Kesatria Hati (Episode Pertama)

“Selamat ya, Rima. Semoga putri kecilmu menjadi anak yang sholehah,  dan menjadi kebanggaan orangtuanya. Aamiin. Putrimu sangat cantik.” Ningsih memberikan ucapan selamat kepada Rima sahabatnya. Walaupun wajahnya menampakkan raut muka ikut berbahagia, namun ia tak dapat membohongi diri sendiri, jika ia sedih dengan semua ini. 
**
Ningsih merebahkan diri di kursi panjang. Masih berpakaian kerja lengkap,  dan rasanya malas untuk bangkit dari istirahatnya. Menarik nafas perlahan sambil memejamkan mata. Hari itu ia merasakan lelah yang amat sangat. Pekerjaannya sebagai manajer sebuah bank, membuatnya ekstra keras dalam memberikan pelayanan terbaik,  bagi para pelanggannya.
Tiba-tiba air  mata menetes perlahan di pipinya yang putih. Entah mengapa hatinya saat ini mudah sekali mengharu biru. Tadi pagi ia mendengar sebuah kabar berita. Sebenarnya berita itu sangat menggembirakan. Tetapi baginya itu kabar yang menyedihkan. Teman baiknya telah melahirkan seorang putri kecil yang sangat lucu. Wajahnya cantik dan berkulit putih  bersih. Terlihat sekali sahabatnya sangat bahagia akan hadirnya putri pertamanya itu. 
**
Ningsih adalah seorang wanita yang terlahir dari keluarga sederhana. Kehidupannya yang keras, menjadikannya sebagai sosok yang  selalu berjuang, dan pantang menyerah demi mewujudkan keinginannya. Perjuangannya yang tanpa kenal lelah, akhirnya membuahkan hasil. Ia yang pada awalnya,  hanya seorang karyawan biasa di sebuah bank, dengan kepandaian  cemerlang dan kinerja  jujur, membawanya ke puncak karir,  sebagai manajer bank tersebut.
Beberapa tahun bekerja keras,  membuatnya lupa jika ia adalah seorang manusia,  yang harus menikah dan membina rumah tangga. Semua pria yang menyukainya, ia tanggapi dengan dingin. Pikirannya saat itu hanya bagaimana caranya mencari penghasilan,  demi memenuhi kebutuhan,  dan membahagiakan orangtuanya.
Namun pemahaman yang diberikan orangtuanya, akhirnya membuat mata hatinya terbuka. Bahwa salah satu fitrah manusia adalah memiliki pasangan hidup. Sebab itulah yang menjadikan kebahagiaan seseorang di dunia semakin lengkap. Dan pada akhirnya atas doa tulus dari orangtuanya, di waktu yang tak terduga ia bertemu dengan Rahmat. Pria penyabar dan penyayang, yang telah dikirim oleh Sang Mahakuasa,  untuk menjadi pendamping hidupnya. Dan kini usia pernikahan mereka telah berjalan sepuluh tahun lamanya. Hidup bahagia dan seolah tak ada masalah yang mampu menghantam biduk rumah tangga mereka.
**
Lamunan Ningsih seketika terhenti, tatkala tepukan halus mendarat di bahunya. Ia menoleh dan melihat Rahmat sang suami telah berdiri di sampingnya. “Assalamualaikum.” Rahmat memberi salam. Ningsih tersenyum dan mencium tangan suaminya. “Waalaikumsalam, Mas.”
Rahmat tersenyum dan mencium lembut kening Ningsih. “Sayang, aku lihat dari tadi engkau melamun. Ada apa gerangan? Ceritakanlah. Mungkin aku bisa membantumu.” Ningsih menghela nafas. Sambil tersenyum ia menjawab pertanyaan suaminya. “Aku baik-baik saja, Mas. Sepertinya hari ini aku lelah sekali.”
Rahmat masih belum puas dengan jawaban sang isteri. “Ayolah, Sayang. Aku sudah kenal betul dengan dirimu. Pasti ada sesuatu hal yang sangat kau pikirkan. Bisa kau ceritakan padaku?” Ningsih tak bisa menutupinya lagi. Sekian detik terdiam akhirnya ia berkata singkat “Tadi siang Rima sudah melahirkan.”
Raut wajah Rahmat berubah seketika. Terlihat bahagia mendengar kabar sahabat baik isterinya ini, sudah memiliki keturunan. “Alhamdulillah, senang mendengar berita ini. Semoga menjadi anak yang berbakti pada orangtua dan bermanfaat bagi agama.”  Tanpa disadarinya Ningsih sang isteri menangis dalam hati. 
**
Tahun ini pernikahan Ningsih dan Rahmat telah menapaki usia sepuluh tahun. Namun hingga saat ini, keduanya belum diberikan kesempatan oleh Allah SWT, untuk menimang seorang anak. Keduanya sudah maksimal berusaha berobat kesana kemari. Dari medis hingga alternatif. Keduanya dinyatakan memiliki kondisi sangat sehat untuk memiliki keturunan, namun belum juga membuahkan hasil.
Terkadang ada rasa putus asa di hati Ningsih. Harapan untuk bisa memiliki keturunan,  menjadi beban yang cukup berat baginya. Pendapat sebagian besar orang yang menyatakan,  jika  sulit memiliki keturunan, pasti terjadi masalah di pihak perempuan,  menjadikannya selalu terobsesi untuk  bisa hamil. 
Tetapi dengan sabarnya Rahmat memberikan semangat. Rahmat selalu mengajaknya berdoa memohon hadirnya seorang keturunan. Dan selalu memberikan pengertian pada Ningsih, bahwa keturunan adalah hak mutlak dari Sang Pencipta. Boleh memintanya,  tetapi jangan sampai memaksa Allah untuk memberikannya. Sebab jika doanya terkabul,  tetapi pada akhirnya tak bisa menjaga titipan amanah tersebut dengan baik, maka mereka berdua memiliki dua dosa. Dosa pertama meminta yang belum waktunya, dan dosa kedua ketika tak mampu mendidik anak itu dengan baik. 
Beban Ningsih juga bertambah berat seiring dengan seringnya  mertua bertanya,  kapan kira-kira mereka berdua akan dikaruniai keturunan. Maklumlah, anak Rahmat dan Ningsih,  akan menjadi cucu pertama bagi mereka. Sehingga kehadiran anak itu sangat diharapkan. Seringkali orangtua juga membandingkan Ningsih dengan tetangga atau saudara,  yang dalam waktu singkat sudah dikaruniai keturunan. Dan yang paling membuat Ningsih sedih, mertua mengklaimnya sebagai pihak penyebab sulitnya mendapat keturunan.
Padahal hasil pemeriksaan menunjukkan,  jika kondisi Ningsih sehat, dan tidak ada masalah untuk bisa hamil. Seringkali ia menyampaikan hal tersebut kepada Rahmat. Dengan harapan suaminya tersebut bisa memberikan pengertian pada orangtuanya,  agar tak terlalu memojokkan dirinya. Sebenarnya Rahmat juga sudah melakukan hal tersebut, tetapi  tetap saja orangtuanya menginginkan agar mereka berdua cepat-cepat memiliki keturunan. Pada akhirnya mereka berdua pun hanya bisa bersabar,  dan pasrah dengan semua kejadian ini. 
Suara lembut Rahmat akhirnya membuat Ningsih tersadar. “Sayang, sudahlah jangan kau pikirkan masalah itu. Ikutlah berbahagia atas kegembiraan Rima. Jangan patah semangat. Ayo, kita berdua terus berdoa. Aku yakin suatu saat engkau akan menimang seorang anak yang kita dambakan.” 
Rahmat menggandeng tangan Ningsih. “Kita shalat, yuk.” Malam pun semakin larut,  seiring dengan bergemanya doa mereka berdua,  yang terpanjat kepada Sang Pemilik Hidup. 

1 thought on “Kesatria Hati (Episode Pertama)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *