Kesatria Hati (Episode Delapan)

Malam harinya Rahmat mengantar Ningsih ke dokter. Dokter menyarankan Ningsih melakukan serangkaian pemeriksaan,  untuk memastikan penyakitnya. Dan esok harinya mereka kembali lagi ke dokter itu untuk mengetahui hasilnya.
“Pak Rahmat dan bu Ningsih, hasil pemeriksaannya sudah dapat diketahui. Alhamdulillah tidak ada penyakit , atau gangguan kesehatan yang cukup berbahaya.” Dokter tersebut memandang mereka berdua cukup lama sembari tersenyum.
Rahmat dan Ningsih semakin penasaran. Tak ingin membuat mereka menunggu lebih lama,  akhirnya sang dokter membuka suara.
“Dari tes urine menyatakan bahwa Ibu Ningsih positif hamil.  Selamat ya.” Dokter tersebut tersenyum sambil menjabat tangan Rahmat.
Rahmat dan Ningsih seolah tak percaya dengan pendengarannya. Terlebih dari hasil tes yang terpampang di hadapan mereka. Mereka  berdua saling pandang. 
“Benarkah yang dokter katakan? Benarkah isteri saya hamil? Saya tak percaya. Kami sudah lama tak berharap tentang hal ini. Sebab usaha yang kami lakukan sepuluh tahun ini selalu gagal.” Rahmat terharu.
“Tak ada yang tak mungkin jika Allah sudah berkehendak,  pak Rahmat. Termasuk yang terjadi dengan anda berdua saat ini. Jadi berbahagialah. Dan saran saya sesegera mungkin ke dokter kandungan, agar ibu Ningsih bisa ditangani lebih lanjut.” Dokter baik hati itu berkata sambil tersenyum.
“Alhamdulillah. Baiklah. Terimakasih dokter.” Rahmat menjabat erat tangan sang dokter. Dan keduanya segera berlalu untuk bertemu dan berkonsultasi dengan dokter kandungan.
**
“Sayang, alhamdulilah akhirnya Allah mengabulkan doa kita. Allah akan memberikan kita seorang anak.” Kedua insan manusia itu berbincang sambil berpelukan erat. 
“Semoga kita bisa menjaga amanah ini dengan baik. Kita akan merawatnya, mendidiknya sesuai ajaran agama, dan memberikan semua kebutuhannya. Semoga anak ini akan menjadi kebanggaan kita dan keluarga, Sayang.”
“Aamiin. Insya Allah, Mas.” Ningsih berkata lirih dalam pelukan Rahmat. Ia masih tak percaya di dalam rahimnya telah tumbuh benih buah cinta mereka.
Orangtua mereka juga merasa sangat bahagia dengan kehamilan Ningsih ini. Terlebih ibu Rahmat yang sangat antusias dengan berita ini. Berkali-kali ia menasehati Ningsih ini dan itu. Terkadang Ningsih merasa risih. Tetapi ia menyadari itulah bentuk kebahagiaan ibu mertuanya.
**
Masa sembilan bulan kehamilan dilewati Ningsih dengan perjuangan, pengorbanan, rasa lelah sekaligus bahagia. Beruntunglah selama mengandung sang buah hati, ia masih sanggup untuk beraktivitas. 
Terkadang Rahmat sangat heran dengan kondisi sang isteri,  yang ia nilai sangat kuat menjalani kehamilannya. Setiap saat ia berdoa agar Ningsih dapat melewati semua ini. Selalu sehat hingga tiba waktunya melahirkan nanti. Dan tanpa terasa waktu untuk melahirkan pun semakin dekat.
**
“Maaassss…..Maaaaaasss….tolong akuuuu!!!!” Ningsih berteriak dari ruang keluarga. 
“Iya, Sayang. Jangan berteriak seperti itu. Aku mendengar panggilanmu. Ada apa?” Dengan santainya Rahmat keluar dari kamar tidur mereka.
“Maaassss, lihat….air ketubannya pecah. Sepertinya aku mau melahirkan, Mas. Tolong aku!!! Perutku sakiiittt!!!!” Ningsih mencengkeram tangan Rahmat.
“Astaghfirullah. Ayo, Sayang kita ke rumah sakit!!!!” Rahmat juga mulai panik.
Mereka pun tergesa-gesa berangkat ke rumah sakit. Sebelumnya mereka tak lupa menghubungi orangtua masing-masing,  untuk mendoakan kelancaran proses melahirkan Ningsih. 
Beberapa jam berlalu. Semua menunggu dengan cemas. Akhirnya tujuh jam kemudian, dokter keluar dari ruang bersalin dan berkata ” Selamat pak Rahmat. Isteri anda baru saja melahirkan seorang anak laki-laki.”
Tubuh Rahmat terasa lemas. Dan tiba-tiba saja ia tersungkur. Ia bersujud. Bersyukur kepada Allah atas apa yang telah terjadi. 
Tak lama kemudian ia sudah bertemu dengan Ningsih,  dan anak laki-laki yang sangat ia cintai. Anak itu pun mereka beri nama Satria.
**
Waktu terus berlalu. Alangkah bahagianya mereka berdua menjalani kehidupan rumah tangga, yang saat ini semakin lengkap dengan kehadiran Satria. Orangtua mereka pun berlomba membanggakan cucu mereka. Cucu laki-laki pertama yang akan menjadi generasi penerus keluarga.
Selama tiga bulan masa cuti melahirkan, Ningsih banyak belajar tentang cara merawat bayi. Ia  pun berusaha memberikan ASI untuk anak laki-lakinya ini. Dan Rahmat sangat mendukung upaya Ningsih ini. Ada kalanya Rahmat merasa kasihan dengan Ningsih,  yang terlihat lelah mengurus bayi. Tetapi itulah kehidupan yang harus mereka jalani dan nikmati saat ini.
**
Tiga bulan telah berlalu. Tibalah waktu bagi Ningsih untuk kembali beraktivitas di kantor. Selama itu pula orangtua mereka datang silih berganti menemani Satria, hingga Rahmat dan Ningsih pulang ke rumah.
Suatu malam Rahmat memanggil Ningsih untuk berbincang bersama.
“Sayang, kemarilah. Aku ingin berbicara denganmu.”
“Iya, Mas” Ningsih mendekat sambil menggendong Satria. Terlihat Satria tertidur dalam pelukan bundanya.
“Sayang, beberapa hari ini aku berpikir. Semakin lama aku kasihan dengan orangtua kita, yang setiap hari menemani Satria silih berganti. Apa tidak sebaiknya engkau berhenti bekerja saja, untuk merawat anak kita?” Rahmat menatap mata Ningsih.
“Maksudnya engkau melarang aku bekerja, Mas? Kalau aku tidak bekerja, bagaimana dengan pencapaian karir yang telah aku tempuh dengan susah payah ini? Lalu bagaimana dengan kondisi ekonomi kita nanti? Aku takut keuangan keluarga kita tidak cukup, untuk memenuhi semua kebutuhan jika aku berhenti bekerja, Mas.” Ningsih mencoba memberi argumennya.
“Sayang, aku menyarankanmu berhenti bekerja demi merawat anak kita. Aku sangat paham dengan semua pencapaianmu selama ini. Bahwa puncak karir yang kau dapatkan, adalah buah hasil kerja kerasmu. Tetapi pahamilah bahwa puncak karir tertinggi seorang wanita adalah,  jika ia berhasil mendidik anaknya, menjadi manusia yang bermanfaat bagi agama dan sesama.”
Ningsih terdiam.
“Jangan pernah ragu dengan rezeki kita, Sayang. Rezeki itu pemberian dari Allah. Bukan karena kita bekerja. Jadi andaikata engkau berhenti bekerja, jangan takut dengan berkurangnya rezeki. Aku yakin rezeki yang selama ini kau dapatkan, akan berpindah kepadaku. Asalkan engkau berhenti bekerja, dengan niat tulus ikhlas merawat anak kita.” Rahmat panjang lebar menasehati Ningsih.
“Sayang, jangan lupa. Kita telah memohon sekian lama untuk bisa mendapatkan keturunan. Allah telah mengabulkannya. Sehingga seyogyanga kita juga menjaga amanah ini dengan baik.”
“Entahlah, Mas. Aku belum bisa memikirkannya saat ini. Satu-satunya jalan keluar dari masalah ini kalau menurutku,  adalah kita mencari seorang baby sitter untuk menjaga Satria.” Terlihat sekali Ningsih belum bisa mengikhlaskan hidupnya untuk merawat Satria di rumah.
Dan Rahmat sungguh terkejut mendapati kenyataan, bahwa keesokan harinya Ningsih telah mendapatkan seorang baby sitter bernama Sumi, setelah mendapat rekomendasi dari seorang tetangga.

1 thought on “Kesatria Hati (Episode Delapan)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *