Uncategorized

Kesatria hati (Episode Sebelas)

“Kalian berdua lekas ke rumah sakit. Dokter ingin berbicara dengan kalian.” Suara ayah Ningsih di seberang telepon membuat mereka berdua segera bergegas ke rumah sakit.
Selama perjalanan mereka  berdua saling membisu. Tetapi dalam hati mereka terlantun doa,  agar Satria segera pulih,  dan bisa berkumpul lagi dengan keluarga. 
Tak lama kemudian mereka pun sampai di rumah sakit. Ayah dan ibu Ningsih terlihat duduk terdiam di depan ruang perawatan Satria. 
“Ayah, Ibu…….” Ningsih menangis, memeluk orangtuanya tak mampu berkata-kata.
“Anakku, bersabarlah. Ini ujian untukmu, Nak. Berdoalah untuk Satria.” Sang ibu pun ikut menangis.
“Ibu, Ningsih yang bersalah, Bu. Maafkan Ningsih.”
“Nak, lebih baik kamu sekarang melihat kondisi Satria. Berdoalah semoga ada keajaiban.” Ibu memberi nasehat pada Ningsih, sembari membimbing putrinya ini melihat kondisi Satria dari luar kamar.
Ningsih  tersedu-sedu melihat kondisi Satria. Ia melihat putra kesayangannnya itu terbujur kaku. Tak bergerak sedikitpun. Matanya terpejam, namun bibir kecilnya menyunggingkan senyuman. 
Rahmat mendekat, lalu ia memeluk Ningsih erat. 
“Doakan yang terbaik untuk anak kita,  Sayang.” Tak terasa butiran air matanya menetes deras.
“Oh iya. Aku belum memberi tahu ibuku tentang kondisi Satria. Tunggu sebentar.” Rahmat melepaskan pelukan Ningsih  dan berjalan agak menjauh. 
**
“Assalamualaikum…ibu….. ibu dimana?” Rahmat menghubungi ibunya lewat telepon genggam.
“Waalaikumsalam. Ibu masih di rumah pamanmu, Nak. Pamanmu belum sembuh dari sakitnya. Tetapi alhamdullillah sudah agak membaik. Bagaimana kabarmu, Nak? Bagaimana cucu ibu? Pasti sekarang sudah bertambah besar, gagah dan pintar sepertimu ya, Nak? Ibu jadi ingat masa kecilmu.” Ibunya bertanya tanpa merasa curiga. 
“Ibu, maafkan Rahmat. Satria dirawat di rumah sakit, Bu. Dan sekarang kondisinya kritis. Maafkan Rahmat, Bu yang baru memberitahu ibu saat ini. Sebab Rahmat tak ingin membuat ibu cemas lagi,  setelah kabar sakitnya paman.” 
“Apaaaaaa??? Mengapa bisa begituuuu??? Kalian betul-betul ceroboh!!! Awas, ya. Jangan sampai terjadi apa-apa dengan cucu kesayangan ibu!!! Ibu tidak akan memaafkan kalian!!! Ibunya berteriak keras. 
“Ibu, kami mohon. Doakan Satria ya, Bu. Kami berharap doa Ibu.” Rahmat memohon. 
Tepukan halus di pundaknya menyadarkan Rahmat. Ternyata dokter memanggilnya.
“Ibu, nanti Rahmat telepon lagi ya. Assalamualaikum.”
‘Rahmat…………. Rahmat………….!!! Ibu belum selesai bicara denganmu!!! Tetapi tut…tut….tut…
Telepon itu pun terputus. 
**
“Pak Rahmat, kami mohon maaf. Kami para dokter sudah berusaha semaksimal mungkin,  untuk membantu penyembuhan anak bapak. Tetapi kondisi anak bapak sudah terlalu kritis. Benturan di kepalanya terlalu keras untuk anak sekecil itu. Hanya keajaiban dari Allah yang mampu menyembuhkannya.” Suara dokter itu bagaikan petir menyambar, di telinga Rahmat dan Ningsih.
“Apa yang dokter katakan?? Itu tidak benar, bukan? Tidak….Satria tidak mungkin  meninggalkan kami, Dok! Kami sangat menyayanginya. Katakan kalau dokter masih mampu menyelamatkannya.” Ningsih gemetar dan mulai panik.
“Kami hanya manusia, Bu. Kami mempunyai keterbatasan. Hanya Allah yang mahakuasa menyembuhkan, Bu. Jadi mungkin sebaiknya bapak dan ibu, menemani putranya di saat-saat terakhirnya . Dan ikhlaskan ia pergi.” Dokter pun tak mampu berkata apa-apa lagi. 
Tubuh Ningsih terasa lemas. Rahmat memeluknya dan mengajaknya menemani Satria. Berempat bersama ayah dan ibu Ningsih memasuki ruangan tempat Satria dirawat.
“Satriaaaaa….. Satria anak ibuuu….bangun Nak….bangunlah Nak…ini ibu disini datang menjemputmu, Sayang….ayo, Nak…Kita pulang ke rumah sama-sama…Lihatlah… Ayah,  kakek,  nenek juga datang… Mereka ingin bermain bersamamu, Nak….” Ningsih menangis sambil memeluk Satria. 
“Dengar, Nak. Engkau harus dengarkan ibu. Bangunlah!!! Buka matamu!!! Ningsih menggenggam tangan Satria. Air matanya deras mengalir membasahi pipinya. Dan di sudut ruangan Rahmat menangis tak kuasa menahan haru dan penyesalan menyaksikan pemandangan ibu dan anak itu. 
Ayah dan ibu Ningsih mencoba menenangkan. 
“Ningsih anakku, doakan Satria. Kau harus siap melepasnya pergi. Kasihan Satria.” 
“Tidak, Bu. Aku tak mau Satria pergi. Aku menyesal, Bu. Aku tak ingin melihatnya pergi.” Ningsih menangis.
Entahlah. Tiba-tiba Ningsih merasa tangan Satria yang digenggamnya bergerak perlahan. Ningsih terkejut. Ia melihat sekilas bahwa mata Satria sedikit terbuka. Benar mata mungil itu terbuka.
“Maaassss, lihat Satria bangun!!!” Ningsih memanggil suaminya.
Ningsih melihat mata itu memandangnya sebetar, lalu beralih kepada suaminya dan orangtuanya.
“Satria anakku. Ini ibu, Nak.” Ningsih mencium tangan mungil itu.
Tetapi mata mungil itu tertutup lagi. Dan tiba-tiba terdengar suara mirip peluit panjang. Itu berasal dari alat deteksi detak jantung di samping tempat tidur Satria. Dan alat itu telah menunjukkan garis lurus melintang panjang.
“Satria…!!!! Satria anakku!!!!! Satria!!!! Ningsih mengguncang tubuh kecil itu. Dan tubuh itu tak bergerak lagi.

Saya ibu rumah tangga yang ingin bercerita, berkisah dan belajar lewat sebuah tulisan.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *