Ikhlaskan Aku Pergi (Bagian Kedua)

Hari Minggu yang cerah. Adrian bermaksud mengajak Shinta pergi ke satu tempat, yang baginya sangat istimewa. Pagi-pagi sekali ia sudah menuju rumah Shinta. Setelah berpamitan kepada orangtua Shinta, berangkatlah mereka berdua.
Selama di perjalanan, Shinta sangat penasaran kemana Adrian akan membawanya pergi. “Mas, kita akan pergi kemana?” Adrian menoleh dan menatap kekasihnya. “Nanti kau akan tahu, Sayang.” Shinta semakin penasaran. Adrian kembali menjawab “Pokoknya aku akan membawamu ke tempat yang istimewa.” Shinta pun tak mendesak lagi, karena terbukti Adrian tak memberikan penjelasan panjang lebar.
Satu jam kemudian mereka tiba di tujuan. Sebuah rumah mungil dengan halaman indah berhiaskan bunga. Terasa sekali jika si pemilik rumah,  adalah orang yang suka berkebun. Adrian mendekati pintu depan rumah dan mengucapkan salam. “Assalamualaikum.” Dua tiga menit berlalu. Dan dari dalam terdengar suara lirih menjawab “Waalaikumsalam.”
Pintu depan terbuka, dan tampaklah seorang wanita paruh baya. Berkulit coklat, mengenakan hijab,  dan berusia kurang lebih sama dengan ibu Adrian. Wajahnya terlihat sedikit pucat. Setelah melihat Adrian, terlihat wanita tersebut sangat bahagia. Senyum terpancar dari wajah tuanya.
“Adrian, anakku. Apa kabar, Nak?  Ibu senang sekali engkau berkunjung kemari. Ibu sangat merindukanmu. Sudah lama Ibu tak melihatmu. Kemarilah, Nak. Ibu ingin memelukmu.” Adrian pun mendekat dan memeluk wanita itu dengan hangat. Tak terasa keduanya larut dalam pelukan haru.
Adrian akhirnya tersadar jika ia tak sendiri. Segera ia lepaskan pelukannya, dan memberi isyarat pada Shinta untuk mendekat. Ia berkata “Ibu, kenalkan. Ini Shinta. Calon istriku, Ibu.” Shinta mendekat dan bersalaman, dengan wanita yang disebut Adrian sebagai ibu itu, sambil menyebut namanya “Saya Shinta, Bu.”
Sang Ibu tersenyum dan berkata “Alhamdulillah, akhirnya kau akan menikah, Nak. Cantik sekali calon isterimu ini. Oh ya, ayo masuk.” Wanita itu mempersilahkan mereka berdua masuk.
Adrian bertanya “Ibu apa kabar? Kelihatannya kurang sehat. Apa Ibu sakit?” Ibu itu menjawab “Biasa, Nak. Penyakit orangtua. Jangan kau pikirkan.” Adrian terlihat khawatir “Ibu kalau sakit ayo aku antar ke rumah sakit.” Si ibu kembali menjawab “Tidak perlu, Nak. Ibu baik-baik saja.”
Tak lama kemudian seorang remaja putri keluar menemui Adrian. Berusia sekitar enam belas tahun, tinggi semampai, terlihat manis dengan  rambut kepangnya. Membawa nampan berisi pisang goreng, lengkap dengan  teh manisnya. Betapa senangnya anak itu bertemu Adrian. Adrian memeluknya. “Hai, dik Putri. Apa kabar? Bagaimana sekolahmu?  Kamu sudah bertambah besar sekarang.” Adrian mengacak-acak rambutnya dengan gemas. Anak itu berkata “Iya Kak, alhamdulilah. Sekolah berjalan lancar.” Adrian pun senang mendengarnya.
Sejurus kemudian, si Putri berkata “Ibu tuh Mas, yang sering sakit belakangan ini. Tapi ibu ini susah sekali kalau aku ajak berobat.” Adrian menoleh kepada si ibu. Seakan ingin menghilangkan kekhawatiran Adrian beliau berkata “Jangan kau dengarkan si Putri itu. Ibu sehat, kok. Kalau ada apa-apa, Ibu pasti memberitahumu, Nak.” Adrian menggenggam erat tangan wanita tua itu. Dalam hati ia berharap semoga kondisinya baik-baik saja, seperti yang beliau katakan.
Di sudut lainnya terlihat Shinta memperhatikan kejadian yang ada di depan matanya. Ia masih penasaran siapakah ibu ini sebenarnya. Dan ada hubungan apa keluarga ini dengan Adrian. Namun lamunannya terhenti, saat sang ibu dan putrinya mengajak berbincang dalam suasana yang akrab.
**
Adrian membelokkan mobilnya ke sebuah masjid, karena telah tiba waktunya shalat Ashar. Keduanya langsung menunaikannya. Setelah itu, mereka berdua sama-sama duduk berdiam diri di teras masjid. 
Adrian lantas membuka pembicaraan. “Sayang, engkau pasti bertanya-tanya siapa ibu dan putrinya tadi, apa hubungannya dengan Mas, dan mengapa Mas ajak engkau kesana.” Shinta menatap mata Adrian. Adrian pun menghela nafas panjang.
Adrian melanjutkan “Mereka adalah orang-orang yang telah berjasa bagi keluarga Mas.  Kalau tidak atas perantara mereka, Mas tidak lagi memiliki ayah sampai saat ini.” Adrian lantas melanjutkan kisahnya. “Ayah Putri telah mengorbankan hidupnya, demi menolong ayah Mas, saat mengalami kejadian perampokan. Beliau seorang security bank, tempat dimana ayah Mas,  baru saja mengambil gaji bulanannya. Beliau berusaha menggagalkan upaya perampokan itu, namun akhirnya nyawanya sendiri melayang, demi melindungi ayah Mas.”
“Pada awalnya sulit bagi keluarga Putri untuk menerima kejadian ini. Tetapi alhamdulilah mereka orang-orang yang sabar. Mereka sadar semua sudah menjadi kehendakNya. Dan juga atas nasehat ayah, Mas telah berjanji pada keluarga mereka untuk sering berkunjung, membantu ekonomi mereka,  dan menyekolahkan Putri sampai selesai.  Sebab tanpa mereka, Mas tidak akan menjadi seperti ini. Itulah sebabnya mereka sudah seperti keluarga Mas sendiri. Mereka pun sangat menyayangi Mas. Terlebih ibu Putri, yang di masa lalu pernah kehilangan anak laki-lakinya.”
“Mas sengaja mengajakmu mengunjungi mereka. Karena kita akan menikah. Sebagai orang yang mantap untuk menikahimu, Mas ingin berkata dengan jujur, bahwa ada satu keluarga yang sangat Mas sayangi,setelah keluarga sendiri. Dan Mas harap engkau juga bisa menerimanya.”
Shinta terdiam lama. Seketika hatinya bergejolak. Antara marah, mengapa baru kali ini Adrian mengatakannya, setelah sekian lama menjalin hubungan. Hatinya juga dicengkeram rasa takut, manakala ada orang lain yang akan menjadi saingannya, dalam mendapatkan perhatian Adrian. Entahlah. 
Adrian melihat kegelisahan di mata kekasihnya. Ia berkata lagi “Sayang, kuharap engkau mau menerima apa yang baru saja terjadi. Maafkan Mas. Mas tidak bermaksud menyakiti hatimu, dengan tidak menceritakan hal ini sejak awal. Mas hanya merasa ini waktu yang tepat. Pada saat kita akan semakin mendekati rencana pernikahan.”
“Mas, aku takut engkau tak akan memperhatikan aku lagi. Perhatianmu  akan terbagi antara aku dan mereka. Mereka akan bersaing denganku, untuk mendapatkan kasih sayangmu, Mas.” Shinta menimpali perkataan Adrian.
Adrian menatap mata Shinta dengan lembut. “Ayolah jangan berpikiran seperti itu. Kamu akan selalu mendapatkan perhatian dan kasih sayang Mas. Mas hanya meminta pengertianmu saja, jika faktanya Mas juga  memiliki orang-orang,  yang pernah berjasa dalam hidup.”
Mereka berdua kembali terdiam. Adrian berdiri dan berkata “Ayo Sayang, kita pulang. Orangtuamu pasti sudah cemas menunggumu. Kita akan membicarakan masalah ini lagi nanti. Okey.” 
Tak lama mereka berdua pun kembali melanjutkan perjalanan kembali ke rumah. Dan langit semakin bertambah gelap seiring datangnya malam.
(Bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *