Say No To Corruption

Beberapa waktu belakangan saya sangat prihatin,  dengan berita-berita tertangkapnya para pejabat tinggi, bahkan kepala daerah di negara ini,  atas dugaan kasus korupsi yang mereka lakukan.
Bayangkan saja. Sebagai salah seorang yang  diberi kesempatan mendapatkan jabatan tinggi,  dan kepercayaan dari masyarakat, tetapi justru disalahgunakan. Pada akhirnya masyarakat pun menjadi kecewa dengan perilaku mereka. Semakin tidak percaya dan masa bodoh,  dengan apa yang mereka perbuat.
Korupsi akhir-akhir ini memang menjadi salah satu sorotan publik, yang mampu menyedot perhatian masyarakat. Sebab mayoritas pelaku kejahatan ini,  notabene adalah orang-orang berpendidikan tinggi. Orang-orang yang seharusnya lebih memahami,  bahwa tindakan korupsi sangat merugikan negara pada umumnya, dan masyarakat pada khususnya.
Dan kasus   menghebohkan akhir-akhir ini adalah ketika tertangkapnya ketua lembaga perwakilan rakyat,  dalam dugaan korupsi kartu tanda penduduk elektronik,  yang telah merugikan negara dalam nominal cukup besar. Tak hanya merugikan negara saja. Kasus ini pun berdampak pada tidak terlayaninya rakyat, dalam hal mendapatkan kartu identitas penduduk resmi,  yang nantinya sangat berguna untuk mengurus berbagai keperluannya.
Korupsi sendiri mempunyai banyak definisi. Namun pada intinya adalah, suatu tindakan yang melanggar hukum, dengan tujuan memperkaya diri sendiri, orang lain, atau perusahaan,  sehingga berakibat pada kerugian negara. Dari definisi tersebut, maka bisa dikatakan bahwa korupsi memiliki beberapa bentuk seperti berikut ini :
  1. Korupsi berbentuk penyuapan, atau menerima suap, dari dan oleh pihak tertentu.
  2. Korupsi berbentuk penipuan, atau pencurian sumber daya.
  3. Korupsi berbentuk manipulasi data, demi mendapatkan keuntungan.
  4. Korupsi dengan cara meminta uang, disertai paksaan dan intimidasi.
  5. Korupsi yang berbentuk penyalahgunaan kekuasaan.
  6. Korupsi yang dilakukan bersama-sama, karena terdapat ikatan kekeluargaan atau pertemanan. 
Sehingga bagaimanapun bentuk korupsi yang dilakukan,  maka jelaslah hal itu sangat berdampak pada kehidupan masyarakat. Maka untuk itulah sangat diperlukan upaya bagi setiap orang,  untuk menghindarkan dirinya dari perilaku korupsi ini. Seperti : 
  1. Selalu bersyukur. Sikap dan perilaku yang selalu bersyukur,  akan menghindarkan diri dari pemikiran selalu merasa kurang dalam hidup. Cobalah untuk tetap bersyukur meskipun hanya memiliki sebuah motor, daripada cuma bisa berjalan kaki. Bersyukurlah akan rumah tinggal yang sederhana,  daripada tak memiliki tempat berteduh. Semakin besar rasa syukur, akan meminimalisir keinginan,  untuk memiliki harta lebih banyak lagi. 
  2. Belajar mengatur waktu. Meskipun sepele,  tetapi berusaha mengatur waktu dengan baik akan menjadi salah satu upaya,  untuk belajar menghindarkan  diri dari korupsi. Setidaknya dalam hal korupsi waktu. Caranya gunakan waktu lebih banyak, untuk hal-hal yang bermanfaat. Jangan membuang waktu atau menunda satu pekerjaan,  yang sebenarnya bisa dilakukan saat itu juga. Jika tak terbiasa dengan hal ini,  maka niscaya akan sering kebingungan mencuri waktu dari aktivitas lain,  untuk melakukan hal yang tertunda tersebut.
  3. Perdalam pemahaman agama. Agama telah mengajarkan,  bahwa korupsi adalah tindakan tak terpuji,  yang akan sangat merugikan diri sendiri dan keluarga. Bahkan agama dengan sangat gamblang menggambarkan,  hukuman apa yang akan diterima oleh seorang koruptor,  di hari pembalasan nanti. Ilmu agama akan mengajarkan, bagaimana dan apa yang harus kita lakukan,  demi menghindari korupsi. Seperti selalu mengingatkan untuk selalu membersihkan harta, dengan membelanjakannya di jalan kebaikan. Betapa ajaran agama juga mengajarkan, untuk selalu bersedekah, agar hati memiliki kepekaan terhadap sesama. Bahwa jauh di luar sana, masih banyak manusia,  yang serba kekurangan. Dengan sering melihat kondisi orang lain, akan berpotensi melembutkan hati, sehingga keinginan untuk merasa lebih dibandingkan orang lain,  akan mampu diminimalisir.
Sepandai-pandainya seorang pelaku korupsi menutupi perbuatannya,  yakinlah suatu saat kejahatan tersebut,  cepat lambat pasti akan terbongkar. Dan pastinya hal itu akan berdampak pada kondisi psikologi diri sendiri,  maupun kehidupan sosialnya. Jadi mulai sekarang,  yuk Say No To Corruption!

#onedatonepost
#nonfiksi
#artikelviral2

12 thoughts on “Say No To Corruption”

  1. Membaca ini, saya jadi teringat perkataan salah satu dosen. Yang intinya menyebutkan bahwa negara bisa hancur bukan karena orang bodoh tetapi karena orang pintar.
    Ya, tentunya yang pintar intelektual tapi spritualnya nol besar.
    Karena kepintaran intelektual harus diiringi dengan kecerdasan spritual agar ilmu yg tinggi tidak menghancurkan tetapi membangkitkan dan menumbuhkan.

  2. Tanpa disadari karyawan, dosen,para medik maupun profesi lainnya bisa melakukan korupsi mbak.

    Yang sering dilupakan adalah korupsi waktu. Sudah waktunya masuk kantor, dikarenakan kenyangan ditundalah masuk kantor. Jikapun sudah didalam ruangan tidak langsung berggegas bekerja masih asik ngobrol sana-sini.

    Bisa juga sdh masuk jam mata kuliah pendidik belum hadir, masih ada diruangan sedang bercengkrama dengan teman sejawat dan seprofesi.
    Begitupun lainnya, ini cukup menjadi perhatian agar hidup lebih baik lagi.

    Oh iya ada juga korupsi lainnya seperti ngeprin tulisan bukan untuk urusan kantor tapi urusan pribadi walau cuma 1 lembar, ini korupsi.

    1 lembar itu akan ditanya loh nanti di hari persaksian/penghisab.

    Say no curruption..

  3. Korupsi atau kecurangan itu terjadi karena mereka tidak sadar bahwa selalu ada malaikat yang mencatat perbuatan baik dan buruk mereka. Dan mereka tidak tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan di dunia ini akan dimintai pertanggung jawabannya.

  4. Benar, pendidikan salah satu tempat pembentukan karakter masyarakat. Miris kalau denger masih ada sekolah yyang anak didiknya malah dianjurkan 'berbagi' saat ujian dilakukan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *