Film Sleepers, Gambaran Kelam Kehidupan di Balik Penjara

                          
              Sumber gambar :google.com
Sebagai seseorang  berkepribadian sedikit melow, jujur saya termasuk orang yang mudah menangis. Terlebih ketika membaca buku atau menonton film. Namun meskipun mudah sekali terbawa perasaan, tetap saja saya menyukai buku, atau film dengan genre drama yang menguras air mata.
Terkait film, salah satu yang sampai sekarang membekas di hati saya adalah Sleepers. Film ini tergolong  edisi lama, karena rilis di tahun 1996, semasa saya kuliah. Dan jujur film ini saya masih ingat betul jalan ceritanya.
Film yang disutradarai oleh Barry Levinson ini, diangkat dari kisah nyata seorang  Lorenzo Carcatera. Penulis buku yang juga menjadi judul film ini.
Film Sleepers ini selain jalan ceritanya mengharukan, tak bisa dipungkiri bahwa daya tarik film ini,  juga terletak pada para pemerannya yang terkenal sebagai aktor watak, dan pernah meraih Piala Oscar, yaitu penghargaan tertinggi insan perfilman dunia. Katakanlah seperti Robert de Niro dan Dustin Hoffman.
Berkisah tentang empat orang anak bernama Michael, Shakes, John dan Tommy yang tinggal di kawasan kumuh bernama Hell Kitchen. Kehidupan  di lingkungan serba keras, membuat mereka sering berbuat kenakalan-kenakalan khas remaja.
Dan tak disangka kenakalan yang diperbuat  hari itu,  membawa mereka dalam peristiwa yang mengerikan. Empat anak tersebut mencuri sebuah gerobak penjual hot dog,  dan membawanya kabur. 
Ketika melewati sebuah belokan jalan, mereka tak bisa menahan laju gerobak. Gerobak itu terlepas dari kendali mereka, dan menabrak seorang kakek tua. Akibatnya kakek tersebut mengalami cedera cukup parah. Alhasil mereka pun menjalani masa hukuman dalam penjara anak-anak. 
Selama di dalam penjara, sejatinya mereka berempat menyesal, dan berharap mendapatkan bimbingan untuk menjadi lebih baik. Tetapi faktanya justru mereka mendapatkan kenyataan pahit.
Mereka harus menghadapi kekejaman seorang sipir penjara bernama Sean Nokes. Hampir setiap hari mereka mendapatkan perlakuan kejam dan tak senono,  dari Sean Nokes termasuk perkosaan. Hingga akhirnya memberikan trauma mendalam bagi empat anak remaja ini.
Beberapa tahun kemudian mereka bebas dari penjara tersebut. Waktu terus berlalu. Mereka pun tumbuh semakin dewasa dan memilih jalan hidup masing-masing.
Michael memilih berkarir sebagai seorang jaksa negara.  Shakes bekerja sebagai wartawan. Sedangkan  John dan Tommy memilih jalan menjadi anggota geng jalanan.
Suatu ketika John dan Tommy bertemu kembali dengan Sean Nokes yang sedang mabuk di sebuah cafe. Mereka teringat kembali dengan trauma  masa lalu. Hingga akhirnya  dengan gelap mata, mereka berdua menghabisi nyawa Sean Nokes demi membalaskan dendam.
Akibatnya John dan Tommy kembali terancam hukuman penjara. Cobaan  bagi persahabatan mereka berempat harus diuji manakala dalam kasus tersebut, Michael bertindak sebagai jaksa, yang bertugas membuktikan kejahatan  mereka berdua.
Namun sejatinya Michael tak ingin kedua sahabatnya ini, kembali mendekam dalam penjara. Berdua dengan Shakes ia mencari seorang pengacara untuk membantu sahabatnya ini. Pengacara tersebut akhirnya mereka temukan. Pengacara yang sering mabuk-mabukan, namun terkenal sangat pintar.
Di masa penentuan persidangan dan pengambilan keputusan, akhirnya John dan Tommy terbebas dari segala hukuman,  berkat bantuan seorang pendeta,  yang selalu menjadi tempat mereka mencurahkan isi hati  sejak kecil. Pendeta itu rela berbohong dan melanggar sumpahnya dengan mengatakan bahwa pada saat kejadian, John dan Tommy sedang menonton pertandingan baseball bersamanya. Pendeta tersebut melakukannya   demi menyelamatkan John dan Tommy, karana sangat yakin mereka berdua sebenarnya, tak memiliki niat membunuh sipir penjara tersebut.
Harus diakui film ini sangat menguras air mata. Terlebih para pemerannya sangat pas memerankan tokoh-tokoh  di dalamnya.
Robert de Niro yang berperan sebagai pendeta, teman terbaik empat sekawan tersebut, sangat pas memerankan sosok orang  bijak.
Sedangkan Dustin Hoffman, aktor yang pernah memenangkan Piala Oscar, juga terlihat sangat menjiwai perannya sebagai pengacara pemabuk,  tetapi sangat cerdas menelaah sebuah kasus.
Selain Robert de Niro dan Dustin Hoffman, ada pula si tampan Brad Pitt yang berperan sebagai Michael si jaksa negara.  Jika saya ingat kembali sepertinya inilah awal karir seorang Brad Pitt berperan dalam sebuah film,  sebagai salah satu tokoh utama.
Si bengis Sean Nokes sangat cocok diperankan oleh Kevin Bacon. Dari garis wajahnya  yang keras, saya sampai benar-benar terpengaruh dan beranggapan, bahwa ia memang memiliki watak yang kejam.
Film ini pun diramaikan oleh kehadiran aktor Jason Patric,  yang berperan sebagai Shakes si wartawan, serta Minnie Driver yang berperan sebagai Carol, satu-satunya sahabat perempuan, yang selalu memberikan perhatian pada empat sahabat ini.
Meskipun tergolong lama, namun film ini mampu memberikan kesan mendalam di hati saya hingga saat ini. Menurut saya film ini memiliki kualitas, dan pembelajaran yang sangat baik. Bahwa apapun dan bagaimanapun kehidupan yang dijalani, tetaplah menjadi orang baik. Jangan sekali-kali mencoba bermain api. Karena hal itu cepat atau lambat,  akan membawa diri menuju jurang kehancuran.
#onedayonepost
#nonfiksi
#review film

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *