Kesatria Hati ( Episode Tujuh )

Keesokan harinya Ningsih sengaja tidak beraktivitas. Ia ingin menyendiri sejenak,  dan menenangkan diri dengan mengunjungi kedua orangtuanya.
Rumah orangtua Ningsih berjarak sepuluh kilometer dari tempat tinggalnya. Memerlukan waktu sekitar satu jam untuk menempuhnya. Terkadang Ningsih menyesal mengapa jarang sekali berkunjung. Padahal jaraknya tidak terlalu jauh untuk ditempuh.
Tak lama kemudian ia sudah sampai di rumah, disambut hangat oleh ayah ibunya. Seketika ia bersimpuh di kedua kaki orangtuanya.
“Ayah, Ibu.. Ningsih kangen…” Ningsih memeluk erat kaki kedua orangtuanya.
“Anakku Ningsih, berdirilah Nak. Ayo sini duduklah bersama kami.” Suara lembut sang ayah yang sangat dirindukannya.
Ningsih pun berdiri dan duduk sambil merangkul ayah ibunya.
“Ayah ibu bagaimana kabarnya? Ningsih selalu mendoakan agar ayah ibu selalu sehat.” Ia berkata sambil mencium keduanya.
“Ayah ibu baik-baik saja, Nduk. Kamu dan Rahmat sendiri bagaimana? Lama sekali tidak mengunjungi kami. Mengapa kau kesini sendirian? Mengapa Rahmat tidak ikut bersamamu? Ibunya menatapnya lembut.
“Alhamdulillah, Bu. Kami berdua baik. Mas Rahmat tidak ikut. Ada pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan. Mas Rahmat titip salam untuk ayah dan ibu.”
Sejenak keheningan melanda. Sambil masih merangkul ayah ibunya tiba-tiba Ningsih  menangis.
“Nduk, apa yang terjadi? Mengapa kau menangis, Nak? Ayo ceritakan pada ibu.” Ibu membelai tangan Ningsih.
“Ibu, Ningsih tak tahan lagi. Ningsih sudah berusaha membahagiakan mas Rahmat. Tapi Ningsih gagal, Bu. Ningsih ingin sekali bercerai.” Ningsih memulai kisahnya.
“Astaghfirullah, Nduk. Mengapa engkau berkata seperti itu? Bercerai itu sesuatu yang tidak baik, Nak.”
“Iya, Bu Ningsih tahu. Tetapi Ningsih bingung. Ningsih sudah tak bisa menerima setiap orang yang memojokkanku, Bu. Semua orang selalu berkata, bahwa Ningsih satu-satunya penyebab mas Rahmat tidak punya keturunan. Padahal kondisi kami sehat-sehat saja, Bu.” Ningsih menghela nafas.
“Mulai dari ibunya mas Rahmat sampai teman Ningsih di kantor. Terakhir kali Ningsih pernah mencoba untuk mengadopsi anak. Niat Ningsih baik. Agar menjadi ladang amal kami berdua. Tetapi ibu mas Rahmat tak menyetujuinya. Jadi Ningsih bingung harus bagaimana lagi.”
“Nak, bukannya ayah ibu tak mau membantumu. Sekarang engkau sudah menjadi tanggung jawab Rahmat. Cobalah bicarakan baik-baik dulu dengan suamimu. Kami hanya bisa memberimu nasehat dan mendoakanmu, Nak.” Sang ayah menasehati.
“Iya, ayah. Ningsih bersyukur mas Rahmat sangat mencintai dan menyayangi Ningsih.  Sampai dengan detik ini mas Rahmat masih membela Ningsih. Hanya saja kondisi di luar yang membuat Ningsih tak tahan.  Ningsih merasa kasihan pada mas Rahmat. Ningsih juga mencintainya. Ningsih tak ingin Mas Rahmat menanggung kesedihan atas semua masalah ini. Untuk itulah Ningsih berpikir mungkin lebih baik saat ini melepaskan mas Rahmat, untuk mencari pengganti yang lebih baik.”
“Nduk, itu bukan jalan keluar yang baik. Setiap rumah tangga pasti punya masalahnya sendiri.  Yang harus kamu lakukan adalah menghadapi semuanya berdua. Jangan berjalan sendiri, Nduk. Andalkan pertolongan Allah. Cobalah kalian berdua untuk lebih mendekatkan diri pada Allah.” Suara lembut ibunya mencoba memberikan pengertian.
“Sepertinya kalian berdua terlalu menyibukkan diri dengan hal-hal duniawi. Terlalu sibuk mencari uang, sehingga mungkin saja sedikit banyak kalian melupakan Allah. Maka bisa jadi Allah lah yang meninggalkan kalian saat ini. Pada akhirnya permohonan kalian belum ada satupun yang terpenuhi. Tak hanya itu. Kalian jadi mudah bertengkar, salah paham, bahkan merasa tak sejalan.” Ayah memberikan nasehatnya panjang lebar.
“Nduk, cobalah untuk lebih santai. Rileks. Jangan mudah terpengaruh perkataan orang lain. Mereka hanya bisa berbicara saja. Lebih mudah menjelek-jelekkan orang lain daripada diri sendiri. Itulah manusia. Jadi jangan mudah emosi,  hanya karena terlalu mendengar pendapat orang lain.” Ibu berkata sambil membelai rambut Ningsih yang tidur di pangkuannya.
“Bagaimana jika kalian berdua berlibur bersama? Rilekskan pikiran. Jauhkan semua aktivitas yang biasanya selalu kalian lakukan. Anggap saja bulan madu kedua. Semoga saja membawa manfaat bagi kalian.”
“Baiklah, Bu. Akan Ningsih pikirkan. Alhamdulillah, ayah ibu sangat mengerti kondisi Ningsih. Hanya ayah ibu yang mendukung saat ini. Terimakasih ayah,  ibu. Ningsih sangat berharap doa ayah dan ibu. Ningsih menyesal jarang sekali berkunjung.  Bahkan bertanya kesehatan ayah ibu. Maafkan Ningsih.” Ningsih menangis sambil memeluk kedua orangtuanya.
“Engkau anak kami yang paling berharga, Nduk. Yakinlah, doa kami selalu menyertaimu. Ingat, teruslah mengingat Allah kapanpun dan di manapun kalian berada. Kami yakin kalian berdua kuat menghadapi cobaan ini.” Ayah dan ibu mencium kening Ningsih yang sangat mereka cintai ini.
Dan sore harinya Ningsih kembali ke rumah dengan pikiran dan hati sedikit tenang, setelah mendapat banyak nasehat dari orangtuanya.
*
“Sayang, alhamdulilah engkau sudah pulang dengan selamat. Bagaimana keadaan ayah dan ibu?” Rahmat bertanya pada Ningsih.
“Alhamdulillah. Mereka baik dan sehat, Mas. Mereka berdua titip salam sayang untukmu.”
“Alhamdulillah. Nah, sekarang engkau sendiri bagaimana? Sudah merasa lebih baik?” Rahmat mengajak Ningsih duduk.
“Iya, Mas alhamdulilah. Beliau berdua banyak memberi nasehat. Aku sudah jauh lebih tenang sekarang.”
Rahmat tersenyum. Merasa bersyukur dengan semua ini.
“Oh, iya Mas. Bagaimana kalau sesekali kita berlibur? Aku lelah memikirkan semua ini. Aku ingin kita berdua rileks sesaat saja.” Ningsih bertanya.
“Hmmm engkau ingin berlibur, Sayang? Baiklah akan aku pikirkan. Kita cari waktu yang tepat. Nanti akan kupikirkan kita akan kemana, dan apa yang akan kita lakukan.” Rahmat memeluk Ningsih.
“Nah, sekarang kau pasti lelah. Istirahatlah.”
**
Dua minggu kemudian Rahmat membawa berita gembira. Salah satu temannya di agen perjalanan menawarkan promosi program liburan ke suatu daerah,  dengan pemandangan pantai yang eksotis. Tanpa pikir panjang, Rahmat menyetujuinya. Dan disepakatilah keberangkatan liburan mereka.
Sesampai di rumah, Rahmat menceritakan hal itu kepada Ningsih. Betapa bahagianya Ningsih mendengar berita itu.
Beberapa hari kemudian mereka mempersiapkan keberangkatannya. Dan esoknya berangkatlah mereka ke tempat tujuan.
Sesampai di sana mereka berusaha menikmati liburan. Tanpa ada dering telepon, atau pertanyaan seputar pekerjaan. Di hari itu mereka hanya ingin berlibur,  dan santai sejenak dari rutinitas.
Dan pada akhirnya liburan itupun berakhir, pertanda mereka harus kembali menjalankan rutinitas.
**
Pagi itu entah mengapa Ningsih terasa sangat lemas. Kepalanya pusing dan seolah berputar. Ada kalanya juga mual. Tak hanya itu. Sudah sejak beberapa hari lalu, ia terserang batuk yang tak kunjung sembuh.
Ingin rasanya pergi ke kantor tetapi rasanya ia tak sanggup untuk berjalan. Rahmat sangat heran dengan kondisi isterinya ini.
“Sayang, apa engkau sakit? Kau tidak apa-apa?” Rahmat menyentuh kening Ningsih.
“Aku tak tahu, Mas. Badanku rasanya lemas sekali. Kepalaku pusing dan sedikit mual. Aku juga batuk tapi tidak sembuh juga.”
“Aku buatkan teh hangat untukmu, ya. Sepertinya engkau masuk angin.” Rahmat bangkit dari duduknya namun Ningsih mencegahnya.
“Sudah Mas nanti aku buat sendiri saja. Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit lemas. Mungkin benar yang engkau katakan. Sepertinya aku masuk angin.” Ningsih berkata sambil terus memegang kepalanya.
“Mas berangkat kerja saja, ya. Mungkin aku tidak masuk kerja dulu. Ingin istirahat di rumah saja.”
Rahmat merasa kasihan dengan Ningsih.
“Ya, sudah. Aku berangkat ya, Sayang. Jangan lupa hubungi aku kalau ada apa-apa. Kalau memungkinkan nanti kita ke dokter, ya.”
Ningsih mencium tangan Rahmat. Rahmat mencium lembut kening Ningsih. Tak lama ia pun berlalu meninggalkan Ningsih.

2 thoughts on “Kesatria Hati ( Episode Tujuh )”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *