Kesatria Hati ( Episode Lima )

Tak terasa waktu sudah memasuki hari Sabtu kembali. Ini tandanya Rahmat dan Ningsih, harus berkunjung ke rumah orangtua Rahmat. 
“Ayo, Sayang kita bersiap-siap. Jangan lupa kalau kita akan memberitahu ibu,  tentang rencana mengadopsi anak.” Rahmat berkata sambil merapikan pakaiannya. Ia tidak menyadari bahwa Ningsih terduduk melamun di atas tempat tidur.
“Sayang, kok melamun? Ayo, cepat. Nanti terjebak macet di jalan.”
Ningsih mendekati Rahmat dan merangkul lengannya.
“Mas, apakah ibu setuju dengan rencana kita? Aku takut beliau tidak setuju, Mas.” Ningsih mulai ragu.
“Aku juga belum tahu, Sayang. Sudah Bismillah saja. Semoga niat baik kita diridhoi Allah SWT. Aamiin.” Rahmat mencium kening Ningsih.
Dan beberapa saat kemudian mereka berdua telah sampai di tujuan.
**
“Apa yang baru saja kau katakan, Nak? Engkau akan mengadopsi anak? Tak salah apa yang baru saja ibu dengar?”  Sang ibu membelalakkan matanya.
“Iya, Bu. Kami ada rencana untuk mengadopsi anak. Waktu itu sempat kami temui saat kunjungan ke panti asuhan. Ningsih sangat menyukai anak itu, Bu. Anaknya cantik sekali. Ibu pasti menyukainya.” Rahmat memberikan penjelasan kepada ibunya.
“Ningsih boleh suka dengan anak itu, tetapi ibu tidak. Ibu hanya ingin anak yang terlahir dari rahim Ningsih sendiri. Anak kalian sendiri. Bukan anak orang lain. Coba jelaskan pada ibu, bagaimana anak itu sampai dirawat di panti asuhan, dari mana asalnya, siapa orangtuanya, apakah ia dari keturunan orang baik-baik?”
Ningsih pun akhirnya membuka suara. “Anak itu ditemukan oleh pengurus panti di dekat makam, Bu. Di dalam kardus dan terbungkus selimut. Tanpa makanan dan pakaian. Ia anak yang dibuang oleh orangtuanya. Kasihan, Bu. Ningsih ingin mengangkatnya,  dan memperlakukannya seperti anak sendiri.” Mata Ningsih mulai berkaca-kaca, namun ia tak ingin ibunya melihat semua itu.
“Apaaaa??? Jadi anak itu tidak jelas asal-usulnya? Kok, kalian masih berani mengambil anak itu? Bagaimana kalau ia keturunan dari seorang penjahat? Atau terlahir dari hubungan gelap. Tidak!! Ibu tak mau itu terjadi. Ibu tak ingin kalian meneruskan niat ini!” Ibu Rahmat sudah tak mampu mengendalikan diri.
Rahmat mendekati ibunya dan memeluknya. 
“Ibu, ayolah jangan seperti ini. Kami kan ingin berbuat baik, Bu. Insya Allah akan jadi ladang amal bagi kami. Kami yakin, pintu rezeki kami akan semakin terbuka lebar. Siapa tahu anak itu nantinya,  yang akan selalu mendoakan ibu setiap saat.” Rahmat mencoba merayu ibunya.
“Tidak! Tetapi Kalau kalian memaksa, jangan harap ibu bisa menerimanya!” 
Ningsih tak bisa lagi menahan air matanya. Rahmat melihat hal itu. Tak lama kemudian ia pun mengajak Ningsih pulang,  agar kesedihannya tak berlarut-larut.
“Bu, kami pulang dulu. Kami akan berkunjung lagi minggu depan.” Rahmat dan Ningsih mohon pamit sembari mencium tangan sang ibu yang hanya terdiam.
Dan setelah tiba di rumah kembali, Ningsih langsung menuju kamar. Ia ingin sendiri. Tak ingin berbicara dengan siapapun,  termasuk Rahmat suaminya. Ia merasa tak ada yang  mengerti perasaannya. Dan Rahmat pun tak bisa berbuat banyak.
** 
” Selamat atas promosi Anda. Semoga dengan promosi Ini kinerja Anda semakin meningkat, dan mampu membawa perubahan yang lebih baik lagi.” Direktur bank  tempatnya bekerja memberikan ucapan selamat. 
Pagi itu secara tak terduga Ningsih mendapat promosi jabatan. Satu kabar bahagia, yang cukup untuk mengobati luka hati Ningsih, yang beberapa hari ini dilanda kesedihan karena permasalahan anak.
Dan sore harinya sebagai rasa syukur,  Ningsih mengajak makan semua teman kantornya. Sembari berbincang santai, mereka menikmati makanan yang tersedia di restoran itu. Tempat makanan favoritnya bersama Rahmat.
Tak lama salah satu teman satu jabatan, yang selalu bersaing dengan Ningsih dan bernama Andi bersuara. 
“Bu Ningsih ini adalah orang yang sangat beruntung. Karirnya bagus, punya suami yang baik dan penyayang.” Andi berkata sambil mengunyah makanannya. 
“Oh iya pak Andi. Alhamdulillah.” Ningsih tersenyum.
“Tetapi sayang, Bu. Ada yang kurang. Anak.” kata Andi.
Ningsih terkejut mendengarnya. Apa maksud Andi ini?
“Iya, Bu. Anak. Sebuah pernikahan itu,  tidak lengkap rasanya jika belum punya anak. Coba tanya teman lain yang sudah punya anak.” Andi terus saja berbicara, tanpa menghiraukan perasaan Ningsih.
“Mungkin ibu kurang pandai membuat anak. Sesekali perlu lho mencoba berbagai posisi dalam bercinta. Siapa tahu ada yang berhasil. Bukan begitu? Atau saya ajarkan pada ibu bagaimana caranya. Ibu tinggal menelepon saya kapan waktunya. Hahahahaha……” Andi tertawa terbahak-bahak.
Wajah  Ningsih memerah mendengar kata-kata Andi. Dalam hati ia mengumpat. 
Tak perlu waktu lama, Ningsih berdiri dan menatap Andi.
“Pak Andi, saya memang tidak bisa membuat seorang anak. Yang bisa membuat anak, hanyalah Allah SWT. Kalau pak Andi memang bisa membuat seorang anak, tolong tunjukkan pada saya, bagaimana cara membuat rambutnya. Satu centimeter saja, Pak. Saya tunggu sekarang juga!” Ningsih mulai kehilangan kesabaran.
Suasana makan di meja itu seketika terasa mencekam. Terlebih melihat wajah Ningsih yang biasanya terlihat teduh, kini berubah menakutkan. Tak ingin berlama-lama di sana,  akhirnya Ningsih segera berlalu tanpa berkata apapun.
**
Di dalam mobilnya Ningsih menangis. Hatinya tersayat mendengar hinaan Andi. Andi telah berkata pada semua orang bahwa ia mandul. Andi telah menganggapnya wanita murahan, sampai-sampai ingin mengajarkannya cara bercinta. 
“Ya, Allah mengapa semua ini terjadi? Aku sudah tak tahan lagi!!!”
Beberapa menit kemudian ia sampai kembali ke rumah. Ternyata Rahmat telah lebih dulu datang dan menyapanya.
“Sayang, mengapa kau pulang terlambat? Apa ada meeting tadi di kantor?”
“Mas, mungkin sebaiknya engkau mencari pengganti diriku yang lebih sempurna dariku.  Aku tak bisa membahagiakanmu. Jadi ceraikan saja aku, Mas.” Ningsih berkata itu tanpa berpikir.
Rahmat terdiam. 
“Sayang, apa yang kau katakan? Sadarkah engkau dengan apa yang baru saja kau katakan? Engkau memintaku untuk bercerai. Sesuatu hal yang sangat tidak Allah sukai.”
Ningsih pun tak mampu menjawabnya. Hanya isak tangis yang terdengar di dalam ruang keluarga itu.

1 thought on “Kesatria Hati ( Episode Lima )”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *