Kesatria Hati ( Episode Empat )

Ningsih membuka pintu dengan kasar. Terburu-buru ia memasuki rumah. Tak dihiraukannya Rahmat  yang memanggil namanya.
“Sayang, berhenti!” Rahmat memanggilnya setengah berlari.
Dan akhirnya ia berhasil menangkap tangan Ningsih. Dipeluknya isterinya itu.
“Sayang, maafkan aku. Maafkan ibu. Kami berdua telah menyakiti hatimu.”
Ningsih terus menangis dalam pelukan Rahmat. Hatinya sangat sakit membayangkan ibu mertuanya,  membandingkan dirinya dengan orang lain.
“Mas, aku lelah. Lelah membayangkan jika aku selalu dibandingkan dengan orang lain. Kondisi kita berdua baik-baik saja. Tetapi mengapa ibu selalu beranggapan,  bahwa akulah satu-satunya penyebab engkau tidak bisa memiliki anak.” Ningsih terisak-isak sambil terus memukul dada Rahmat. 
“Iya, sayang. Tolong maafkan aku. Aku tadi juga sudah berusaha memberi pengertian pada ibu. Tetapi cobalah engkau mengerti. Ibu sudah lanjut usia. Aku anak beliau satu-satunya. Wajar jika ibu sangat mendambakan keturunan dari kita.” Rahmat berkata sambil terus memeluk Ningsih.
“Mas pikir aku juga tidak menginginkannya? Aku juga sangat mengharapkannya, Mas! Aku selalu menangis jika ada teman menggendong bayi. Aku selalu iri pada mereka,  yang menceritakan prestasi anaknya masing-masing. Sedangkan aku tidak punya apa-apa untuk diceritakan. Usiaku juga sudah bertambah. Bertambahnya usia juga sangat beresiko untuk hamil  dan melahirkan. Tidakkah kau pahami itu?” Ningsih setengah berteriak.
“Iya, Sayang. Aku mengerti. Sangat mengerti keadaanmu. Sekarang menangislah. Semoga dengan menangis semua bebanmu berkurang.” Ningsih menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Rahmat.
Setelah Ningsih berhasil meredam emosi, Rahmat melepaskan pelukannya.
“Duduklah, Sayang. Tunggu sebentar. Akan aku ambilkan air minum untukmu.” Rahmat membimbing Ningsih duduk,  dan berjalan menuju dapur. Sesaat kemudaian ia kembali sambil membawa segelas air putih. 
“Ini minumlah.” Rahmat memberikan gelas minumnya.
Ningsih mereguk air putih yang dibawa Rahmat. Lalu ia letakkan gelas itu,  dan setengah merebahkan dirinya di kursi. 
Rahmat mengambil duduk di sebelahnya. Memegang tangan Ningsih.
“Sayang, ketahuilah. Aku sangat mencintaimu. Apa adanya. Dengan segala kelebihan dan kekuranganmu. Apakah engkau bisa memberikanku seorang anak ataupun tidak.  Apa engkau tahu hal itu?” 
Ningsih diam saja dan tak menjawab satu pun pertanyaan Rahmat. 
“Seorang anak memang menjadi salah satu yang paling didambakan setiap pasangan. Tetapi tahukah engkau, jika itu bukan sesuatu yang mutlak? Sebenarnya ada atau tidak adanya anak, kita bisa kok untuk tetap bahagia. Jika kita selalu bersyukur dengan apa yang sudah kita terima.” Rahmat berkata sambil terus menggenggam tangan Ningsih.
“Entahlah Mas. Terkadang aku juga bingung. Mengapa ada orang yang begitu mudah diberikan anak. Lihat saja orang-orang yang berselingkuh atau belum terikat pernikahan. Rasanya mudah sekali mendapatkan anak. Kita yang sudah menikah, malah sulit mendapatkan anak. Sampai-sampai aku sering berpikiran kalau Allah tidak adil pada kita.” Ningsih akhirnya bersuara.
“Astaghfirullah, Sayang.  Jangan pernah berkata seperti itu. Jangan menganggap Allah tidak adil pada kita. Faktaya Allah sangat sayang pada kita. Ia pasti menganggap kita belum siap menerima anak. Makanya hingga saat ini kita belum diberikan kesempatan memiliki anak. Jangan iri pada para pendosa. Biarlah itu menjadi urusannya dengan Allah.”
“Bukankah kalau sudah sangat menginginkannya,  itu tandanya kita siap, Mas?” Ningsih bertanya kembali. 
“Hanya Allah yang Mahatahu kondisi kita, Sayang. Percayalah dengan kuasaNya.” Rahmat kembali memeluk Ningsih. 
“Nah, sekarang tenangkan kembali pikiranmu. Kita ambil wudhu dan shalat bersama. Bagaimana?” Rahmat memandang Ningsih. 
“Baiklah, Mas.” Ningsih tersenyum. 
“Oh iya, bagaimana kalau sekali lagi kita memeriksakan diri ke dokter? Semoga usaha kita membuahkan hasil.” Rahmat bertanya kepada Ningsih.
“Sungguh Mas? Baik, aku mau.” Mata Ningsih berkaca-kaca.
“Baiklah.  Sekarang ayo kita shalat bersama.” 
**
“Kondisi ibu Ningsih baik-baik saja, Pak. Tidak ada masalah sama sekali dengan rahimnya. Tidak ada hal yang  menghalangi kesempatan ibu untuk punya anak. Kondisi bapak dari hasil tes juga normal. Tidak ada yang bermasalah. Jadi masih ada kesempatan bagi ibu untuk hamil dan melahirkan.” Dokter kandungan menjelaskan hasil pemeriksaannya pada Rahmat dan Ningsih.
“Lalu mengapa ya Dok kami masih sulit memiliki anak?” Rahmat bertanya kembali.
“Banyak  faktor, Pak. Diantaranya terlalu stress, atau memikirkan masalah yang berat-berat. Coba untuk sedikit rileks. Anda berdua orang yang sibuk dengan pekerjaan, bukan? Saran saya cobalah untuk berlibur beberapa hari.” Dokter baik hati itu memberikan saran.
“Ada cara lain yang bisa dilakukan untuk punya anak. Seperti inseminasi atau bayi tabung. Tetapi tentu biayanya cukup mahal.  Atau mungkin anda berdua mau mempertimbangkannya?” Dokter memberikan sarannya.
“Hmmm, untuk hal itu akan kami pertimbangkan dahulu, Dok. Tetapi mungkin memang kita terlalu lelah bahkan stress.” Rahmat tersenyum.
“Baiklah, saya berikan vitamin untuk ibu ya.” 
Ningsih mengangguk. Beberapa saat kemudian mereka pun meninggalkan ruangan dokter itu. 
**
“Sayang, sudah jelas kan apa kata dokter tadi? Kondisi kita sehat-sehat saja. Hanya masalah waktu saja. Pernahkah terpikirkan olehmu juga jika  mungkin kita berdua terlalu stress?” Rahmat bertanya pada Ningsih setelah mereka tiba kembali di rumah.
“Tidak tahu. Ya, semoga saja dokter tadi berkata benar.” Ningsih menjawab sambil lalu. 
“Sudahlah, Sayang jangan kau pikirkan lagi. Begini. Semalam aku berpikir. Jika engkau sudah ingin sekali punya anak, aku mengizinkanmu untuk mengadopsi anak. Kau menginginkan anak lucu yang ada di panti asuhan itu, bukan?”
Ningsih terkejut mendengarnya. 
“Mas, benarkah yang kau katakan? Engkau setuju kita mengadopsi anak?” Ningsih seolah tak percaya dengan pendengarannya.
“Iya, aku setuju. Kita akan angkat anak itu. Kita akan perlakukan ia sperti anak sendiri. Bagaimana?”Rahmat memandang Ningsih.
Ningsih melihat tatapan tulus dan sungguh-sungguh dari Rahmat. Ia terharu sekali dengan keputusan suaminya. Tak lama kemudian ia berlari ke pelukan Rahmat,  dan menangis haru dalam dekapannya. Dalam hati ia bersyukur pada Allah,  karena memberikan pendamping yang lembut hati seperti Rahmat.

1 thought on “Kesatria Hati ( Episode Empat )”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *