Uncategorized

Belum Menjadi Penulis Profesional, Di Mana Letak Kesalahannya?

Tiba-tiba saja saya tersenyum sendiri. Melihat hasil kreasi foto yang saya buat melalui sebuah aplikasi. Singkat cerita dalam foto tersebut tertulis, bahwa saya adalah seorang writer dan blogger. Saya tulis atas kesadaran diri sendiri lho😁.  Sungguh kepercayaan diri yang di luar batas, kawans!  Hihihi😂.

Namun tak lama kemudian saya seperti heran sendiri. Berpikir bahwa berani benar menyebut diri sendiri sebagai seorang writer dan blogger. Tak lain dan tak bukan, karena secara fakta saya belum menghasilkan sebuah buku hasil karya sendiri. Ataupun sebagai blogger, saya pun masih amatir. Belum terjun sebagai blogger profesional,  yang sudah meraup pundi-pundi uang dari aktivitas menulis blog. 

Sejatinya saya sudah menyukai aktivitas menulis sejak masa sekolah. Di zaman dahulu kala, ketika belum digempur  oleh ramainya kemunculan gadget. Sehingga media untuk mencurahkan isi hati dan kepala tersalurkan lewat buku diary. Dengan kertas warna warni bergambar boneka atau bunga-bunga cantik dan harum baunya. (Psssst, adakah teman-teman yang mengalaminya?)😁

Nah setelah sekian lamanya,  sekarang atau lebih tepatnya tiga tahun lalu,  saya  kembali aktif menulis. Mencoba menuliskan berbagai hal berdasar pengalaman dan kejadian sekitar, hingga akhirnya menyadari bahwa saya sangat mencintai dunia menulis. Dimulailah perburuan ilmu dan komunitas, hingga membentuk branding diri sebagai penulis.

Namun,  banyak hal yang  membuat aktivitas dan branding sebagai penulis tersebut, belum terbentuk sampai saat ini. Di saat teman lain sudah mulai kencang berlari. Hiks😂. Padahal posisi saya saat ini telah resign dari perusahaan dan berada di rumah sepanjang hari, yang seharusnya memiliki lebih banyak waktu untuk menulis. Sehingga saya pun harus berpikir  keras,  mengapa oh mengapa ini bisa terjadi🤔🤔. Di manakah letak kesalahannya?

Aktivitas bekerja.
Sebelum resign saya adalah seorang karyawati. Otomatis dong kalau setiap hari harus fokus dengan apa yang menjadi tugas perusahaan. Sehingga aktivitas menulis benar-benar saya kerjakan ketika ada waktu luang seperti libur. Atau setelah menyelesaikan semua tugas kantor agar lebih fokus. Alhasil waktu untuk menulis jadi susah sekali diwujudkan.

Banyaknya keinginan.
Tak seperti teman lain,  yang sudah menemukan dunia menulis dan fokus  menjalankannya, sampai saat ini, saya masih mempunyai banyak keinginan untuk bisa produktif pasca resign.  Katakan saja seperti berbisnis,  belajar memasak, merajut dan menjahit😂. Demi bisa berpenghasilan dari rumah. Alhasil fokus pikiran menjadi bercabang,  dan sering kebingungan apa  yang harus saya kerjakan. Padahal menulis adalah kegiatan yang paling saya minati hingga detik ini dibandingkan lainnya.

Buruknya manajemen waktu.
Setelah resign otomatis alokasi waktu untuk bekerja sudah berkurang. Dengan kata lain saya hanya menghabiskan waktu di rumah. Mengurus keluarga tanpa perlu diributkan oleh jadwal finger kantor. Fokus pemikiran pun berkurang. Seharusnya saya mempunyai waktu lebih banyak untuk  menulis. Tetapi ternyata saya belum bisa membagi waktu dengan baik. Alhasil ada kalanya dalam satu hari, saya belum juga menghasilkan karya tulis😅.

Banyak bicara.
Saya juga termasuk orang yang banyak bicara. Maksudnya sering saya katakan dalam hati, pengen seperti si A yang sukses menjadi blogger. Atau duh pengen banget seperti si B yang bukunya nongkrong cantik di toko buku. Tak jarang saya menghubungi mereka, dan menanyakan resep rahasianya. Tetapi itu semua cuma saya endapkan dalam pikiran, tanpa satu pun berbuat seperti yang mereka lakukan. Kalau sudah begini lalu apa yang bisa saya hasilkan? Hiks😂.

Malas.

Ini nih salah satu faktor yang sering kali mengganggu aktivitas menulis. Kadang-kadang ketika suasana hati sedang tidak baik, saya merasakan malas sepanjang hari. Kurang bersemangat melakukan aktivitas. Jadilah menulis hanya menjadi satu keinginan,  tanpa kekuatan niat untuk  menyelesaikannya.

Kurang referensi.
Sebagai seorang penulis, salah satu hal yang wajib dilakukan  adalah terus belajar dan menambah referensi, demi menghasilkan tulisan  berkualitas. Namun pada kenyataannya, buruknya pengaturan waktu membuat saya jadi jarang membaca. Padahal  banyak membaca adalah cara efektif untuk mendapatkan ide tulisan. Terlebih jika menulis menjadi sebuah jalan berbagi manfaat atau mencari penghasilan. Otomatis mau tidak mau harus selalu menambah referensi,  agar tulisan semakin digemari dan menjadi jalan rezeki.

Sakit dan lelah.
Biasanya kalau sudah lelah apalagi sakit, saya tak bisa menyelesaikan satu tulisan. Maklumlah. Kondisi sakit membuat badan dan pikiran tidak tersambung dengan baik. Meskipun dipaksakan. Akhirnya tidak ada jalan lain selain menyehatkan badan terlebih dahulu dan menulis kembali di saat kondisi badan fit.

Ya ampun!! Ternyata banyak sekali faktor penyebab saya belum berhasil mewujudkan impian menjadi penulis profesional. Dan kalau dipikir-pikir, sejatinya semua itu bisa dirangkum dalam satu kesimpulan, yaitu saya terlalu banyak alasan!!!😭

Dan sekarang cepat atau lambat saya harus siap, hempas semua pola pikir dan tingkah laku negatif. Segera bertindak tanpa banyak alasan!! Juga harus yakin. Jika menyebut saya seorang blogger dan writer bukan sebagai pencitraan lagi 😂. Tetapi benar-benar menjadi nyata,  dengan ribuan tulisan dan buku bermanfaat,  yang bertebaran bagi sesama.

Doakan ya, temans🤗

Saya ibu rumah tangga yang ingin bercerita, berkisah dan belajar lewat sebuah tulisan.

14 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *