Kesatria Hati (Episode Dua Belas)

“Tidak…!! Tidak..!! Ini tak boleh terjadi! Maaassss, ada apa dengan anak kita?? Ia tadi membuka mata lho, Mas! Lalu mengapa sekarang ia menutup matanya lagi?” Ningsih mengguncang lengan Rahmat.
“Oh, aku tahu. Anak kita pasti lelah, Mas..Menunggu kita yang lama tak datang menjemputnya. Sepertinya ia tertidur, Mas.” 
Rahmat tak tahan lagi. Segera ia meraih Ningsih, dan  memeluknya erat. 
“Tidak, Sayang. Anak kita telah pergi. Ia tak akan bertemu kita lagi. Ia dipanggil oleh Allah, karena Allah sangat menyayanginya.” Rahmat menangis.
“Apa kau bilang, Mas? Maksudmu Satria tidak akan bersama kita lagi? Aku tidak bisa bermain bersamanya lagi? Apa aku tidak akan bisa memandikannya lagi? Atau tidur bersama kita lagi?? Apa maksudmu, Mas? Kau jangan berkata sembarangan!!!” Ningsih meronta, memukul dada Rahmat.
“Sayang, tenanglah….! Ikhlaskan anak kita pergi. Jangan takut. Ia sudah bahagia bertemu dengan Allah. Ia akan dijaga oleh Allah. Ikhlaskan ia pergi!” Rahmat masih berusaha memeluk Ningsih yang terus meronta.
Di sudut ruangan, ayah dan ibu Ningsih menangis tersedu melihat anaknya,  yang sangat terpukul kehilangan buah hatinya.
Tak lama kemudian, seorang dokter dan suster memasuki ruangan. Setelah melakukan pemeriksaan, dokter itu berkata.
“Pak Rahmat, kami ikut berduka atas meninggalnya putra bapak. Semoga putra bapak diberikan tempat yang indah di sisi Allah. Aamiin.”
” Dokter, terimakasih banyak atas perhatian anda kepada putra saya. Semoga Allah membalasnya. Oh iya, saya akan segera membereskan administrasinya.” Rahmat bersalaman dengan dokter itu.
“Silahkan, Pak.” Tak lama dokter itu keluar.
“Ayah, ibu. Rahmat titip Ningsih dulu ya. Rahmat mau membereskan administrasi rumah sakit ini dulu.”
“Iya, Nak. Pergilah. Kami akan menjaga Ningsih.”
Beberapa saat menunggu, akhirnya jenazah Satria dalam perjalanan menuju rumah duka. 
**
Di depan rumah Rahmat terlihat banyak sekali tetangga datang melayat. Mereka adalah tetangga-tetangga yang baik. Saling akrab dan bantu membantu dalam setiap kesulitan. Dan memang benar, semua hal terkait persiapan pemakaman sudah mereka lakukan dengan sempurna.
Para tetangga pun satu persatu bersalaman,  dan mencoba menghibur Rahmat dan Ningsih. Suasana haru menyelimuti rumah itu. Dari dalam ruangan terdengar lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an.
Sementara itu, Rahmat berusaha menghubungi ibunya dengan telepon genggamnya. Tetapi tak aktif. Berkali-kali mencoba hasilnya sama saja. Ia bertanya-tanya dimanakah gerangan sang ibu. Ia ingin memberi tahukan kabar duka ini.
Seolah menjawab pertanyaannya, tiba-tiba ia mendengar suara seorang wanita. “Mana cucuku? Dimana dia?” Ternyata ibunya telah sampai. Terlihat sekali ibunya terburu-buru memasuki ruangan. Rahmat pun langsung menyambutnya.
“Rahmat, ada apa ini? Mengapa rumahmu ramai sekali, Nak? Mana cucuku? Dimana dia?” Ibu Rahmat berusaha mencari dimana cucunya.
Dan betapa terkejutnya wanita itu tatkala melihat jenazah terbaring di ruang keluarga itu. Di sampingnya 
melihat  ayah ibu Ningsih,  juga tetangga yang membacakan doa. Ningsih sendiri tak terlihat.
Rahmat memeluk ibunya sambil menangis.
“Ibu, Satria sudah pergi. Ikhlaskan Satria, Bu.” 
“Apa maksudmu?? Tidak…!!! Cucuku baik-baik saja, bukan? Jawab ibu!!” Ibunya panik.
“Satria tak bisa tertolong, Bu. Pendarahan di kepalanya cukup parah. Dokter sudah menyerah. Kami tak bisa berbuat apa-apa….” Rahmat berkata lirih.
“Lalu jika sudah tahu dokter di rumah sakit itu menyerah, mengapa tak kau pindahkan saja Satria ke rumah sakit lain? Yang lebih bagus, profesional, dan lebih canggih???? Kalian berdua memang tidak bisa menjadi orangtua yang baik!!” Ibu Rahmat masih saja tak mampu menerima kenyataan ini.
“Ibu, ini semua sudah takdir Sang Mahakuasa. Kumohon, Bu. Ikhlaskan Satria pergi. Doakan Satria, Bu.” Rahmat memohon.
“Sekarang mana Ningsih?”
“Ada di kamar, Bu. Ningsih sangat terpukul dengan kejadian ini.”
Ibu Rahmat langsung menuju kamar Ningsih. Rahmat mengikuti ibunya dari belakang. Dengan kasar, ibu Rahmat membuka pintu kamar. Terlihat Ningsih duduk di tepi tempat tidur. Wajahnya basah oleh air mata. Matanya sembab akibat terlalu banyak menangis. Ningsih terkejut melihat ibu mertuanya yang tiba-tiba memasuki kamar.
Ningsih mendekat dan hendak mencium tangan mertuanya. Tetapi…..
“Tak perlu kau mencium tanganku!! Tidak ada gunanya!! Engkau sudah membunuh cucuku!!! Kebanggaanku yang paling aku sayangi!! Mengapa kau tega lakukan semua ini???” Ibu Rahmat berteriak pada Ningsih.
Mendengar kegaduhan dalam kamar, ayah ibu Ningsih ikut memasuki kamar. Dan mereka berdua sangat cemas dengan kejadian yang ada di depan mata. Namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa untuk melindungi anaknya. Mereka sepenuhnya sadar bahwa Ningsih telah menjadi tanggung jawab Rahmat suaminya.
“Ibu, Ningsih mohon…Maafkan Ningsih… Ningsih bukan orangtua yang baik, Bu…” Ningsih bersimpuh di kaki ibu mertuanya.
“Memang..!! Kau memang bukan orangtua yang baik…!! Kau itu jadi isteri tidak becus! Sekian lama tak bisa berikan keturunan untuk anakku. Eeehh, setelah diberi keturunan, juga tidak bisa jadi ibu yang baik untuk anaknya sendiri..!! Kau bisanya hanya membuatku dan anakku sakit hati!!!” Sang ibu mertua berkata sambil terengah-engah.
“Padahal engkau harusnya bersyukur!! Engkau bisa  dapatkan suami sebaik anakku!!” Ibu Rahmat terlihat sangat kesal dengan Ningsih. Kekesalannya memuncak hingga membuatnya tidak menyadari kehadiran orangtua Ningsih,  yang  sudah berada dalam ruangan itu.
Sedih sekali rasanya orangtua Ningsih,  melihat ibu Rahmat murka kepada anaknya dengan membabi buta. Mereka mencoba bersabar sekaligus berdoa yang terbaik untuk Ningsih.
Dan alangkah terkejutnya Rahmat ketika ia melihat sang ibu sepertinya hendak menampar Ningsih. Reflek ia berlari, menabrak tubuh Ningsih dan memeluknya. Alhasil seketika tamparan sang ibu tepat mengenai punggungnya. Sakit rasanya.
“Ibu, aku mohon…Jangan tampar Ningsih, Bu..Tamparlah akuuu…Aku yang paling bersalah dalam hal ini, Ibu…Pukullah aku sebanyak yang ibu mau..Biar hati ibu lega…Ayo, Bu lakukan saja…” Rahmat memejamkan mata.
Hening seketika dalam ruangan itu. Tiba-tiba terdengar suara tangis. Ibu Rahmat terduduk di lantai sambil menangis.
Rahmat sangat kasihan melihat ibunya. Dalam hati ia memahami apa yang dirasakan wanita kebanggaannya itu. Sekian lama mendambakan seorang cucu,  namun ia hanya bisa menikmatinya dalam waktu singkat.
Diam-diam Rahmat mendekat. Duduk di hadapan ibunya. Ia peluk ibunya. Sementara orangtua Ningsih berjalan perlahan mendekati,   dan mencoba menenangkan putrinya.
“Ibu, aku sangat mengerti apa yang ibu rasakan. Aku  bahagia melihat ibu sangat mencintai Satria. Tetapi untuk saat ini ada yang lebih mencintainya, Bu. Allah SWT. Pemilik Satria yang sesungguhnya.” Rahmat berkata kepada ibunya. Tetes air mata mulai membasahi pipi tua itu.
“Ibu boleh melampiaskan kemarahan pada kami berdua. Bahkan ibu berhak membunuh kami demi meluapkan amarah. Tetapi apakah hal itu akan membuat Satria terbangun dari tidur abadinya? Apakah itu akan membuatnya kembali pada kita? Tidak, Ibu. Ia tidak akan kembali. Ia tidak suka melihat ini semua, Bu. Ia saat ini hanya membutuhkan doa kita. Dan ketegaran kita menerima kepergiannya.” Ibu Rahmat semakin tak kuasa menahan tangisnya.
“Ibu adalah wanita terhebat yang pernah aku miliki. Dari ibulah aku belajar menjadi laki-laki yang bertanggung jawab. Inilah bentuk tanggung jawabku sebagai pria, suami dan kepala keluarga. Aku menerima dengan ikhlas,  bahwa semua yang terjadi pada Satria, adalah sepenuhnya kesalahanku. Bahwa aku belum bisa menjadi suami yang baik. Aku belum bisa menjadi pemimpin yang baik dalam keluargaku.” Rahmat masih memeluk ibunya.
“Jadi kumohon, Ibu. Maafkanlah kami berdua. Doakan kami, agar kuat dalam menerima semua ini. Doakan semoga ujian ini menjadi pelajaran hidup terbaik dalam hidup. Maukah ibu memaafkan kami?” Rahmat memandang kedua mata ibunya yang sembab itu.
Mata teduh Rahmat dan semua kata-katanya seketika membuka mata hati sang ibu.
“Iya, Nak. Ibu memaafkan kalian. Ibu juga minta maaf karena….”
“Sudah, Ibu.. Hentikan..Kami berdua sudah sangat bahagia,  ibu sudah mulai ikhlas menerima kejadian ini.” Rahmat memeluk sang ibu.
“Ningsih, kemarilah Nak. Peluklah ibu.” Ibu mengisyaratkan pada Ningsih untuk mendekat.
Ningsih tak kuasa lagi menahan air matanya. Ia mendekat dan langsung memeluk ibu mertuanya. Kedua wanita itu berpelukan. Tanpa kata tapi dengan penuh kasih sayang. Segala dendam sudah musnah. Yang ada hanya kasih sayang ibu dan anak demi menatap masa depan. Orangtua Ningsih bersyukur. Pada akhirnya dua manusia yang sedang berseteru ini mampu berdamai.
“Sayang, ayo kita ke ruang tengah. Kita harus segera mengantar anak kita ke tempat peristirahatannya.” Rahmat membantu Ningsih dan juga ibunya untuk berdiri.
Dan tak lama mereka pun bersiap melakukan prosesi pemakaman Satria.

1 thought on “Kesatria Hati (Episode Dua Belas)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *