutkan ke jenjang spesialis. Lagi-lagi kesempatan itu ia dapatkan dari beasiswa di kampusnya. Dan tak lama kemudian tercapailah gelar dokter spesialis kandungan tersebut. 
Sedangkan Shinta memiliki kehidupan yang jauh berbeda dengan Adrian. Kehidupan orangtuanya yang mapan membuatnya mudah mendapatkan keinginannya. Jika ingin sesuatu,  tinggal menyampaikan pada orangtua yang selalu langsung menuruti keinginannya. Itulah sebabnya perempuan mungil,  berwajah manis, dan berambut panjang ini menjadi sosok yang manja, mau menang sendiri, dan selalu marah jika keinginannya tak terpenuhi.
Namun demikian Adrian sangat menyayangi Shinta. Kehidupan sehari-hari yang selalu mereka jalani bersama,  sedikit demi sedikit telah merubah perasaan Adrian. Dari rasa sayang sebagai kakak, kini berubah menjadi perasaan cinta pria dewasa kepada seorang wanita.  Dan ternyata rasa cintanya ini tak bertepuk sebelah tangan. Shinta juga memiliki perasaan yang sama dengannya.
Pria berkacamata ini  juga religius. Sehingga pada saat memutuskan menjajaki hubungan dengan Shinta, ia telah bertekad untuk melanjutkannya ke jenjang pernikahan, segera setelah Shinta lulus dari kuliah. Ia juga berharap dapat membuat kekasihnya ini, menjadi wanita yang lembut hati dan lebih empati. Untuk itulah bagaimanapun sifat dan perilaku Shinta, ia selalu berusaha memahaminya dengan sabar,  dan berharap suatu saat kekasihnya akan berubah menjadi wanita yang diidamkannya.
**
Hari itu proses persalinan  pasien Adrian berlangsung sangat rumit. Berkali-kali ia memanjatkan doa pada Yang Mahakuasa, agar membantunya melalui semua ini. Kondisi pasien yang memiliki penyakit komplikasi, membuatnya harus ekstra hati-hati dalam mengambil tindakan. Akhirnya setelah melewati proses panjang yang cukup melelahkan, lahirlah bayi mungil si pasien dengan sehat. Sang ibu  juga dalam kondisi baik-baik saja meskipun terlihat lemah. 
Adrian tak henti-hentinya bersyukur, karena Allah telah membantunya. Tak sadar ia meneteskan air mata, menyaksikan dua orang manusia yang sedang berbahagia itu. Suara lembut salah satu perawat dalam ruangan membuatnya segera tersadar,  dan cepat-cepat menyeka air matanya. Hati Adrian yang sangat lembut memang membuatnya mudah menangis, tatkala melihat kejadian mengharukan. Tak lama kemudian, ia pun segera beranjak dari ruangan, beristirahat sebentar, sebelum akhirnya meninggalkan rumah sakit.
**
Malam itu Adrian berkunjung ke rumah Shinta. Ibunda Shinta menyambut kedatangannya dengan ramah. Tak lama kemudian Shinta keluar dari dalam,  sesaat setelah sang ibu memanggil, dan langsung duduk di depan Adrian. Adrian sedikit resah melihat wajah kekasihnya. Beberapa saatnya mereka berdiam diri. Sejurus kemudian terdengar suara Adrian “Sayang, maafkan Mas. Mas tidak bermaksud mengingkari janji. Dokter Ilham hari ini ditugaskan menghadiri seminar. Jadi Mas ditunjuk untuk menggantikannya. Pasien tadi kondisinya sangat parah. Mas harap engkau  mengerti.”
“Mas Adrian selalu seperti itu. Tidak peduli. Lha, kalau misalnya tadi aku naik taksi, terus terjadi apa-apa, bagaimana? Apa Mas tidak mengkhawatirkan aku? Sekarang kan orang jahat ada dimana-mana, Mas. Bisa terjadi kapan saja. Sepertinya Mas tidak sayang lagi padaku.” Shinta seolah tak bernafas mengeluarkan segala keluh kesahnya.
“Sayang, Mas selalu peduli padamu,  menyayangimu, juga  selalu berusaha menjagamu. Tetapi coba lihat sekarang. Dan jawab pertanyaan Mas. Apakah engkau sudah mendapatkan buku yang kau maksud? Apakah tadi engkau celaka? Apakah tadi ada orang yang berbuat jahat kepadamu? Tidak, bukan? Engkau masih selamat. Bahkan kau ada di hadapan Mas sekarang. Kita berdua masih bisa bertemu. Jadi mengapa engkau masih saja memikirkan masalah yang sudah terlewat?”
Adrian menambahkan “Sayang, cobalah untuk tenang menjalani kehidupanmu. Jangan terlalu takut atau khawatir. Serahkan penjagaan dirimu pada Allah. Jika selalu berdoa memohon perlindunganNya, niscaya engkau akan selamat. Mas tak pernah lupa selalu mendoakanmu. Mas sayang padamu. Masihkah engkau meragukannya?”
Shinta duduk terdiam. Tetapi wajahnya masih menyiratkan amarah. “Tapi, kan tidak harus selalu  Mas yang menggantikan dokter Ilham. Kenapa sih Mas tidak mau menolak tugas satu kali saja?” Lagi-lagi Adrian menarik nafas panjang “Sayang, Mas harus berbuat yang terbaik. Ini menyangkut nyawa dua orang manusia. Tolonglah mengerti dengan pekerjaan Mas.”
Dengan lembut Adrian menatap mata Shinta. “Sudahlah, jangan membicarakan masalah ini lagi. Kita lupakan saja. Mas datang kesini ingin bertemu dan menghabiskan waktu denganmu. Tolong, berikan Mas sebuah senyuman manis. Lalu kita akan berjalan-jalan sebentar ke taman. Masih mau kan menemani Mas?”
Mendengar suara lembut Adrian, Shinta tak dapat lagi mengelak. Ia tersenyum. Adrian membalas senyumannya, dan bahagia melihat kekasihnya sudah tak diliputi amarah. Dan sesaat kemudian, terlihat mereka berdua berjalan-jalan di taman di bawah naungan sinar rembulan. 
(Bersambung)

Saya ibu rumah tangga yang ingin bercerita, berkisah dan belajar lewat sebuah tulisan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *