Kesatria Hati (Episode Tiga Belas)

Satu bulan telah berlalu setelah kepergian Satria. Ningsih masih terlihat sangat terpukul. Sering ia menyendiri dan menangis. Dalam beraktivitas pun ia sering kali tidak fokus.
Rahmat merasa sangat kasihan dengan isterinya ini. Ia paham jika Ningsih merasa sangat bersalah atas kepergian Satria. 
Suatu malam mereka berdua duduk di teras rumah mereka yang sejuk.
“Sayang, jangan bersedih terus menerus. Satria tidak ingin melihat ibu yang sangat mencintainya bersedih.” Rahmat menggenggam tangan Ningsih.
“Iya, Mas aku tahu. Aku tidak bersedih. Aku sedang memanjatkan doa untuknya.” Ningsih berkata sambil menghapus air matanya. 
“Alhamdulillah…Lebih baik begitu, Sayang. Doakan anak kita setiap saat. Yakinlah, suatu saat nanti kita akan bertemu lagi dengannya.” Rahmat menatap dalam-dalam mata Ningsih.
“Mas…..aku ingin berterimakasih padamu.”
“Untuk apa, Sayang?” 
“Engkau telah memberikan kasih sayang yang tak pernah pudar oleh apapun. Engkau selalu membelaku, juga menyayangiku dengan caramu yang indah. Engkau sudah menjadi pemimpinku yang terbaik dalam hidup ini. Engkau juga sudah membuatku berdamai dengan ibu. Rasanya ungkapan terimakasihku ini, tak sebanding dengan apa yang telah kau lakukan untukku.” Ningsih kembali meneteskan air mata.
Rahmat terharu mendengar kata-kata isteri tercintanya ini. Perlahan ia menghapus air mata Ningsih.
“Sayang, sudah cukup. Jangan kau katakan apa-apa lagi. Aku bukan manusia yang sempurna. Aku masih harus banyak belajar dalam hidup ini. Dan aku ingin sekali belajar kehidupan ini hanya denganmu, Sayang. Bersediakah engkau belajar kehidupan bersamaku?” Tatapan cinta Rahmat membuat Ningsih terharu.
“Iya, Mas. Mulai saat ini aku ingin menjadi isteri yang baik untukmu. Dan menjadi menantu yang baik untuk ibu. Aku tidak akan berjanji, Mas. Tapi aku akan berusaha melakukan apapun yang terbaik.” 
Rahmat sangat bahagia mendengarnya. 
“Alhamdulillah.” Kedua insan manusia itu berpelukan kembali dengan penuh cinta.
“Oh iya, Sayang. Bagaimana jika kau mulai menyibukkan diri lagi dengan aktivitas di kantor. Atau ikuti kegiatan apapun yang kau sukai?” Rahmat bertanya pada Ningsih.
Ningsih melepaskan pelukannya dan menghela nafas.
“Tidak, Mas. Aku sudah memutuskan untuk tidak lagi bekerja. Aku akan beralih peran sebagai isteri dan ibu rumah tangga biasa. Bukankah menurutmu, seorang wanita yang sukses adalah yang berhasil membahagiakan suami, dan mendidik anaknya menjadi orang yang baik?” Ningsih menjawab sambil tersenyum.
“Sayang, apakah engkau yakin dengan keputusanmu ini?” 
“Iya, Mas. Aku sangat yakin. Aku telah melakukan kesalahan di masa lalu. Kesatria hatiku telah pergi untuk selamanya. Semua karenaku. Aku telah banyak berdosa kepada Allah.” 
Ningsih terdiam sebentar. Lalu ia melanjutkan perkataannya.
“Dulu aku sangat memaksa Allah untuk memberikanku anak. Ternyata setelah Ia mengabulkannya, justru aku tidak mencintainya. Terbukti dengan kepergian Satria yang terjadi akibat kelalaianku. Aku lebih percaya kepada orang lain untuk menjaganya daripada diriku sendiri. Aku tak mendengarkan nasehat suamiku yang lebih peka dengan hal ini.”
“Kesalahan itulah yang akhirnya membuatku berpikir.” Aku harus memperbaiki kesalahanku. Aku tak ingin melakukan kesalahan kembali. Kesalahan ini sangat fatal dan tak bisa diampuni. Jadi aku akan memperbaiki diriku. Aku tak ingin berpikir macam-macam. Tujuanku memperbaiki diri hanya supaya Allah mengampuniku.” Ningsih berkata panjang lebar.
“Sayang, sudahlah jangan terlalu menyalahkan diri sendiri. Kesalahan terbesar ada pada diriku. Apapun kesalahan  yang terjadi dalam keluarga kita,  semuanya adalah tanggung jawabku  sebagai pemimpin. Tetapi alhamdulillah jika engkau sudah benar-benar yakin dengan keputusanmu. Apapun yang telah kau putuskan, aku akan mendukungnya, Sayang. Asalkan engkau bahagia dengan itu.” Rahmat kembali memeluk Ningsih.
**
Empat tahun telah berlalu. Ningsih sudah mulai terbiasa dengan aktivitas sebagai ibu rumah tangga. Pada awalnya memang terasa sangat sulit untuk menyesuaikan diri. Tetapi dukungan dan cinta dari Rahmat beserta keluarganya menjadi penyemangat hidupnya. 
Hingga akhirnya…….
Sudah hampir satu bulan ini, Ningsih terlambat datang bulan. Sebenarnya ia tak ingin mencari tahu apa yang menjadi penyebabnya. Tetapi entah mengapa dorongan dalam hatinya terlalu kuat untuk memintanya mengetahui, apa yang sedang terjadi pada tubuhnya.
Tanpa ragu-ragu Ningsih memberanikan diri membeli alat tes kehamilan, dan mengeceknya.  Mencoba pasrah dengan hasil tes alat tersebut. Diam-diam ia membuka mata. 
Dan…….
“Maaassss…….. Maaassss !!!!!!
“Sayang, kau mengagetkanku saja! Ada apa?” Rahmat tergesa-gesa penuhi panggilan isterinya.
“Hmmm apa Mas ingin tahu??” Ningsih mengedipkan mata menggoda suaminya.
“Memangnya ada apa sih? Buruan dong, Sayang! Aku harus buru-buru, nih.” Rahmat semakin tidak sabar.
“Oke. Baiklah. Ini… Lihatlah.” Ningsih menyerahkan hasil tes alat kehamilan tersebut.
Mata Rahmat terbelalak melihatnya.
“Sayang, kau serius?? Kau hamil lagi???” Rahmat mengguncang tubuh Ningsih.
Ningsih mengangguk dan tersenyum.
“Ya, Allah alhamdulilah. Terimakasih ya, Allah….Engkau memberikan kesempatan kedua pada kami, untuk menjadi orangtua yang baik.” 
Tiba-tiba Rahmat menarik tubuh Ningsih dan memeluknya erat. Menciumnya dengan penuh kelembutan. Ningsih balas memeluknya. Air mata bahagia menetes di pipi keduanya.
“Sayang, ayo kita shalat bersama. Sujud syukur pada Allah atas kebahagiaan ini. Kita juga kabarkan berita ini pada orangtua kita. Kita akan banyak meminta doa dari mereka.” 
Ningsih tersenyum dan mengangguk.
Dan alam di luar sana pun terasa ikut bergembira atas kebahagiaan yang mereka rasakan. 

2 thoughts on “Kesatria Hati (Episode Tiga Belas)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *