Si Anak Sekolah

Sore itu pulang kantor seperti biasa saya melewati jalan yang ramai. Beberapa saat kemudian sampailah saya di perempatan jalan, dengan lampu traffic light berwarna merah. Berhenti sejenak sambil melihat pemandangan sekitar.
Di depan saya ada anak sekolah,  yang sepertinya baru saja selesai menuntut ilmu, dan dijemput oleh orangtuanya menggunakan motor. Anak itu duduk di belakang sambil berpegangan erat pada tubuh orangtuanya. Berumur sekitar tujuh tahun, berbadan mungil, dan wajahnya terlihat sangat lelah. Sesekali ia memejamkan mata. Sepertinya ia mengantuk,  dan tak kuat menahan matanya agar tetap terjaga.
Heran juga saya melihat anak sekolah saat ini. Bayangkan saja. Waktu sudah hampir mendekati malam, tetapi mereka baru saja pulang dari sekolah. Sering sekali sepulang kantor saya jumpai anak sekolah yang masih berkeliaran di jalan, masih menggunakan seragamnya, padahal langit sudah terlihat gelap.
Saya termasuk generasi zaman dulu. Generasi yang menurut saya sangat teratur. Dulu jam sekolah berlangsung dari pagi jam setengah tujuh,  dan berakhir jam satu siang. Pulang sekolah pun langsung menuju rumah, jika tidak ada kegiatan ekstra kurikuler.
Ketika sampai di rumah, jadwal berikutnya adalah ibadah, makan siang dan istirahat. Sore mulai belajar. Andaikata ingin menonton televisi, masih bisa dilakukan asalkan hanya seputar acara anak-anak. Waktunya pun tidak terlalu lama. Setelah itu melanjutkan belajar lagi. Maksimal hanya sampai jam sembilan malam. Setelah itu menyiapkan bahan sekolah untuk esok hari dan tidur malam.
Sedangkan anak-anak zaman sekarang memiliki jam sekolah yang padat. Jam belajar baru berakhir jam empat sore. Jika ada kegiatan ekstra kurikuler, atau les yang diperintahkan oleh orangtua, jam kegiatannya sehari-hari bisa jadi bertambah malam.
Belum lagi dengan  kondisi sekarang, yang bertambah saja  kesibukan mereka,  dengan kecenderungan penggunaan gadget. Entah untuk berkomunikasi, bermain juga mengerjakan tugas.  Mereka cepat sekali dalam mempelajari setiap fitur dalam gadget. Penggunaannya  yang berlangsung hampir setiap hari, menyebabkan mereka semakin bergantung pada benda canggih ini.
Akibatnya seringkali mereka tidak memikirkan kesehatan diri sendiri. Padahal tubuh mereka memiliki daya tahan yang berbeda-beda untuk menjalani itu semua. Dan apabila dipaksakan, bukan tidak mungkin akan semakin menjadi beban bagi anak-anak tersebut.
Entahlah. Saya pikir apapun yang telah terjadi dan ditetapkan, pasti memiliki konsekuensi, resiko dan juga manfaat. Di sinilah peran orangtua diperlukan untuk jeli melihat, apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh anak.
Jangan bebani anak dengan berbagai kegiatan yang tidak sanggup mereka jalani. Biarkan mereka melakukan kegiatan yang benar-benar disukai. Jangan hanya demi ego orangtua,  yang ingin menunjukkan prestasi anaknya di depan orang lain, malah  menjadi bumerang bagi sang anak.
Orangtua hanya bisa memberikan fasilitas dan dukungan, tentang apa yang menjadi keinginan anak dan kebutuhannya, serta mengawasi mereka dalam setiap kegiatannya. Justru  ketika anak melakukan kesukaannya, dan melihat bahwa orangtua memberikan dukungan sepenuhnya, maka tanpa ragu ia akan berjuang keras memberikan kebanggaan pada kedua orangtuanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *