Uncategorized

Resign Bukan Perkara Mudah, Inilah Sepuluh Hal yang Menjadi Alasan

Entah mengapa tiba- tiba saja terlintas dalam  pikiran, jika saya ingin resign dari perusahaan. Perjalanan karir selama 14 tahun lamanya, dalam sekejap menjadi sesuatu yang tak menarik lagi utuk dilanjutkan. Dan ketika saya berkonsultasi kepada orangtua dan beberapa sahabat tentang rencana konyol ini, pada dasarnya banyak yang mempertanyakan. Ada yang menyayangkan, tak sedikit pula yang merayu untuk mengurungkan. Ada juga yang memikirkan bagaimana saya akan menjalani hari tanpa bekerja. Bahkan perusahaan juga mencoba untuk tak merespon hal ini.

Saya mencoba memaklumi tentang reaksi yang terjadi. Wajar saja banyak orang menyayangkan. Semuanya akan berakhir setelah 14 tahun lamanya. Penghasilan, status sosial, keseruan bekerja, kesempatan menambah ilmu, peluang memperbanyak teman, dan pencapaian puncak karir. Bahkan dikejar jadwal finger tepat waktu di pagi hari, dan berebut kembali di sore hari, menjadi keseruan tersendiri ketika bekerja.

Entahlah. Tetapi semakin lama, keinginan untuk resign semakin kuat. Terlebih ketika menyaksikan satu per satu teman baik, juga melakukan hal yang sama. Tentunya dengan berbagai alasan yang menyesuaikan kondisi masing-masing.

Akhirnya setelah banyak melalui sesi sharing dan mempelajarinya, ada beberapa hal yang melatarbelakangi seseorang ketika mengambil keputusan resign dari sebuah perusahaan. Dan semuanya bukan merupakan hal yang mudah.

Jenjang Karir Saya ke Arah Mana Ya?


Sejak awal bekerja di suatu instansi atau perusahaan, pasti memiliki tujuan pancapaian jenjang karir setingi-tingginya. Bagi beberapa orang, kesuksesan diukur dari keberhasilannya mencapai level tertinggi yang ada di tempat ia bekerja. Contoh jika ia bisa diangkat sebagai direktur atau manager utama. Jadi apabila seseorang belum sanggup mencapai tingkat jabatan tertinggi, bisa jadi itulah yang menyebabkannya perlahan mulai berpikir, untuk mengundurkan diri dari perusahaan. Ia akan merasakan tekanan yang luar biasa, ketika jenjang karirnya hanya jalan di tempat tanpa ada peningkatan.

pixabay.com

Saya Mulai Stress.

Semakin lama bekerja, tentunya akan membuat beban tugas dan tanggung jawab dalam perusahaan semakin meningkat. Alhasil pikiran dan tubuh sudah mulai merasakan kelelahan secara perlahan. Serangan stress juga akan  terus bertambah dari waktu ke waktu. Apalagi jika beban pekerjaan yang semakin berat ini, tak diimbangi dengan penghasilan yang sesuai. Besaran  penghasilan masih saja berkisar pada angka yang sama. Jika sudah begini, masih mungkinkah seseorang mempertahankan pekerjaannya?

Perusahaan dan Kebijakannya.

Perusahaan adalah tempat seseorang mencari penghasilan dan aktualisasi diri.  Fakta inilah yang menyebabkan perusahaan  membentuk berbagai aturan dan kebijakan, yang harus dipatuhi oleh karyawannya. Ini semua agar karyawan  tetap bekerja sesuai standar yang diharapkan perusahaan. Dan sebagai imbalannya, karyawan akan mendapatkan penghasilan sesuai hasil pekerjaannya. Akan tetapi ada kalanya perusahaan membuat suatu kebijakan, atau peraturan baru serta keputusan, yang bisa jadi tak seperti harapan semua karyawan. Sebagai contoh kebijakan pengurangan pegawai yang kurang berkompeten, demi menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan. Hal  seperti ini jelas akan membuat karyawan kurang bisa menerima keputusan perusahaan. Sehingga bagi karyawan yang termasuk dalam daftar pengurangan tersebut, jelas akhirnya mengambil keputusan resign, dan segera angkat kaki dari perusahaan.

Kurang Penghargaan.

pixabay.com

Tak semua perusahaan atau instansi bersikap obyektif, dalam menilai kinerja karyawannya. Ada yang memberikan penghargaan atas dasar kedekatan hubungan personal, atau seberapa pandai seorang karyawan menjilat atasannya, tanpa melihat prestasi yang diberikan pada perusahaan. Di sisi lain, ada beberapa karyawan yang bekerja sungguh-sungguh dan ikhlas, membawa perusahaan ke arah yang lebih baik. Namun ada kalanya karyawan seperti ini justru dipandang sebelah mata, dan dianggap tak pernah memberikan kontribusi terbaik bagi perusahaan. Jika karyawan tersebut mulai merasakan ketidak nyamanan atas kondisi ini, maka perlahan tapi pasti, ia akan memilih jalan keluar dari perusahaan, untuk mencari tempat lain, yang bisa memberi nilai lebih atas kinerjanya.

Saya Kurang Sehat.


Tak bisa dipungkiri, kesehatan adalah salah satu hal utama, yang harus menjadi prioritas dalam hidup ini. Sebab jika tubuh dalam kondisi sehat dan prima, pastilah akan mudah melakukan apapun, termasuk bekerja. Coba bayangkan saja. Ketika flu yang tergolong penyakit sederhana menyerang tubuh, niscaya penyakit ini akan sanggup mengganggu konsentrasi dalam bekerja. Tubuh akan terasa lelah, pusing dan masih banyak lagi. Otak pun akan mengirim sinyal, jika tubuh membutuhkan istirahat demi pemulihan dari penyakit. Terlebih bagi seseorang yang mengidap penyakit cukup serius. Penyakit yang membutuhkan waktu khusus  untuk memantaunya. Penyakit yang mengharuskan selalu kontrol dalam waktu yang ditentukan dokter. Pada akhirnya, mau tak mau pasti terlintas dalam pikiran, untuk lebih baik mengundurkan diri dari perusahaan dan lebih focus memperhatikan kesehatan, agar siklus pekerjaan tetap berjalan baik, dan tak menganggu profit perusahaan.

Saya sedang Bermasalah dalam Keluarga.

Ada beberapa orang yang tak bisa memilah, antara kepentingan perusahaan dan pribadi. Permasalahan kantor terbawa sampai ke rumah, atau sebaliknya permasalahan di rumah terbawa hingga ke kantor. Terlebih jika terjadi permasalahan dalam keluarga, yang sangat menguras fisik dan pikiran, seperti ketika menghadapi kejadian perceraian. Finally seseorang pun lebih memilih untuk mundur dari perusahaan, agar lebih fokus pada penyelesaian permasalahan pada dirinya. Meskipun tak bisa menjamin, berapa lama permasalahan ini dapat diselesaikan, resign akhirnya menjadi salah satu jalan terbaik, bagi diri sendiri juga perusahaan, agar semua kepentingan bisa berjalan baik.

Saya Ingin Alih Profesi.

Bukan rahasia lagi jika berbagai macam bisnis, bertaburan di kalangan masyarakat. Rata-rata bisnis tersebut, menawarkan banyak keuntungan, yang jujur sangat menggiurkan. Tak hanya itu, aktivitas bisnis yang sangat fleksibel, dan tak terikat waktu, membuat seseorang mulai beralih profesi, menjadi pebisnis, dan meninggalkan dunia perkantoran. Apalagi kemajuan teknologi yang memudahkan seseorang, menjalankan bisnis hanya dari aktif di media sosial, memaksimalkan penggunaan gadget, serta bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja. Meskipun pada awalnya harus ekstra berjuang memulainya, tetapi ketika sudah konsisten, alhasil sebuah bisnis mampu memberikan keuntungan dan penghasilan, yang tak kalah berlimpah dari pekerja kantoran dengan penghasilan tetap. Itulah sebabnya saat ini banyak orang mulai berpikir menjalankan bisnis, dibanding bekerja sebagai karyawan perusahaan. 

Sudah Waktunya Mementingkan Keluarga.

pixabay.com


Untuk alasan ini, mayoritas tercetus dari karyawan perempuan, yang sudah berkeluarga dan memiliki anak. Menjadi karyawan dan ibu rumah tangga di waktu bersamaan, tentu bukanlah pekerjaan mudah. Apabila tak bisa mengatur waktu dengan baik, pastilah ada salah satu tugas dan tanggung jawab yang terbengkalai. Jika pengaturan waktu berjalan baik, dan terbiasa menjalaninya setiap hari, sudah pasti hal ini tak menjadi masalah. Tetapi tak semua wanita mampu menjalani dua peran sekaligus. Nah, ketika dua peran tersebut tak berjalan semestinya, niscaya ia akan memilih prioritas di antara keduanya. Dan bisa jadi ia akan lebih memilih mengundurkan diri sebagai karyawan, dan mengabdikan dirinya sebagai ibu rumah tangga, dengan aktivitas baru mengurus keluarga.

Oh No, Saya Mulai Jenuh.

Ada beberapa karyawan yang dalam kurun waktu lama, sulit sekali mendapatkan penyegaran, atau hal baru dari perusahaan.  Sebagai contoh ketika ia tak pernah mengalami mutasi ke daerah atau divisi lain, atau terus berada dalam jabatannya saat ini. Layaknya kehidupan sehari-hari, yang juga membutuhkan refreshing sejenak dari segala rutinitas, maka dalam bekerja juga membutuhkan penyegaran. Tujuannya tak lain agar pikiran tidak mudah jenuh, dan terasa lebih fresh,   dengan bertemu orang baru, tanggung jawab baru, juga aktivitas yang lebih menantang. Namun ketika perusahaan tak memikirkan hal itu, seseorang bisa berpotensi jenuh dengan pekerjaaannya. Dan resign bisa jadi salah satu tujuan yang akan dilakukannya.

Wah, Sepertinya di Sana Lebih Menarik.

Bagi karyawan usia muda, jenjang karir menjadi tujuan utamanya. Segala hal akan ia lakukan demi pencapaian tertinggi dalam karirnya. Sesuai dengan jiwanya yang masih memiliki idealisme, tentang memandang arti sebuah pekerjaan. Tak hanya jenjang karir, besarnya penghasilan, menjadi tolok ukur keberhasilannya. Ia akan merasa bangga, jika di usia masih sangat muda sudah mampu berpenghasilan sendiri. Terlebih jika pekerjaannya sangat sesuai dengan harapannya. Tetapi ketika ada  perusahaan lain yang menawarkan kompensasi lebih baik, dibanding perusahaan sebelumnya, niscaya ia akan memilih hengkang, dan mencoba peruntungan di tempat baru dibanding tetap bertahan.

Bekerja merupakan salah satu cara seseorang untuk berpenghasilan, menaikkan standar hidup, serta menunjukkan status sosial di kalangan masyarakat. Namun tak selamanya semua harapan bisa tercapai sesuai keinginan. Ketika sudah tak berjalan semestinya, bisa jadi resign adalah solusi terbaik. Tentunya dengan tetap mempersiapkan diri menghadapi resiko, serta solusi pengganti   terbaik pasca keputusan resign.

Saya ibu rumah tangga yang ingin bercerita, berkisah dan belajar lewat sebuah tulisan.

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *