Jadilah Pribadi yang Dewasa dengan Menikah

                               
Saya sebenarnya,  termasuk orang yang kurang menggemari tayangan gosip selebriti di stasiun televisi. Tetapi entah mengapa,  beberapa hari ini mata saya tertumbuk  pada berita televisi,  yang menginformasikan berita cukup viral dalam dua pekan ini.
Dan berita viral tersebut terkait pernikahan sepasang anak manusia. Putri dari seorang pengacara terkenal, dengan pria yang menurut saya,  memiliki kelebihan dalam pengetahuan agama. Menikah di usia muda,  yang tak semua orang sanggup melakukannya. Namun sayangnya pernikahan tersebut,  harus menghadapi kenyataan pahit. Biduk rumah tangga mereka harus terhempas di tengah jalan. Di usia pernikahan yabg baru menginjak usia tiga bulan.
Tak ayal lagi berita karamnya pernikahan dua anak muda itu,  mendadak menjadi viral di semua stasiun televisi. Dalam waktu singkat meledak, menarik perhatian banyak orang untuk berkomentar, mencibir, simpati dan entah apa lagi yang mereka utarakan.
Alhasil pihak-pihak yang terlibat di dalamnya menjadi berseteru, saling mencaci dan membenci. Bukannya mencari jalan keluar terbaik untuk mengatasi masalah besar ini, tetapi justru saling mengumbar aib masing-masing.
Pada dasarnya menikah di usia muda adalah pilihan hidup seseorang. Jika ia merasa siap mengarungi bahtera rumah tangga beserta segala konsekuensinya, maka menikah menjadi satu  hal yang baik,  dalam menghalalkan hubungan dengan lawan jenis. Namun tidak semua orang mampu melakukan dan melewatinya. Mayoritas tak tahan dengan dahsyatnya ujian dalam rumah tangga, dikarenakan masih mengedepankan ego masing-masing.
Sejatinya rambu-rambu apa sih,  yang perlu direnungkan oleh setiap pasangan yang menikah,  agar rumah tangganya berjalan baik dan bahagia?
  1. Saling menghormati. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah saling menghormati. Hormatilah pasangan yang mungkin memiliki perilaku,  atau kebiasaan yang berbeda. Sepanjang perilaku atau kebiasaannya itu  tidak mengganggu orang lain. Akan tetapi jika sebaliknya,  maka boleh saja mencoba mengubah perilaku tersebut. Tentunya dengan cara yang baik, dan tak menyinggung perasaan. Pihak yang diberi masukan pun harus bisa menerima kritik dan saran,  jika memang hal itu demi sebuah perbaikan.
  2. Perlakukan sesuai posisi. Ada beberapa posisi dalan kehidupan rumah tangga. Yaitu ayah sebagai kepala keluarga. Ibu sebagai ibu rumah tangga, juga anak-anak. Sebagai kepala keluarga, seorang ayah harus berusaha memenuhi semua kebutuhan dalam keluarga. Sehingga ia harus bekerja keras untuk mewujudkannya. Sedangkan  ibu bertanggung jawab dalam mengurus rumah, merawat anak,  serta melayani suami. Akan tetapi ada kalanya seorang suami tak bisa lagi memenuhi kewajibannya. Misalnya dikarenakan sakit,  atau tidak bekerja. Meskipun demikian semua anggota keluarga tetap harus memperlakukan ayah,  sebagai seorang imam dan  kepala keluarga. Jangan serta merta meremehkannya, karena apapun yang terjadi ia tetaplah pemimpin  dalam keluarga.
  3. Saling melengkapi. Manusia adalah ciptaan Yang Mahakuasa  dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Sebagai sepasang manusia yang telah memutuskan untuk hidup bersama selamanya, maka hendaklah selalu menerima apapun kelebihan dan kekurangan pasangan. Lengkapi dan terima bagian yang kurang,  dan syukuri kelebihannya, agar rumah tangga terhindar dari rasa kurang bersyukur, terhadap semua yang telah diberikan.
  4. Tutupi aib. Fenomena yang terjadi saat ini, bahwa semua orang mudah sekali menceritakan seluruh isi hatinya melalui media sosial. Entahlah apa yang menjadi tujuannya. Apakah ingin menarik perhatian  orang lain, atau hanya sekedar ingin eksis atau pencitraan. Akan tetapi sungguh bukan hal yang bijak,  ketika rumah tangga yang sedang bermasalah, seketika itu juga diungkapkan dalam bentuk curahan hati di media sosial. Hal ini justru memancing suasana bertambah keruh. Bukan tidak mungkin orang lain akan semakin menghujat dan menyalahkan. Alhasil masalah tidak akan selesai, tetapi justru menambah persoalan baru yang belum tentu ada penyelesaiannya.
  5. Kedepankan solusi. Hal kelima yang harus diperhatikan adalah kedepankan solusi. Sebagai manusia kita pasti memiliki ego dalam mempertahankan pendapat. Terlebih jika masing-masing merasa benar dengan pendapatnya tersebut. Namun perlu disadari bahwa pendapat tersebut,  tidak selamanya merupakan solusi dari suatu permasalahan. Sehingga perlu meredam diri untuk tak memaksakan kehendak. Diperlukan satu kesadaran, bahwa menghadapi masalah adalah dengan mencarikannya solusi terbaik, yang mampu memuaskan semua pihak. Meskipun hal itu bukanlah berasal dari pendapat yang kita kemukakan.
Mengarungi biduk rumah tangga merupakan salah satu cara untuk membuat pribadi menjadi lebih dewasa. Tak ada salahnya membina rumah tangga di usia muda. Asalkan memiliki kesiapan lahir dan batin, untuk menghadapi semua permasalahan. Jadi menikah di usia muda, why not?
#onedayonepost
#nonfiksi
#artikelviral

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *