Tragedi No Comment

Beberapa hari lalu saya cukup jengkel dengan suami, yang masih saja asyik dengan gadgetnya. Padahal saat itu ia sudah memasuki kawasan rumah, yang bagi saya haram hukumnya memegang gadget. Sebab saya sendiri sudah berkomitmen pada diri sendiri, untuk tidak mempedulikan gadget, pada saat berada di rumah. Bagi saya inilah waktu untuk menikmati kebersamaan dengan si buah hati,  setelah beberapa jam lamanya tak bertemu.
Tetapi dengan acuhnya suami menjawab alasan,  mengapa dia belum bisa terlepas dari gadget. Bahkan cenderung marah jika didengar dari nada suaranya. Suami berkata “Sebentar to, Nda. Ini lho ada chatting dari pimpinan. Ayah harus meresponnya, Nda. Kalau tidak, beliau akan marah besar pada Ayah.” Dan di kakinya, anak semata wayang kami merengek meminta perhatian sang ayah.
Dalam hati merasa miris. Bertanya-tanya. Bukankah area rumah sudah menjadi tempat berkumpul dengan keluarga? Melepas rindu  setelah seharian tidak bertemu? Entahlah sampai dengan hari ini pun,  saya tak habis pikir dengan permasalahan itu.
Tetapi ternyata beberapa hari kemudian saya juga mengalami hal yang sama. Di hari itu saya ditegur oleh atasan, karena tidak pernah aktif berbicara di grup media sosial. Juga tidak pernah merespon ketika beliau menayangkan suatu berita. Dan parahnya hal itu mempengaruhi atau menjadi salah satu poin, yang bisa mengurangi performa kinerja saya di kantor. 
Astaghfirullah! Dan lagi-lagi hingga saat ini, saya tak sanggup mencari alasan pembenaran, bahwa penilaian performa kinerja seseorang juga ditentukan, dari seberapa aktifnya ia dalam merespon semua postingan yang ada di grup itu. 
Padahal menurut saya,  ada beberapa alasan yang bisa menjadikan seseorang tak merespon,  ataupun aktif dalam berinteraksi di suatu media sosial. Diantaranya :
1. Sedang berkendara. 
Bukankah sudah menjadi peraturan dari lembaga kepolisian, bahwa selama berkendara,  diharapkan pengemudi tidak menggunakan gadget atau asyik bermedia sosial? Tujuannya hanya satu. Demi keselamatan sang pengemudi itu sendiri. Coba saja bayangkan apa yang akan terjadi, ketika seseorang diharuskan segera merespon sesuatu yang ada di media sosial, sementara ia sedang dalam posisi berkendara? Kemungkinan besar ia akan celaka. Dan pastinya tak akan ada yang berempati padanya selain keluarganya sendiri.
2. Mengalami musibah.
Musibah adalah salah satu hal yang bisa terjadi kapan saja, di mana saja tanpa pernah kita duga sebelumnya. Pada saat mengalami suatu musibah, pastilah pikiran seseorang akan lebih fokus kepada permasalahannya sendiri,  dibandingkan dengan mengikuti setiap perbincangan yang ada di grup media sosial. Di mana letak hati nurani ini, ketika seseorang yang kita cintai mengerang kesakitan, namun kita lebih sibuk mengamati media sosial? Bukankah menjadi sesuatu yang aneh, ketika sibuk memberi jawaban kepada orang lain, sementara orang yang kita sayangi lebih membutuhkan doa kita?
3. Segi kepentingan. 
Ada beberapa hal atau postingan dalam media sosial yang seharusnya diperlakukan dengan cara  berbeda, tergantung dari segi tingkat kepentingan.  Sebagai contoh ada yang sifatnya bertanya atau sekedar memberi informasi. Jika postingan tersebut bersifat bertanya, maka sudah sepantasnya memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Namun jika sifatnya sekedar memberi informasi, bukan sesuatu yang salah ketika seseorang tidak meresponnya. Andaikata merasa ragu apakah si A sudah mengetahui informasi tersebut, maka hal itu sebenarnya bisa disiasati,  dengan menghubunginya secara pribadi. Sebab ada begitu banyak alasan yang menjadi penyebab, si A tersebut tidak memberikan responnya.
4. Sudah beralih peran.
Ada beberapa orang yang pada saat sudah memasuki rumah, ia betul-betul melepas semua atributnya sebagai karyawan atau pekerja. Dan itulah saatnya beralih peran sebagai orangtua, yang fokus memperhatikan kepentingan anak dan keluarga. Hal ini pun semata-mata ia lakukan agar sang anak tetap merasa diperhatikan, sesaat setelah bekerja keras seharian. Ada pula yang merasa khawatir dengan perkembangan zaman,  yang menyebabkan anak memiliki kecenderungan lebih memperhatikan gadget daripada orangtuanya sendiri. Sehingga ia berupaya keras untuk tidak menggunakan gadget di hadapan anak.
5. Kelelahan.
Adalah menjadi satu hal yang wajar, jika seseorang merasa kelelahan setelah seharian penuh bekerja keras. Terlebih ketika setiap harinya ia harus menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk sampai ke kantor dan sebaliknya. Akibatnya ia sering merasa lelah, tak sanggup membelalakkan mata, apalagi merespon semua hal yang   terjadi  di media sosial. Tujuannya hanya satu. Melepas penat dan beristirahat. Agar esok pagi lebih segar. Jika sudah demikian, apakah ia patut dipersalahkan pada saat tak merespon suatu berita?
Ya, begitulah. Setiap orang memiliki ciri khas masing-masing. Ada yang memang sangat ingin diperhatikan. Bentuknya harus  dengan merespon semua perkataannya. Tak peduli bagaimanapun caranya dan tanpa banyak alasan. Ketika semua orang yang ia harapkan merespon, maka disitulah letak penghargaan yang akan ia terima. Saat itulah ia merasa puas dan merasa dihargai. 
Namun ada pula yang tak terlalu memikirkan hal itu. Ia hanya berusaha bagaimana caranya  menyampaikan informasi kepada semua orang yang berkepentingan. Ia tak peduli seberapa banyak yang memberikan tanggapan. Dan siapa saja yang tidak menanggapinya. Baginya ia hanya wajib memberitahukan. Dan ia pun sudah cukup puas dengan hal itu.
Entahlah. Menurut saya, jika bentuk kemarahan seseorang hanya diakibatkan,  oleh tidak responnya orang lain terhadap sesuatu yang sudah ia bagikan, bisa jadi ia belum ikhlas dalam melakukan sesuatu. Terbukti orang lain harus melakukan komunikasi timbal balik sebagai bentuk kepeduliannya.
Tetapi sudahlah. Saya hanya seorang manusia biasa,  yang tidak memiliki kewenangan memutuskan ikhlas  atau tidaknya perbuatan seseorang. Tugas saya hanya berusaha menjadi orang yang baik. Orang yang belajar berbuat dan berperilaku baik kepada orang lain. 
Ketika seorang manusia  masih membutuhkan kehadiran orang lain, maka berbuat baiklah.  Bukankah sekali waktu,.  ada kalanya seseorang menjadi perantara jalan kesuksesan bagi manusia lainnya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *