Uncategorized

Ikhlaskan Aku Pergi (Tamat)

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Shinta memasuki masa ujian sidang skripsinya. Perempuan berkulit putih dan  manis ini tengah berjuang keras,  untuk dapat lulus dari kuliahnya di jurusan ekonomi akuntansi.
Sebelum menjalani ujian skripsi tersebut, di tengah kesibukannya sebagai dokter, Adrian masih menyempatkan diri menelepon Shinta, untuk memberikan semangat pada kekasihnya. Tak lupa ia berdoa agar Shinta diberikan kelancaran dan kemudahan.
Dan  karena doa semua orang yang menyayanginya, Shinta dinyatakan lulus dengan nilai memuaskan. Adrian sangat bahagia dan bangga dengan prestasi yang diraih kekasihnya. Kebahagiaannya semakin memuncak manakala membayangkan, sebentar lagi ia akan mempersunting Shinta dan membina rumah tangga bahagia.
**
Beberapa hari kemudian Adrian mendapat kabar kurang menyenangkan, dari Putri si adik angkatnya. Putri berkata bahwa ibunya sakit keras. Penyakit komplikasi yang diderita sang ibu sudah cukup parah. Dan yang membuat Putri sedih, sang ibu tidak mau dibawa berobat ke dokter. Sepertinya beliau sudah pasrah dengan penyakitnya.
Lewat telepon genggamnya, Adrian mendesak ibu angkatnya tersebut untuk segera berobat. “Ibu, ayolah berobat ke dokter. Adik Putri akan mengantar ibu. Tolong, Bu. Kasihanilah adik Putri. Ia masih membutuhkan ibu. Adrian juga.  Ayolah Bu pikirkanlah kami.” Adrian mencoba memberi pengertian. Tetapi entah mengapa ibu angkatnya yang memang sedikit keras kepala ini, tidak mau menuruti permintaan Adrian. Adrian menjadi semakin sedih memikirkannya.
**
Hari itu sangat membahagiakan bagi Shinta. Ia akan diwisuda menjadi seorang sarjana. Pagi-pagi ia sudah bersiap  dan berdandan secantik mungkin. Kebahagiaannya semakin bertambah, manakala ia akan mengajak Adrian calon suaminya,  untuk  mendampingi dan menyaksikan prosesi wisudanya.
Tetapi Adrian tak kunjung datang menjemputnya. Shinta pun mulai was-was. Ia mencoba menelepon. Telepon genggamnya tidak aktif.  “Ada apa dengan Mas Adrian? Dimana dia? Kok belum datang juga? Apakah ia tak bisa mendampingiku? Mengapa tak memberitahuku?” Berbagai pertanyaan semakin membuatnya bingung.
Ia coba sekali lagi menghubungi Adrian. Lagi-lagi gagal. Hati Shinta mulai bergejolak. Suara-suara setan mulai terdengar di telinganya. Berbisik bahwa Adrian telah mengingkari janji. Adrian sudah tak sayang dan  peduli padanya lagi. Entah bisikan apa lagi yang didengarnya, hingga ia geram, berprasangka buruk, dan tak mau lagi memaafkan Adrian.
**
Di waktu yang sama, di suatu tempat yang lain, Adrian duduk berdiam diri. Di depan jasad ibu angkatnya, ia menengadahkan tangan. Memohon pada Yang Mahakuasa,  agar sang ibu mendapatkan tempat terbaik di sisiNya. Berkali-kali ia melepas kacamata dan mengusap air matanya. Sembari memeluk Putri yang sekarang hidup seorang diri. Dalam hati ia berjanji akan mengajak Putri tinggal di rumahnya bersama orangtuanya.
Kepanikan yang ia rasakan,  saat Putri memberitahukan kabar bahwa kondisi ibunya sudah  semakin kritis, membuatnya tergesa menuju rumah sang ibu angkat. Sehingga terlupa membawa telepon genggam, dan  tak bisa  menghubungi Shinta sang kekasih yang tengah berbahagia.
**
“Sayang, maafkan Mas. Mas akan jelaskan semua padamu.” Adrian mencoba memberi penjelasan pada Shinta tentang kejadian hari itu. Di sampingnya Putri terlihat ketakutan,  dengan pertengkaran dua orang manusia itu.  
“Aku tidak bisa terima perlakuan Mas. Ini sudah kesekian kalinya Mas tidak mempedulikanku.  Yang sangat menyakitkan bagiku, kemarin adalah hari yang aku tunggu-tunggu. Aku sangat bahagia membayangkan mengenakan pakaian wisuda, dan disaksikan oleh calon suamiku. Tapi ternyata itu hanya khayalanku saja. Terlalu tinggi khayalan itu sampai akhirnya aku terjatuh dan sakit.”
“Sepertinya Mas sudah tak ingin bersamaku lagi. Tak peduli padaku lagi. Atau jangan-jangan Mas juga akan melarikan diri di hari pernikahan kita nanti.” Perkataan Shinta semakin memojokkan Adrian. Terlihat akal sehat Shinta sudah mulai tertutupi oleh amarah, karena merasa tidak diperhatikan lagi oleh Adrian.
“Astaghfirullah, Sayang. Jangan bicara seperti itu. Mas sangat mencintaimu. Menyayangimu sejak kita masih kecil. Berilah Mas kesempatan untuk berbicara. Kemarin saat engkau hendak diwisuda, Mas dalam perjalanan menuju rumah adik Putri ini. Dan…..”
“Oh, jadi waktu itu Mas ada di perjalanan menuju rumah ibunya Putri ini?” Shinta langsung memotong pembicaraan Adrian. “Mengapa sih Mas selalu mementingkan keluarga si Putri ini? Iya, aku tahu, kalau dulu ayah Putri ini sangat berjasa dalam kehidupan Mas. Tapi tak bisakah mereka sedikit saja untuk tidak merepotkan,  atau menggantungkan diri pada Mas? Apalagi kemarin adalah hari yang sangat penting bagiku! Aku bingung harus mencarimu kemana! Mengapa? Karena Mas tidak memberi kabar!” Suara Shinta semakin memekakkan telinga.
“Sayang, mengapa kau seperti ini? Tak bisakah kau mendengarkan Mas sekali lagi? Mas  belum menjelaskan semuanya.” Adrian lagi-lagi membujuk Shinta. Shinta berkata dengan ketus “Sudah Mas, aku tak mau berbicara apapun lagi denganmu. Sekarang sebelum kita benar-benar akan menikah, kumohon berikanlah aku jawaban. Mas pilih aku atau mereka!” Shinta berteriak dan jarinya menunjuk pada Putri yang terlihat ketakutan.
Seketika wajah Adrian yang biasanya tenang berubah drastis. Dari balik kacamatanya terlihat bulir-bulir air mata menetes. Tak pernah ia duga sebelumnya jika Shinta meluapkan amarahnya seperti ini, hingga memaksanya harus memilih diantara dua pilihan yang benar-benar sulit. Ia yang memiliki sifat penyayang, tak mungkin memilih salah satu dari mereka.  
Sesaat Adrian menghela nafas, membuka kacamatanya, dan memeluk putri yang ada di sampingnya. “Sayang, ketahuilah. Hari ini kami berdua telah kehilangan ibu yang sangat kami sayangi. Tadi pagi kondisi ibu kritis pada saat Putri menelepon. Mas tergesa-gesa ingin berusaha membantu ibu. Setidaknya membawa ke dokter. Karena tergesa-gesa handphone Mas ketinggalan, sehingga tidak bisa menghubungimu.”
“Sesampai di rumah ibu, Mas mendapatkan kenyataan bahwa ibu baru saja meninggal. Mas bingung apa yang harus dilakukan. Karena ibu juga harus segera dimakamkan. Akhirnya Mas berupaya menyelesaikan semua urusan pemakaman terlebih dahulu, dengan harapan semoga engkau mengerti, dan memaafkan Mas yang tak menghubungimu.”
Shinta tercekat mendengar penjelasan Adrian. Ia terkejut mendengar, bahwa baru saja ia memaki Putri yang baru saja kehilangan ibunya. Dalam hati ia menyesalkan perbuatannya. Mengapa ia tak mendengarkan penjelasan Adrian walau sebentar saja. Ingin rasanya memandang Adrian dan mengatakan penyesalannya. Tapi apa daya ia malu melakukannya. Tak terasa air matanya juga mulai menetes.
Sayup-sayup terdengar kembali suara Adrian.”Mas menyesal dengan semua yang terjadi. Terlebih dengan keharusan darimu, untuk memilih salah satu dari kalian. Sungguh Mas sangat menyayangi kalian semua. Engkau calon isteriku. Mas  ingin menghabiskan seluruh sisa hidup denganmu. Tetapi Putri juga keluargaku. Apalagi setelah ia menjadi yatim piatu,  Mas berjanji untuk mengajaknya  tinggal bersama orangtua, dan memenuhi semua kebutuhannya.”
“Tetapi rupanya engkau tak bisa menerima hal ini. Sampai-sampai engkau memaksaku memilih. Mungkin inilah petunjuk dari yang Mahakuasa, jika engkau bukanlah orang yang tepat untuk mendampingi Mas. Mungkin sebaiknya Mas pergi dari kehidupanmu. Mas ingin engkau bahagia,  dan tidak terlalu terbebani dengan keadaanku sekarang, yang memiliki tanggung jawab merawat Putri. Jadi kumohon ikhlaskan aku pergi. Aku tak ingin mengganggumu lagi. Carilah pria lain yang sanggup membahagiakanmu. Pasti itulah yang terbaik untukmu.”
Adrian mengenakan kembali kacamatanya, berdiri, meraih tangan Putri,  dan beranjak dari tempatnya. Shinta menahannya sambil menangis tersedu-sedu. “Mas, kumohon maafkan aku. Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku. Entah mengapa hatiku ini selalu diselimuti amarah kepadamu. Maafkan kekhilafanku! Aku tak ingin Mas pergi. Mas, aku mohon!” Shinta mencengkeram erat lengan Adrian. Air mata semakin deras mengalir. Ia takut kehilangan Adrian, pria terbaik yang pernah ada dalam hidupnya.
Tetapi Adrian sudah tak lagi bisa memaafkan Shinta. Hatinya sudah terlalu sakit dan juga diliputi amarah. Kesabarannya sudah mencapai puncaknya. Ia tepiskan tangan Shinta. Ia pandangi Shinta untuk terakhir kalinya. Ia berikan senyuman termanis  kepada Shinta. Lalu Adrian pun beranjak pergi.
Malam itu ingin sekali rasanya Shinta memutar waktu untuk kembali. Namun sejak itu Adrian tak pernah kembali lagi. 

Saya ibu rumah tangga yang ingin bercerita, berkisah dan belajar lewat sebuah tulisan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *