Uncategorized

Bagaimana Ketika Resign Bukan yang Menjadi Pilihan?

pixabay.com

Memutuskan untuk resign setelah sekian tahun lamanya bekerja, nyatanya sanggup membuat seseorang berada di posisi yang sulit. Salah satu teman baik pernah berkata “Mbak, ojo kesusu resign, yen durung duwe aktivitas liyo. Mengko biso jetleg.” Yang tak memahami bahasa ini, baiklah akan saya terjemahkan.😂 Artinya “Mbak, jangan terburu-buru resign, kalau belum punya aktivitas baru. Bisa jetleg nanti.”

Ya, wajarlah demikian. Sebab dengan resign, seseorang harus rela menerima resiko kehilangan penghasilan, kesibukan, serta keseruan dunia kerja lainnya. Untuk itu jika benar-benar memutuskan resign, segala sesuatunya memang harus dipersiapkan sedini mungkin. Terutama mental menghadapi tekanan. Tak jarang juga harus ikhlas menerima komentar nyinyir dari bisik-bisik tetangga atau saudara. Maklumlah jika di zaman sekarang, wanita pekerja serasa jauh lebih terhormat, dibanding yang memilih menjadi ibu rumah tangga biasa.

Sehingga bukan hal yang aneh lagi, ketika seseorang terutama perempuan, ada yang terus bertahan dengan pekerjaannya. Ia sanggup kehilangan kesenangan dirinya, demi keluarga dan orang-orang yang sangat ia cintai. Juga tetap ikhlas menerima turunnya kondisi kesehatan, akibat bekerja terlalu keras tanpa mempedulikan fisiknya.

Entahlah. Pada dasarnya setiap orang memiliki pola pikir, keinginan, dan harapan yang berbeda-beda. Ia juga  berhak memutuskan kehidupannya sendiri, tanpa campur tangan orang lain. Sedangkan orang lain hanya bisa memberikan saran dan nasehat, namun tak boleh memaksakan kehendak.

pixabay.com

Beban Keluarga Ada di Pundak Saya.

Seorang teman wanita  mengajak berdiskusi tentang keputusan resign yang saya ambil. Singkat ceita ia berkata, bahwa untuk saat ini, si teman belum berani mengikuti jejak yang sama. Padahal kondisi hatinya sudah sangat menginginkan resign.  Sebab ia mulai merasa bersalah terhadap sang anak, yang hampir setiap hari ditinggalkan, demi sebuah pekerjaan. Usut punya usut, ternyata kondisi perekonomian keluarga, yang membuatnya harus bertahan. Dengan kondisi pasangan yang berpenghasilan tak tetap, alhasil ia pun harus rela bekerja dengan harapan, penghasilan tetapnya, akan mampu mencukupi semua kebutuhan. Hal ini juga yang menjadi alasan seorang single parent tetap bertahan dengan pekerjaannya. Tak lain untuk tercukupinya semua kebutuhan. Sehingga wajar saja jika orang-orang seperti ini, masih harus terus bekerja, sebab beban berat keluarga ada di pundaknya.

Idealisme.

Beberapa orang ada yang memiliki idealisme tinggi, terhadap sebuah pekerjaan.  Baginya pekerjaan adalah status sosial, yang sanggup mengubah pandangan orang lain terhadap dirinya. Seperti yang pernah saya dengar dari kisah seorang teman. Pada saat memutuskan resign, dalam sekejap ia sudah menjadi bahan olok-olok para tetangga dan saudara. Ada yang mengatakan, sayang sekali menempuh ilmu setinggi mungkin, tapi ujung-ujungnya ke dapur juga. Ada pula yang membanding-bandingkan dengan orang lain, yang terlihat lebih keren dengan seragam kerjanya. Alhasil meskipun banyak faktor yang menjadi alasan seseorang untuk bisa resign, tapi tak kunjung ia lakukan. Demi sebuah pengakuan dan idealisme, bahwa bekerja adalah salah satu cara menunjukkan status sosial.


pixabay.com

Saya Masih Bisa Mengatur Waktu.

Mengatur waktu dengan baik, adalah salah satu aktivitas yang sangat sulit dilakukan. Kecuali bagi orang-orang yang terbiasa. Padahal Allah Swt sendiri telah mengingatkan manusia, tentang pentingnya mengatur waktu.

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr).

Nah, bagi seseorang terutama wanita, yang memiliki manajemen waktu sangat berantakan, jelas pada akhirnya merasa kesulitan. Ia akan kebingungan mengatur waktu, antara kesibukan di kantor, dan mengurus keluarga. Pastilah ada salah satu yang akan menjadi korban. Dan sungguh, seringkali keluarga yang tak terurus. Inilah yang akhirnya menyebabkan seseorang mengambil langkah resign dari pekerjaan. Namun beda halnya jika telah terbiasa mengatur waktu. Ia akan terbiasa melakukan segala sesuatunya dengan rapi dan terorganisir. Sehingga tahu kapan waktunya bekerja, dan bila mana harus mengurus keluarga. Terlebih jika ia juga sudah mengajarkan anak-anaknya, untuk ikut belajar mengatur waktu. Alhasil ia tak akan pernah berpikir untuk mengakhiri karirnya secepat mungkin.

pixabay.com

Tenang, Ada Bala Bantuan.

Pernahkah Anda perhatikan, bahwa fenomena yang terjadi saat ini adalah, banyaknya orangtua pekerja, yang menitipkan anak-anaknya pada kakek neneknya? Mengingat sulitnya mencari asisten rumah tangga yang jujur dan kompeten sekarang ini, membuat beberapa orangtua berpikir, lebih baik menitipkan sang anak pada kakek neneknya. Dengan dalih agar kakek neneknya terhibur dengan kehadiran cucu di rumah serta alasan kemanan, jelas hal ini membuat orangtua tetap bisa bekerja, dan tak perlu mengajukan resign. Namun bagi orang yang memahami, bahwa tak pantas rasanya membebani orangtua lagi, dengan tugas menjaga cucu, maka ia akan lebih memilih resign demi mengurus anak-anaknya.

Masih Ada Tanggung Jawab Hutang.

Masih memiliki kewajiban membayar hutang, juga menjadi salah satu alasan seseorang, mengurungkan niatnya untuk resign. Terlebih jika hutang tersebut dalam jumlah besar yang ia gunakan untuk membeli rumah atau mobil. Pastilah sejauh ini ia selalu berhitung untung ruginya, jika ia mengajukan resign atau tidak. Setidaknya ia akan berpikir, cukupkah penghasilan dari pasangan saja, untuk memenuhi kebutuhan sekaligus membayar hutang? Jika tidak, pastilah ia akan mempertahankan pekerjaan dengan segala resikonya.

Terbentur Usia dan Kriteria.

Bagi seseorang yang bekerja di perusahaan dan kebetulan sedang dalam masalah, otomatis ia akan mencari peluang di tempat lain, dan sedapat mungkin segera angkat kaki dari pekerjaan lamanya. Tetapi faktanya tak semudah membalikkan telapak tangan. Sudah menjadi ketentuan sejak lama, bahwa sebuah perusahaan, pasti mencari karyawan dengan kriteria lulusan terbaru, usia muda, enerjik, serta memiliki kemampuan di atas rata-rata. Nah, inilah yang menjadi kendala tersendiri, bagi orang-orang yang ingin berpindah pekerjaan, namun terbentur kriteria tersebut. Sehingga mau tak mau ia akan terus bertahan dengan pekerjaan lamanya.

pixabay.com

Saya Tak Tertarik Keluar dari Zona Nyaman.

Sudah bukan rahasia lagi, jika berbisnis menawarkan surga dunia, melebihi penghasilan yang didapat seorang pekerja kantoran. Terlebih bisnis yang berbasis Multi Level Marketing atau MLM. Penghasilan dan bonus hasil bisnisnya sangat fantastis, sehingga beberapa di antaranya mampu mencapai kekayaan berlimpah. Bagi yang sudah jenuh dengan rutinitas pekerjaan kantor, dan ingin terbebas darinya, ia akan melirik bisnis sebagai lahan baru untuk mencari penghasilan. Namun bagi yang merasa sulit move on, tak berbakat, atau tak menyukai bisnis, sudah tentu akan memilih lebih baik bertahan di zona nyamannya. Bekerja di kantor dengan aktivitas rutin yang monoton.

Keputusan untuk resign atau tidak sekalipun, bukan jaminan seseorang dapat mencapai apa yang menjadi tujuan hidupnya. Maka yang terbaik adalah, tetapkan tujuan, dan fokus pada langkah untuk mencapainya. Selebihnya berdoa memohon yang terbaik pada Yang Mahakuasa.

Saya ibu rumah tangga yang ingin bercerita, berkisah dan belajar lewat sebuah tulisan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *