Uncategorized

Kesatria Hati (Episode Sepuluh)

“Pak Rahmat, saya mohon maaf. Kondisi Satria saat ini sangat kritis. Ia kehilangan banyak darah. Kita hanya bisa mengharapkan datangnya keajaiban.” Dokter yang memeriksa Satria memberi penjelasan pada Rahmat.
“Dokter, benarkah yang anda katakan? Maksud anda, Satria tak dapat diselamatkan lagi?” Mata Rahmat memandang dokter itu dengan tatapan nanar.
“Kita doakan yang terbaik ya, Pak.” Dokter tak mampu berkata-kata lagi.
Tubuh Rahmat semakin lemas. Ia berjalan menuju ruang perawatan Satria. Rahmat merasa sedih karena ia hanya dapat memandang Satria dari balik kaca. Tak bisa memeluknya, bahkan memberikan semangat pada Satria untuk bisa bertahan.
Ia terkejut ketika ada tepukan halus mendarat di bahunya. Ia menoleh. Terlihat olehnya orangtua Ningsih sudah ada di belakangnya. Dengan segera ia memeluk erat ayah ibu Ningsih dan menangis.
“Ayah, ibu. Maafkan kami. Kami tak mampu menjaga cucu ayah ibu dengan baik. Maafkan kami.” Rahmat menangis.
“Anakku, bersabarlah. Jangan menyalahkan diri sendiri. Ini semua musibah dan ujian, Nak. Bersabarlah. Semoga Allah memberikan kesembuhan untuk Satria.” Sang ayah mencoba menenangkan Rahmat.
“Aamiin. Doakan Satria ya, Ayah. Doakan Satria ya, Bu. Tetapi darimana ibu tahu masalah ini?” tanya Rahmat sambil melepaskan pelukannya.
“Iya, Nak. Kami selalu mendoakan yang terbaik untuk cucu kami. Tadi Sumi menghubungi kami. Dan kami pun segera berangkat kemari. Tetapi  kemana Ningsih? Apa ia belum tahu kejadian ini?” Ibu bertanya.
“Ningsih belum bisa dihubungi, Bu. Sepertinya ia ada pertemuan tadi. Telepon genggamnya dimatikan.” Rahmat menjawab.
“Kalau begitu, nak Rahmat pulang saja dulu. Istirahat. Siapa tahu juga Ningsih pulang ke rumah, dan tidak tahu apa yang terjadi. Kami berdua akan menjaga Satria di sini. Oh iya, jangan lupa untuk memberi tahu ibumu ya, Nak. Minta beliau untuk ikut mendoakan Satria.” 
“Tapi, Bu….” Rahmat merasa kasihan dengan kedua mertuanya yang sudah lanjut usia ini.
“Sudah, Nak. Tidak apa-apa. Kami akan menjaga Satria. Pulanglah.” Mata teduh ibu Ningsih meyakinkannya.
“Baiklah, Bu. Ibu Rahmat ada di luar kota menjenguk paman yang sedang sakit. Nanti coba Rahmat hubungi. Ayah ibu hati-hati ya. Terimakasih banyak.” Sekali lagi Rahmat memeluk ayah ibunya.
**
“Maaaaaasss, mana Satria?? Apa yang terjadi dengannya???” Ningsih mengguncang tubuh Rahmat.
“Satria dirawat di rumah sakit. Kondisinya kritis karena kehilangan banyak darah.” Rahmat terduduk lemas.
“Apaaaa?? Mengapa bisa terjadi?” Ningsih setengah berteriak.
Lalu Rahmat mulai menceritakan seluruh  kejadian itu.
“Sayang, kau tadi kemana saja? Ibu Eri berkali-kali menghubungimu tak bisa. Telepon genggammu tidak aktif. Aku juga terus meneleponmu,  tapi juga tak berhasil.” 
“Aku tadi memimpin rapat penting, Mas. Jadinya telepon sengaja aku matikan.” kata Ningsih yang tak lama kemudian berdiri dan berteriak memanggil Sumi.
“Sumiiiiiii….!!!!! Sumiiiiiii….!!!!! 
Sumi mendekat. Berjalan perlahan dengan wajah ketakutan.
Ningsih pun semakin kesal dan murka terhadap Sumi.
“Apa yang kau lakukan pada anakku!!!! Kenapa kau lalai menjaganya????? Kau sudah aku beri kesempatan mendapatkan penghasilan di sini. Aku sudah banyak memberimu uang untuk menjaga anakku!!! Tapi apa yang kau lakukan??? Kau celakakan anakku!!!! Kau tidak berhak melukainya!!! Mengapa kau lakukan???” Ningsih mendekat dan ingin menghajar Sumi.
Tetapi…
“Ningsih, stooooppp!!! Hentikan!!!! Jangan kau salahkan Sumi. Ia tak sepenuhnya bersalah!!! Kaulah yang paling bertanggung jawab dengan masalah ini!!!!” Rahmat mulai emosi melihat sikap Ningsih.
“Kok, jadi menyalahkan aku, Mas??? Bukankah Sumi yang harus menjaga anak kita selama kita bekerja?? Kita membayarnya untuk hal itu, Mas!!!” Ningsih tak percaya Rahmat menyalahkannya
“Satria anak kita. Anakmu dan anakku. Bukan anak Sumi. Kita orangtuanya. Kitalah yang paling utama untuk menjaganya. Bukan dia!! Jadi jangan kau salahkan dia!” 
Ningsih semakin tak mengerti dengan sikap Rahmat.
“Tapi, Maaassss???” 
Rahmat tak menggubris apa kata Ningsih.
“Bukankah pernah kukatakan padamu, mengapa kau tak berhenti bekerja saja demi menjaga anak kita? Keberhasilan seorang wanita, adalah jika ia mampu mendidik dan merawat anaknya  dengan baik. Tetapi apa yang kau lakukan? Kau masih saja berat dengan karirmu!! Kau takut semua orang tidak menghargaimu lagi, jika berubah peran sebagai ibu rumah tangga biasa! Kau takut akan berkurangnya rezeki kita!” Rahmat berteriak.
“Padahal Allah yang menjamin rezeki kita. Setinggi-tingginya mengejar karir tetapi jika Allah tidak berkehendak, kau tak akan bisa meraihnya! Dan inilah hasilnya! Satria menjadi korban keegoisan kita sebagai orangtuanya!” Apa kau mengerti?” Rahmat mengguncang tubuh Ningsih.
Hening seketika dalam ruangan itu. Kedua manusia itu terisak. Menyesali apa yang telah terjadi dengan buah hati yang baru saja mereka miliki.
Seketika terdengar suara Rahmat.
“Sumi, mungkin ada baiknya jika engkau pergi dari sini. Aku akan berikan gaji terakhirmu.” Rahmat segera berlalu, masuk dalam kamar, dan beberapa saat kemudian keluar dari kamar membawa sebuah amplop.
“Ini bawalah. Pergilah dari sini. Dan maafkan kami berdua.” Rahmat memberikan amplop itu.
“Terimakasih, Pak. Maafkan saya, pak. Maafkan saya, Bu.” Sumi menerima amplop itu, menangis dan segera berlalu dari ruangan itu.
Dalam keheningan, tiba-tiba saja telepon genggam Rahmat berdering.
“Assalamualaikum. Nak Rahmat dan Ningsih, tolong cepat kemari. Satria memerlukan kalian.” Suara ayah Ningsih dari seberang sana mengagetkan Rahmat.
“Ayah, apa yang terjadi???”

Saya ibu rumah tangga yang ingin bercerita, berkisah dan belajar lewat sebuah tulisan.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *