Uncategorized

Kesatria Hati (Episode Sembilan)

“Mas, ini Sumi. Baby sitter yang akan menjaga Satria selama kita bekerja. Ibu Hasan yang merekomendasikan. Ia akan bekerja mulai hari ini. Setiap hari ia akan datang, dan pulang jika kita sudah kembali dari kantor.” Ningsih berkata sambil lalu.
“Sayang, mengapa tak kau bicarakan dulu denganku? Apa kau sudah mempelajari dulu asal-usulnya? Bagaimana dengan  kinerjanya? Apakah ia orang yang sabar menghadapi anak kecil??” ujar Rahmat sedikit kesal.
“Kita tak punya banyak waktu, Mas. Ayah ibu kemarin juga menghubungiku, jika mereka dalam beberapa hari ini tak bisa kemari. Jadi sebaiknya kita bisa mencari solusi lebih cepat.” Ningsih berkata sambil terburu-buru bersiap ke kantor.
Sebelumnya Ningsih berpesan pada Sumi.
“Sumi, jaga Satria baik-baik ya! Jangan lengah!” Ningsih bergegas, mencium tangan Rahmat dan segera menghilang menuju kantor.
Rahmat pun hanya dapat menggelengkan kepala.
**
Waktu demi waktu berlalu. Tak terasa sudah delapan bulan Sumi bekerja sebagai baby sitter di rumah Ningsih. Dan selama ini belum ada masalah yang terjadi terkait penjagaan Satria. Dan Ningsih pun  semakin bergantung kepada Sumi.
Namun tanpa Ningsih sadari, sudah beberapa hari ini Sumi tidak fokus bekerja. Ternyata ini semua diakibatkan Sumi yang sedang menjalani hubungan dengan seorang pria. Setiap hari ia menelepon kekasihnya dan sebaliknya. Sumi saat ini juga terlalu asyik memantau media sosial. Sehingga ia sering lalai dengan tugasnya menjaga Satria. 
Hingga pada akhirnya……..
**
Entah mengapa hari itu Rahmat seperti tidak konsentrasi bekerja. Pikirannya selalu tertuju pada Satria di rumah. Hatinya menjadi cemas memikirkan Satria. Ada apa gerangan? 
Pyaaarrrr…….
Gelas minum yang sedang ia bawa tiba-tiba terjatuh dan pecah.
“Astaghfirullah….ada apa ini?” Ia bertanya dalam hati.
Seolah menjawab pertanyaannya, ia terkejut ketika telepon genggamnya berbunyi.
“Assalamualaikum, pak Rahmat. Ini ibu Eri.” Suara di seberang telepon memberi salam.
“Waalaikumsalam…eh, iya Ibu Eri. Maaf ada apa?” 
“Begini, Pak. Dari tadi saya menghubungi Ibu Ningsih tidak bisa. Sepertinya telepon genggamnya dimatikan. Apa pak Rahmat bisa pulang ke rumah sekarang?” tanya ibu Eri.
“Maaf, Bu. Ibu meminta saya pulang ke rumah? Ada apa, Bu?”Rahmat bertanya tak mengerti.
“Pak Rahmat pulang saja dulu ya. Terimakasih. Assalamualaikum.” Ibu Eri segera menutup teleponnya.
Tanpa berlama-lama lagi, Rahmat segera meluncur ke rumah.
**
Sesampai di rumah, ia terkejut melihat Sumi duduk di pojok ruang tamu sambil menangis. Ia juga melihat ibu Eri duduk di lantai ruang tengah sambil memeluk anak kecil.
“Astaghfirullah, Satria kenapa kamu, Nak?”Rahmat berlari langsung mengambil Satria dari pelukan ibu Eri.
“Sumiiiiiii, ada apa dengan Satria? Sumiiiiiii……!!!!!”Rahmat panik memanggil Sumi.
“Pak Rahmat, coba bapak duduk dulu. Sumi, tolong ambilkan bapak air minum hangat.” Ibu Eri menyuruh Sumi.
“Bu Eri, ini Satria kenapa, Bu?” Rahmat masih menggendong Satria yang dari mulut dan hidungnya keluar darah.
“Sumi tadi bercerita kepada saya. Satria terjatuh.  Tadi Satria naik ke atas kursi tanpa sepengetahuan Sumi, yang sedang menerima telepon dari seseorang. Mungkin saat itu ia mencoba turun sendiri. Padahal anak sekecil itu kan belum tahu cara untuk turun sendiri dari kursi, Pak.” Ibu Eri pelan-pelan menjelaskan kejadian tadi siang kepada Rahmat. 
“Astaghfirullah….” Rahmat menangis sambil memeluk Satria.
“Pak, mungkin sebaiknya Satria cepat dibawa ke rumah sakit biar segera mendapat pertolongan.” Ibu Eri pun memberi saran.
“Baiklah, Bu. Terimakasih atas perhatiannya. Saya akan segera ke rumah sakit.”
“Bagaimana dengan Bu Ningsih, pak? Apa coba saya hubungi lagi?” Ibu Eri bertanya.
“Tidak usah, Bu. Nanti malah merepotkan ibu. Saya sendiri yang akan menghubungi Ningsih.” Rahmat tak ingin lebih merepotkan tetangga yang baik hati ini.
Dan dalam sekejap Rahmat pun meluncur ke rumah sakit.

Saya ibu rumah tangga yang ingin bercerita, berkisah dan belajar lewat sebuah tulisan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *