Uncategorized

Kesatria Hati (Episode Dua)

Hari Sabtu yang cerah. Rahmat sudah bersiap-siap berangkat ke kantor. Tetapi kali ini bukan untuk bekerja. Melainkan  mempersiapkan kegiatan bakti sosial ke panti asuhan,  dalam rangka hari jadi perusahaannya. Ia pun mengajak Ningsih untuk ikut serta.
“Sayang, ayo segera bersiap-siap. Ikutlah denganku.” Rahmat berkata kepada Ningsih.
“Kemana, Mas? Apa ke rumah ibu? Kalau ke rumah ibu kan biasanya nanti malam?” Ningsih merasa heran. Sudah menjadi kebiasaan mereka berdua,  untuk mengunjungi rumah orangtua Rahmat di hari Sabtu malam. 
“Bukan, Sayang. Di kantor ada kegiatan bakti sosial. Mengunjungi panti asuhan. Kau mau ikut?” tanya Rahmat.
“Oh, kupikir ke rumah ibu, Mas. Bagaimana ya? Aku ikut atau tidak?” Ningsih ragu-ragu menjawabnya.
“Ke rumah ibu kan nanti malam. Sudahlah, ikut saja. Daripada bengong sendirian di rumah. Nanti kebanyakan melamun malah diganggu setan, lho. Hiiiiiiii…” Rahmat berkata sambil menutup wajahnya seolah ketakutan.
“Aduh, Mas ini bikin aku takut saja.” Ningsih setengah gemas sambil memeluk lengan Rahmat. 
“Ayo, cepat siap-siap. Jangan sampai kita terlambat.” Rahmat menarik tangan Ningsih yang masih saja duduk di kursinya.
“Iya, iya baiklah. Aku ikut.” Ningsih pun segera menuju kamar mandi dan bersiap-siap.
**
Suasana kantor Rahmat mulai dibanjiri para karyawannya,  yang sedang melakukan persiapan bakti sosial. Tak lama mereka sudah berangkat menuju tujuan. Satu jam kemudian mereka sampai di sebuah panti asuhan. Dengan bentuk bangunan yang masih sederhana, serta perabot  apa adanya, menampakkan kesan jika tempat tersebut belum banyak diketahui orang.
Mereka berbondong-bondomg memasuki ruangan, dan disambut oleh pengurus panti asuhan. Menurut penuturan pengurus, panti asuhan ini berdiri atas inisiatif seorang warga,  yang saat itu menemukan seorang bayi yang dibuang orangtuanya. Anak malang itu kemudian dirawatnya. Dan pada akhirnya timbullah niat baiknya,  untuk mendirikan panti asuhan, yang hingga kini  hanya mengandalkan dana dari si pemilik. 
**
Ningsih berjalan perlahan mengitari ruangan demi ruangan. Dirinya tercekat kala melewati satu ruangan. Diam-diam ia memasukinya. Di dalamnya hanya terdapat satu lemari kecil  dan  satu box bayi. Perlahan ia mendekati box bayi tersebut. Ningsih terkejut. Ada seorang bayi perempuan mungil. Cantik sekali. Berkulit putih dan sedang tidur pulas. Seolah menyadari kehadiran Ningsih,  bayi itu menggerakkan badannya dan tertidur kembali.
“Bayi ini masih berumur dua minggu, Bu.” Ningsih terkejut sekali ketika mendengar suara tersebut. Ia melihat ibu  pengurus panti mendekatinya. 
“Dua minggu, Bu? Astaghfirullah, kasihan sekali.” Ningsih  terus memandangi bayi mungil itu.
“Bayi ini kami temukan di dekat makam. Sepertinya baru saja dilahirkan oleh ibunya, namun dibuang begitu saja. Ia terbungkus selimut dan dimasukkan dalam kardus. Tanpa makanan, tanpa pakaian. Kasihan. Kehadirannya tak diharapkan orangtuanya.” Si ibu pengurus menceritakan asal usul bayi mungil itu.
“Ibu sendiri sudah berapa puteranya?” Ibu pengurus bertanya pada Ningsih.
“Saya belum diberikan momongan, Bu. Sudah sepuluh tahun menunggunya.” Ningsih menjawab pertanyaan itu sambil menyembunyikan air matanya.
“Oh, maaf. Saya kira sudah mempunyai putera. Tidak apa-apa, Bu. Bersabar saja.  Nanti pasti ada waktu yang tepat untuk Allah memberikan keturunan.” Ibu pengurus berusaha menghibur Ningsih.
“Iya, Bu. Insya Allah. Aamiin.”
Sejurus kemudian ibu pengurus panti berkata “Oh ya. Jika ibu berniat, mengapa tidak  mengadopsi saja anak ini? Insya Allah akan menjadi pahala bagi ibu dan suami.” 
Ningsih memandang ibu itu cukup lama. Dalam hatinya mulai terdengar suara  menggelitik. “Iya, ya. Kenapa tidak aku adopsi saja anak ini. Kata orang, mengadopsi anak bisa jadi  salah satu cara, memancing kehadiran anak sendiri.”
“Ibu serius? Saya bisa mengadopsi anak ini?” Mata Ningsih berbinar. Secercah harapan mulai menyeruak dalam hatinya.
“Bisa, Bu. Tentunya dengan memenuhi semua persyaratan tentang adopsi anak. Kalau menjadi rejeki, ibu pasti bisa mengangkat anak ini untuk ibu rawat.” Ibu pengurus panti menjawab pertanyaan Ningsih.
Ningsih terharu. “Ibu, terimakasih sarannya. Tak pernah terpikir oleh saya untuk mengangkat seorang anak. Saya akan berbicara dengan suami,  Bu. Semoga beliau berkenan.” Ningsih memeluk ibu itu dengan hangat. Dan sekali lagi mereka berdua memandang bayi mungil  yang masih tertidur pulas.
**
Dalam perjalanan pulang, Ningsih sangat antusias menceritakan pengalamannya kepada Rahmat.
“Mas, hari ini aku bahagia sekali. Alhamdulillah, tidak sia-sia tadi aku mengikuti ajakanmu.” Raut wajah Ningsih terlihat bahagia.
“Nah, tidak salah kan kalau aku tadi mengajakmu? Sekarang kira-kira apa yang membuatmu bahagia?”
Rahmat mulai mendengarkan semua cerita Ningsih. 
Dan di akhir cerita Ningsih mengajukan pertanyaan 
“Mas, kita adopsi anak  itu ya. Pleeeeaaaseeee. Siapa tahu setelah mengadopsi anak itu, aku bisa hamil anak sendiri.” Ningsih merayu Rahmat dengan mata indahnya.
“Sayang, mengadopsi anak tidaklah semudah itu. Banyak syarat yang harus dipenuhi. Kita juga harus melakukan banyak penyesuaian. Lagipula,  niatmu mengadopsi anak juga harus diluruskan. Jangan mengangkat anak,  semata-mata demi memancing kehadiran anak sendiri. Itu salah. Meskipun banyak orang di luar sana berkata demikian. Niatkan sebagai ladang amal dan pahala. Begitu, Sayang.” Rahmat mengelus rambut Ningsih.
Ningsih pun merajuk “Iya, iya. Aku akan luruskan niatku. Tapi Mas setuju kan? Ayolah.”
“Kita pikirkan lagi nanti, okey. Kita bicarakan lagi masalah itu di waktu yang tepat. Bagaimana?” 
Ningsih diam saja. Tetapi akhirnya ia mengangguk. Mobil mereka pun semakin jauh meninggalkan panti asuhan,  tempat si anak yang telah mencuri perhatian Ningsih itu tinggal.

Saya ibu rumah tangga yang ingin bercerita, berkisah dan belajar lewat sebuah tulisan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *