Uncategorized

Kesatria Hati ( Episode Ketiga )

Setelah kunjungan ke panti asuhan itu, Rahmat dan Ningsih terlihat sangat lelah.  Akhirnya mereka memutuskan menunda kunjungan ke rumah orangtua Rahmat,  seperti yang sudah menjadi kebiasaan selama ini.
“Mas, apakah kira-kira ibu tidak marah,  karena kita tidak berkunjung ke rumah malam ini?” Ningsih bertanya kepada suaminya,  sambil membereskan kamar tidur mereka.
“Aku yakin ibu tidak marah. Kita akan jelaskan alasannya nanti.” Rahmat menjawab pertanyaan Ningsih.
“Semoga ya, Mas. Karena tadi kita belum sempat memberitahu ibu.”
Ibu Rahmat saat ini hanya hidup seorang diri. Ayah Rahmat sudah meninggal dunia beberapa tahun silam. Di rumahnya,  ibu Rahmat hanya tinggal dengan seorang asisten rumah tangga, yang sudah sekian  puluh tahun bekerja disana.
Rahmat adalah anak tunggal. Pada saat sang ayah meninggal, Rahmat sudah seringkali mengajak ibunya untuk tinggal bersama. Tapi sang ibu menolaknya. Maklumlah. Orangtua seperti itu terkadang merasa nyaman,  jika tinggal di rumah sendiri bersama kenangan mendiang suaminya.
“Sudahlah jangan kau pikirkan. Ayo, kita tidur. Aku lelah sekali hari ini.” Suara Rahmat memutus sejenak lamunan Ningsih. Malam pun semakin larut, dan udaranya yang sejuk dalam waktu singkat melelapkan tidur mereka.
**
Keesokan harinya mereka berkunjung ke rumah ibu Rahmat. Hari Minggu yang cerah. Biasanya di dekat rumah ibu digelar pasar murah. Menjual berbagai macam barang yang murah meriah. Ningsih sangat senang mengunjungi pasar itu. Dan ada kalanya Rahmat menggelengkan kepala,  setiap kali melihat Ningsih memborong banyak barang.
Setengah jam kemudian mereka berdua sampai di rumah ibu. Perempuan yang sudah lanjut usia itu ada di depan rumah. Berbincang dengan seorang wanita. Terlihat ibu menggendong seorang bayi.
“Mas, siapa itu yang berbincang dengan ibu?”Ningsih bertanya.
“Aku tidak tahu, Sayang,. Sepertinya anak tetangga di ujung gang itu,  yang setahun lalu menikah.” Rahmat mencoba mengira-ngira.
“Ayo turun. Kita sudah sampai.”
Tak lama kemudian mereka turun dari mobil dan bergegas menghampiri ibu.
“Assalamualaikum. Bagaimana keadaan ibu?” Rahmat memberi salam, sembari mencium tangan ibunya. Ningsih pun melakukan hal yang sama.
“Alhamdulillah. Ibu sehat, Nak. Mengapa baru sekarang mengunjungi ibu? Biasanya kan Sabtu malam.” Ibu bertanya sambil terus mencium bayi dalam gendongannya.
“Iya, Bu kami minta maaf. Kemarin ada acara di kantor Rahmat. Ada bakti sosial dalam rangka ulang tahun perusahaan.” Rahmat menjawab pertanyaan ibunya.
“Oh, begitu. Mestinya kan memberitahu ibu dulu. Biar ibu tidak berharap.”
“Iya, Bu. Maafkan kami berdua.”
“Oh ya, ini Tia anak Pak Tejo. Baru datang dari luar kota. Beberapa hari ini Tia pulang ke rumah orangtuanya, karena baru saja melahirkan. Lihat anaknya. Lucu sekali ya.” Ibu Rahmat berkata sambil terus memandangi bayi itu.
Rahmat, Ningsih dan Tia pun saling bersalaman.
“Mas Rahmat sekarang tinggal dimana? Putranya sudah berapa?” Tia bertanya pada Rahmat.
Tetapi bukan Rahmat yang menjawab pertanyaan itu, melainkan ibunya.
“Rahmat belum punya anak, Tia. Sudah sepuluh tahun. Entahlah ada masalah apa dengan mereka ini, sampai sebegitu lamanya belum punya anak. Padahal ibu sudah lama berharap. Maklum Tia. Ibu kan punya anak cuma satu. Wajar to kalau ibu menginginkan Rahmat punya anak. Kalau tidak, siapa yang akan jadi generasi penerusnya?” panjang lebar sang ibu menjelaskan pada Tia.
Tia merasa tidak enak pada Rahmat dan Ningsih. “Oh begitu. Maaf. Tidak apa-apa, Mas. Mungkin belum waktunya saja, Bu. Suatu saat pasti diberikan keturunan.” Tia berusaha menghibur.
Ningsih diam saja mendengar percakapan itu. Sedangkan Rahmat masih mencoba menanggapi dengan baik perkataan Tia. “ Iya Mbak Insya Allah. Terimakasih doanya.”
Tak lama pun Tia mohon pamit karena si bayi mulai gelisah. Dan masuklah Rahmat, Ningsih dan sang ibu ke dalam rumah.
**
Begitu masuk dalam rumah,  Rahmat langsung menuju meja makan.
“Ibu masak apa? Aku boleh makan?” Rahmat memandang makanan di meja makan. Wow, ada makanan kesukaannya.
“Ya, makan saja. Apa Ningsih tidak memasak makanan untukmu?”
“Ya masak to, Bu. Cuma aku kan kangen dengan masakan ibu.” Rahmat memeluk ibunya.
Tak lama pun mereka bertiga berbincang sambil makan bersama.
**
“Ningsih, kamu tidak mencoba periksa ke dokter lagi? Siapa tahu ada masalah dengan kandunganmu. Karena ibu lihat,  tidak wajar saja,  jika kau belum hamil sampai sepuluh tahun seperti ini.”
Ningsih tercekat mendengar pertanyaan ibunya.
“Saya belum periksa lagi, Bu. Terakhir saya periksa, dokter menyatakan kami berdua sehat.”
“Ah, pasti dokter itu kurang teliti memeriksanya. Coba ke dokter lain. Sampai kapan ibu menunggu? Ibu sudah semakin tua. Bagaimana jika ibu sudah mau meninggal kau belum juga punya anak? Bisa-bisa ibu tidak dapat melihat cucu sendiri nanti.”
“Iya, Bu. Nanti Ningsih dan mas Rahmat coba periksa ke dokter lain ya. Minta doanya, Bu.” Ningsih mencoba untuk terus bersabar. Meskipun dalam hati mulai sakit.
“Lha, iya Le. Anaknya Pak Tejo baru menikah setahun lalu sudah punya anak. Kalian berdua lama menikah belum punya anak. Ibu malu jika ditanya orang lain. Mereka pasti mengira engkau yang tidak sehat, Nak. Ibunya berkata sambil memandang Rahmat.
Rahmat menanggapinya dengan sabar. “Sudahlah Bu,  jangan dengarkan kata orang. Ibu juga jangan terlalu memojokkan Ningsih. Kami berdua sehat Bu. Yakinlah kalau ini semua hanya masalah waktu.” Rahmat mencoba menenangkan ibunya.
Ibunya hanya diam saja. Ningsih mulai merasa kurang nyaman dengan sikap ibu mertua. Rupanya beliau sudah mulai membandingkan dirinya dengan orang lain. Ningsih pun terdiam. Rasanya ingin menangis, tapi ia harus mampu menahannya.
Pembicaraan pun beralih ke topik lain. Tetapi Ningsih sudah mulau tidak tertarik lagi. Ingin rasanya mengakhiri semua pembicaraan ini, dan pulang ke rumah untuk melampiaskan kekesalan.

Waktu  berlalu begitu cepat. Sore harinya Ningsih dan Rahmat pun kembali ke rumah. 

Saya ibu rumah tangga yang ingin bercerita, berkisah dan belajar lewat sebuah tulisan.

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *