Kesatria Hati ( Episode Enam )

Rahmat mendekat. Berusaha memegang tangan Ningsih. Tetapi Ningsih menolaknya.
“Jangan sentuh aku, Mas. Aku bukan wanita yang sempurna. Aku tak bisa membahagiakanmu. Aku tak bisa memberikan keturunan untukmu. Sesuatu yang bagi semua orang sangat penting , dan mutlak ada dalam sebuah keluarga!!” Mata Ningsih memerah. Terlihat ia sudah semakin sulit untuk mengendalikan diri.
“Pergilah, Mas. Mungkin sebaiknya engkau mencari wanita lain. Yang lebih sempurna dariku. Yang bisa memberikan keturunan untukmu. Agar semua orang di sekeliling kita bahagia dengan itu!!” Ningsih mendorong tubuh Rahmat.
Rahmat kembali mendekatinya dan memeluknya. Ningsih berusaha memberontak. Tetapi tak bisa. Lengan Rahmat terlalu kuat memeluknya. Ningsih pun akhirnya tersedu dalam pelukan Rahmat.
“Sayang, aku sangat sedih dengan apa yang baru saja kau ucapkan. Engkau menuntutku untuk berpisah denganmu. Sesuatu yang tak disukai Allah dan tak bisa aku lakukan. Apa yang terjadi denganmu? Bukankah sudah sering kukatakan aku bahagia hidup bersamamu, dengan atau tanpa seorang anak. Berapa kali aku katakan kepadamu, seorang anak bukan ukuran mutlak kebahagiaan keluarga. Kalau kita pandai bersyukur, kita pasti bahagia. Entah kau bisa melahirkan seorang anak atau tidak.” Panjang lebar Rahmat berusaha memberikan pengertian pada Ningsih.
Ningsih mendorong tubuh Rahmat sekuat tenaga. Pelukan dua orang manusia itupun terlepas. 
“Iya, Mas! Aku percaya denganmu! Aku percaya engkau sangat mencintaiku!  Sampai saat ini aku masih percaya engkau tetap menerima keberadaanku, dengan atau tanpa anak! Tetapi bagaimana dengan orang-orang di sekelilingmu? Bagaimana dengan orang-orang di sekelilingku? Orangtuamu? Teman-temanku? Apa mereka bisa menerima keadaanku?? Tidak, bukan?? Kalau mereka semua bisa menerima,  tidak mungkin mereka selalu menghujatku!!! Dan berkata bahwa aku perempuan yang tidak bisa membuat seorang anak!!! Ningsih sudah tak tahan lagi.
Rahmat mendekatinya. “Sayang….”
Namun Ningsih menyelanya. “Tahukah engkau, apa yang terjadi padaku hari ini? Seharusnya aku bahagia, karena mendapat promosi jabatan.”
Rahmat terkejut. “Sayang, kau mendapat kabar bahagia seperti ini, mengapa tak memberitahuku?” Rahmat mendekatinya. Ingin memeluknya lagi.
Tetapi Ningsih berkata “Iya, tetapi semuanya sekarang tak ada artinya. Akibat ulah satu orang. Orang  yang selalu iri hati padaku, namun tak berhasil mengalahkanku. Pak Andi memojokkanku. Dengan tanpa perasaan ia berkata bahwa kehidupanku tak sempurna tanpa adanya anak.” 
“Ia berkata bahwa aku tidak bisa membuat seorang anak, karena tidak pernah mencoba bermacam-macam posisi bercinta. Bahkan ia berkata ingin sekali mengajarkanku bagaimana cara membuat anak. Ia sudah mengolok-olok isterimu ini layaknya seorang pelacur!” Ningsih kembali meneteskan air mata.
“Sayang, benarkah yang kau katakan itu?” Rahmat merasa geram dengan perlakuan Andi terhadap isterinya. Ingin rasanya ia menghajar laki-laki itu. Tetapi akal sehatnya dan hati nurani masih mencegahnya.
Rahmat berjalan mendekati Ningsih. Sekali lagi ia peluk isterinya itu. Entahlah. Kondisi ini semakin membuatnya mencintai dan menyayangi Ningsih,  lebih dari sebelumnya.
Dengan masih memeluk Ningsih, Rahmat berkata “Sayang, tahukah engkau? Orang lain di luar sana hanya bisa menghujatmu, berkata hal-hal buruk tentang dirimu. Dan selamanya akan seperti itu. Tetapi apakah mereka memberikan solusi atas permasalahanmu? Aku yakin tidak. Seperti itulah manusia. Tak hanya mereka. Aku juga sering berbuat demikian. Untuk itu aku sering berdoa pada Allah,  untuk melindungiku dari keinginan menghujat orang lain.”
Rahmat membelai rambut Ningsih. “Jika mereka hanya mempunyai kemampuan untuk menghujat saja,  tanpa memberikan solusi, lantas untuk apa kau dengarkan? Engkau hanya membuang waktu saja. Engkau menguras pikiranmu,  hanya untuk memikirkan hal tak penting. Semakin engkau mendengarkan hujatan, maka mereka akan semakin leluasa mengulitimu, sampai engkau benar-benar terguncang jiwanya. Dan aku tak mau hal itu terjadi padamu, Sayang.”
“Bukankah lebih baik engkau menyerahkan semua bebanmu pada Allah? Ketahuilah Ia adalah sebaik-baik prlindungmu. Ia lebih mempedulikanmu daripada mereka. Bahkan daripada aku sendiri. Jadi berkeluh kesahlah hanya padaNya. Jangan ragukan kasih sayangNya. Apakah engkau memahaminya?”
Ningsih melepaskan diri dari pelukan Rahmat.
“Mas, kalau boleh aku meminta izin padamu. Aku ingin mengunjungi orangtuaku. Aku ingin mencari kedamaian di sana.” 
“Aku mengizinkanmu. Tetapi mungkin sebaiknya aku yang mengantarkanmu. Aku khawatir kondisimu seperti ini,  membuatmu tidak fokus berkendara. Aku cemas takut terjadi sesuatu pada dirimu.” 
“Mas, aku mohon. Aku ingin berangkat sendiri. Jangan menemaniku. Aku hanya ingin bertemu bertiga saja dengan mereka.” Ningsih memohon sambil memeluk lengan Rahmat.
“Hmmmm…Baiklah, tetapi berjanjilah padaku engkau tidak akan berpikir macam-macam selama di perjalanan. Berjanjilah padaku untuk hati-hati dan fokus berkendara. Dan tolong beritahu aku jika engkau sudah sampai di rumah orangtuamu.” Rahmat memegang kepala Ningsih menatap matanya meminta kepastian.
“Iya Mas aku janji. Tenanglah. Aku baik-baik saja.” Ningsih berusaha tersenyum.
“Baiklah, pergilah esok hari. Agar hatimu tenang. Sekarang ambil wudhu, shalat dan beristirahatlah.” 
Ningsih pun berlalu memasuki kamar  tidurnya. Dan Rahmat masih berada di ruangan itu. Terduduk dalam diam.
Dan keesokan harinya, Ningsih pun sudah berada dalam perjalanan menuju rumah orangtuanya.

1 thought on “Kesatria Hati ( Episode Enam )”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *